Apa yang membawaku ke sini?
Aku tidak tahu.
Pikiranku buntu tapi langkah kakiku seolah tahu ke mana harus pergi.
Hingga akhirnya, aku berhenti di sebuah kedai kopi yang terasa asing dan akrab di waktu yang sama.
Tidak ramai. Tidak berisik.
Hanya cukup untuk membuatku tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Temanku memberiku kopi hangat, tapi tidak cukup untuk menenangkan.
Kami tidak banyak bicara. Dia sibuk. Aku... terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Hingga suara lonceng itu memecah segalanya.
Kepalaku menoleh. Dan dunia seolah berhenti.
Topi itu. Masker itu. Cara berjalan itu. Aku mengenalnya.
Baekhyun dan dia.
Mereka di sini. Tepat di depanku. Tapi aku tidak bergerak. Tidak bereaksi. Tidak percaya bahwa ini benar-benar terjadi.
Aku berharap ini hanya halusinasi yang terlalu kejam.
Tapi tidak. Karena matamu menemukan mataku. Tanpa berkedip. Dan seketika,
semua yang pernah kau katakan kembali terngiang.
“Datanglah jika kau ingin memastikan.”
Sekarang aku di sini. Tepat di momen yang tidak pernah kuinginkan.
Dan aku harus memilih, mendekat.... atau tetap di tempatku, berpura-pura bahwa aku tidak melihat apa-apa.
Aku bingung.
Karena untuk pertama kalinya, kebenaran ada tepat di depan mataku, dan aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk menghadapinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTITLED
Short StorySebut saja cerita tak berjudul. Karena aku bingung judul apa yang tepat untuk menceritakan keseharian kita. Karena semua rasa yang kurasakan terjadi di sini. Mulai dari yang namanya bahagia hingga tersakiti.
