“Ayo bertemu.”
“Baiklah.”
Sesederhana itu bagiku.
Aku selalu menemukan cara, melonggarkan waktu, mengabaikan kesibukan, bahkan menggeser hal-hal penting hanya untuk bersamamu.
Dan saat kau bertanya, “Kau sibuk?”
Aku selalu menjawab, “Tidak.”
Seolah duniaku memang selalu tersedia untukmu.
Tapi ketika keadaan berbalik.
“Ayo bertemu.”
“Jadwalku padat. Lain kali saja.”
Dan aku mengerti, atau setidaknya, mencoba.
Hingga akhirnya, kesempatan itu datang.
Kita bertemu.
Tapi bahkan belum lima belas menit berlalu, sebuah panggilan masuk, dari seseorang yang tidak asing.
Dan tanpa banyak kata, kau memilih pergi. Meninggalkanku begitu saja.
Dan aku... tetap di sini.
Diam.
Seperti seseorang yang sudah terlalu terbiasa menjadi pilihan kedua.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTITLED
Historia CortaSebut saja cerita tak berjudul. Karena aku bingung judul apa yang tepat untuk menceritakan keseharian kita. Karena semua rasa yang kurasakan terjadi di sini. Mulai dari yang namanya bahagia hingga tersakiti.
