Kehebohan pagi ini terjadi di karidor sekolah. Dari parkiran hingga menuju kelas banyak sekali pasang mata yang menatap heran dan berbisik-bisik tidak jelas,ke arah kedua remaja itu. Pasalnya sepanjang perjalanan Fio bergelayut manja di lengan Bara. Tapi anehnya tidak ada penolakan dari cowok itu. Bara tetap berjalan dengan wajah dinginnya.
Tepat di belokan koridor mereka berpapasan dengan Naiffa. Mata gadis itu tertuju pada siku Bara yang dibalut perban dan ada sedikit lecet di punggung tangan cowok itu.
"Siku lo kenapa Bar? Lo abis jatuh ya?" tanya Naiffa sedikit khawatir. Lalu tangan Naiffa terulur untuk menyentuh siku yang diperban itu, tetapi dengan cepat Bara menepisnya.
"Gak usah dipegang," ujar cowok itu dingin.
"Gue cuma mau liat luka lo, Bar. Lo kenapa sih?"ujar Naiffa.
Fio kembali bergelayut manja di lengan cowok itu. Hal ini membuat Naiffa membelalak tak percaya. Yang membuat dia semakin tak percaya adalah tidak ada penolakan dari Bara.
"Kalian berangkat bareng?"tanya Naiffa memastikan.
"Iya. Kita berangkat bareng," jawab Fio cepat.
Naiffa menoleh ke arah Bara, menanyakan kebenarannya. "Lo balikan sama Fio, Bar?"
Tidak ada jawaban dari Bara. Detik berikutnya Fio kembali bersuara.
"Iya kita balikan tadi malem ya kan Bar?" balas Fio lagi, sembari menggenggam tangan Bara.
Naiffa sangat terkejut mendengar perkataan Fio barusan. Seperti tersambar petir di pagi buta. Entah mengapa hatinya merasa sakit mengetahui kenyataan ini.
"Maksud lo apa Bar?"ujar Naiffa masih tidak mengerti. Tapi Bara masih tetap diam. "Jawab Bar!"lanjutnya sedikit keras.
"Iya gue balikan sama Fio!"tegas cowok itu, lalu melenggang pergi dari hadapan Naiffa.
"See? Bara gak mungkin milih cewek kaya lo. Buktinya sekarang kita balikan lagi," ujar Fio mencoba memanas-manasi Naiffa.
"Jadi mulai sekarang jauhin Bara!"ujar Fio lagi. Kemudian pergi menyusul Bara yang sudah berjalan duluan.
Gadis itu bergeming di tempatnya. Ia masih mencerna perkataan Bara beberapa menit yang lalu. Jika semua ini benar terjadi, Naiffa merasa dikhianati oleh Bara. Hatinya terasa perih. Pikirannya tidak bisa berpikir jernih sekarang.
|||||
Sejak Bara masuk kedalam kelas sampai Bu Dona memulai pelajaran, Rian dan Oji tidak henti-hentinya bertanya kepada Bara. Lebih tepatnya mengintrogasi cowok itu. Mereka rela berbisik-bisik dan mengabaikan materi dari Bu Dona, untuk mendapatkan jawaban dari mulut Bara.
"Woy Bar! Emang bener tadi lo berangkat bareng sama Medusa a.k.a Fio?"tanya Oji pelan.
"Kata Norman lo berangkat sama Fio. Bener Bar?"timpal Rian kepo.
Namun Bara masih tetap diam.
"Man! Woy Norman,"panggil Oji sedikit berbisik, namun yang dipanggil masih fokus memperhatikan materi yang disampaikan Bu Dona.
Oji menyobek kertas dan meremas-remasnya hingga menjadi bulatan kecil. Lalu melemparnya ke samping, tepat mengenai Norman.
Norman menoleh. "Apa?"tanyanya lirih.
"Lo tadi beneran liat Bara berangkat sama Fio?"Oji memastikan.
Norman mengangguk mengiyakan.
"Tuh kan bener!"ucap Oji refleks. Lalu mendorong pelan kursi Bara yang ada di depannya. "Kenapa lo gak cerita ke kita Bar?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BARA [COMPLETED]
Fiksi Remaja(SEGERA TERBIT) Albara Farren Zico, murid laki-laki dengan segudang masalah di sekolahnya. Siapa yang tidak mengenal Bara? Si troublemaker SMA Garuda yang adem dipandang mata. Tidak suka aturan, sukanya bolos, galak dan barbar seperti namanya. Tolon...
![BARA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/165023707-64-k906735.jpg)