Ponselmu berdering.
Dan entah kenapa, benda itu sudah lebih dulu berada dalam genggamanku.
Nama itu muncul.
Sebelum aku sempat berpikir, kau merampasnya—secepat refleks yang tak ingin terlihat.
Aku tidak tahu apa yang dia katakan di seberang sana.
Tapi aku melihatmu.
Telingamu setia mendengar, dan matamu... tidak pernah lepas dariku.
Seolah ada sesuatu yang ingin kau jelaskan, tapi tidak pernah kau ucapkan.
Hingga panggilan itu berakhir.
"Dia menyuruhmu datang, kan?" tanyaku pelan.
"Aku akan kembali."
Jawaban yang tidak pernah benar-benar menjawab apa pun.
"Jangan pergi."
Untuk pertama kalinya, aku memintamu tetap tinggal.
Tapi kau... tidak lagi seperti dulu.
Dulu, aku selalu yang kau utamakan.
Kini, tanpa perlu banyak kata, aku tahu siapa yang kau pilih.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTITLED
Short StorySebut saja cerita tak berjudul. Karena aku bingung judul apa yang tepat untuk menceritakan keseharian kita. Karena semua rasa yang kurasakan terjadi di sini. Mulai dari yang namanya bahagia hingga tersakiti.
