Aku memelukmu dari belakang, mencoba menghapus apa yang baru saja kau lihat, seolah dengan begitu tidak akan ada jarak
di antara kita.
Untuk sesaat, aku merasa berhasil.
Kau membalasnya dengan sentuhan hangat yang perlahan menenangkan.
Ujung jarimu menyusuri lenganku, seolah memastikan aku masih di sana.
Lalu kau mendekat, menghadiahkanku
satu per satu ciuman yang selalu membuatku lemah.
kening,
hidung,
dan akhirnya...
bibir.
“Aku mendapat tawaran main serial drama.”
Katamu pelan, seperti seseorang yang sedang meminta izin.
Dan entah kenapa, satu hal langsung terlintas—adegan yang tak ingin kubayangkan.
Sesuatu yang bagi orang lain mungkin hanya pekerjaan, tapi bagiku... adalah batas yang selalu ku takuti.
Aku bisa saja menolak.
Bisa saja bersikap egois.
Tapi aku tidak melakukannya.
Karena mencintaimu berarti juga belajar merelakan hal-hal yang tidak pernah ingin kulepaskan.
Jadi aku mengangguk, dan merestuinya, meski tidak pernah benar-benar merasa tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTITLED
Short StorySebut saja cerita tak berjudul. Karena aku bingung judul apa yang tepat untuk menceritakan keseharian kita. Karena semua rasa yang kurasakan terjadi di sini. Mulai dari yang namanya bahagia hingga tersakiti.
