"Maaf,"
katamu lirih, hampir seperti bisikan yang tak ingin benar-benar didengar.
Dan aku terdiam.
Bukan karena aku tidak mengerti, tapi karena aku tidak tahu harus menerima yang mana.
Maaf untuk apa?
Karena kau telah menyakitiku?
Atau karena hatimu ternyata terbagi?
Atau karena kau tidak pernah benar-benar bisa memilih?
Atau...
Karena semua yang kutakutkan ternyata benar adanya?
Dan di antara semua kemungkinan itu, satu hal yang paling jelas adalah... kata itu tidak cukup untuk memperbaiki apa pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTITLED
Historia CortaSebut saja cerita tak berjudul. Karena aku bingung judul apa yang tepat untuk menceritakan keseharian kita. Karena semua rasa yang kurasakan terjadi di sini. Mulai dari yang namanya bahagia hingga tersakiti.
