2 tahun lalu....
Langkah kaki Bara terhenti ketika sampai di anak tangga paling atas. Seketika matanya terbelalak kaget.
Fio tidak pergi. Karena yang sekarang Bara lihat adalah perempuan itu sedang dipeluk oleh seorang laki-laki yang sangat Bara kenali. Tapi, Fio tidak menolaknya. Dan itu yang membuat Bara semakin terluka.
"Jadi ini yang lo bilang nggak ada di rumah?"
Mendengar itu membuat Fio langsung mendorong pundak laki-laki itu ke belakang. Buru-buru Fio menghampiri Bara.
"Bara...."
"Silakan dilanjut. Sorry kalo gue ganggu."
Fio menggeleng cepat. "Aku bisa jelasin, Bar."
Sementara Bara menatap dua orang itu bergantian dengan sorot kecewa dan penuh luka. Ia merasa dikhianati.
"Sampah dan barang bekas. Lo berdua cocok."
"Bar dengerin—"
"Udah cukup, Fi!" Bara membentak Fio membuat perempuan itu terdiam. "Apa yang gue lihat udah cukup ngejelasin semuanya."
"Mulai saat ini, lo udah bukan cewek gue lagi Fi."
Bara beralih menatap laki-laki itu yang sejak tadi diam dalam kebisuannya. "Dan lo, gue rasa lo nggak bener-bener jadi temen gue. Lo pengkhianat! lo udah nusuk gue dari belakang!"
Kejadian demi kejadian lama kembali terngiang di pikirannya. Sejak pengkhianatan yang dilakukan Fio dulu, perlahan-lahan Bara mengubah dirinya menjadi pribadi yang berbeda. Albara Farren Zico yang hangat, baik, perhatian dan mudah tersenyum sudah tidak ada lagi. Bara yang dulu sudah mati. Kepergian Fio membuat Bara menjadi sulit percaya dengan sebuah hubungan. Bagi Bara, lebih baik tidak mengenal sama sekali daripada harus berakhir dengan perpisahan.
"Apa, Fi? Apa yang gue nggak punya yang dia punya?" gumam Bara lirih.
"Kasih sayang," timpal seseorang membuat Bara terkejut dan menoleh ke belakang. "Perhatian, rasa cinta, atau ... ketulusan? Mungkin itu kali ya yang belum lo punya," ujar Naiffa terkekeh geli.
"Ngapain lo di sini?" tanya Bara dingin. Ia benar-benar tidak menyadari kehadiran perempuan itu.
"Cari angin. Eh, malah ketemu orang galau," balas Naiffa sekaligus meledek Bara.
"Lo nguping?"
Naiffa melotot karenanya. "Enak aja nguping. Orang gue dari tadi di belakang lo. Lo aja yang nggak nyadar," ujar Naiffa membela diri.
Bara mendengus kasar. "Apa yang lo denger?"
"Udah lah, jangan banyak ngeluh. Malu kali sama mereka yang masalahnya lebih besar dari lo," ujar Naiffa menasehati.
"Nggak usah ceramahin gue."
Bukannya menjawab Naiffa malah berjalan menuju sofa bekas yang tergeletak di rooftop lalu duduk di sana. Sementara Bara masih berada di posisinya. Berdiri di tembok pembatas rooftop sambil menatap Naiffa bingung.
"Ngapain lo berdiri terus? udah disediain sofa itu jangan disia-siain," ujar Naiffa pada Bara.
Untuk kesekian kalinya Bara mendengus sebal. Hanya cewek nyolot itu yang berani berbicara seperti itu padanya. Lihat saja, suatu saat Bara pasti akan memberinya pelajaran lagi.
"Nggak mau duduk nih?" tanya Naiffa lagi. "Yaudah, lo ini yang capek," ujarnya.
"Bar?" panggil Naiffa karena cowok itu diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
BARA [COMPLETED]
Fiksi Remaja(SEGERA TERBIT) Albara Farren Zico, murid laki-laki dengan segudang masalah di sekolahnya. Siapa yang tidak mengenal Bara? Si troublemaker SMA Garuda yang adem dipandang mata. Tidak suka aturan, sukanya bolos, galak dan barbar seperti namanya. Tolon...
![BARA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/165023707-64-k906735.jpg)