Amira duduk di kursi outlet tempatnya bekerja. Pandangannya menerawang jauh entah kemana. Demian mengamati wanita manis di sampingnya. Sudah seminggu lamanya wanita itu terlihat murung, bahkan kadang terlihat kusut seperti kurang tidur.
"Elo kenapa sih Mir? Ada masalah? Gue perhatiin elo akhir-akhir ini kaya punya beban pikiran" Demian memulai pembicaraan.
Amira menoleh ke arah Demian. Dia butuh tempat mencurahkan isi hatinya. Tidak mungkin pada Adiaksa saat ini.
'apa gue cerita sama kak Demian aja ya? Kali aja gue bisa lebih tenang' batin Amira.
"Boleh kok kalo mau cerita ke gue. Gue siap jadi pendengar yang baik" Demian seperti tau pikiran Amira.
"Papa pacar gue sakit, kak" Amira memulai ceritanya "udah semingguan, jatoh dari kamar mandi terus koma".
"Hah?! Terus Lo ikut nungguin di rumah sakit gitu?" Demian menatap serius Amira.
"Iya, kadang gue jagain adeknya di rumah" Amira menunduk.
"Yang sabar, Mir. Semua ujian pasti ada hikmahnya" Demian meraih tangan Amira "Jadi ini yang bikin elo sedih beberapa hari ini?"
Ada rasa tenang saat Demian menggenggam tangan Amira. Ketenangan yang beberapa waktu ini hilang.
"Bukan ini sebenarnya yang bikin sedih, kak. Gue seperti kehilangan Adiaksa yang dewasa, menyenangkan, dan nyaman. Adiaksa jadi sangat murung dan emosional. Gue bingung harus gimana kak. Gue berusaha bantu dia, menghibur dia, tapi dia nggak berubah" Amira menunduk dalam, tubuhnya terguncang, pipinya mulai basah.
"Mungkin saat ini pacar Lo itu lagi terpuruk, Mir. Jangan mikirin ego Lo dulu. Tetep semangatin dia, tetep di sampingnya. Dia butuh seseorang yang bisa membangkitkan semangatnya saat ini" Demian mengusap tangan Amira yang di genggamnya.
"Lo bener kak. Gue egois kalo gue begini , gue harus bisa lebih ngerti keadaan dia saat ini" Amira menatap Demian "Makasih ya kak!".
"Sama-sama!" Demian melepaskan genggaman tangannya . Dia senang Amira mulai terbuka dengannya.
-kring kring kring
HP Amira berdering. Adiaksa menelepon.
Amira : iya, Sa?
Adiaksa : Bisa ke rumah sakit?
Amira : aku kan lagi kerja
Adiaksa : oh, yaudah!
Amira : sebentar lagi aku pulang, aku segera kesana.
Adiaksa : oke!
Adiaksa menutup sambungan telepon nya.
'Ada apa ya?' tanya Amira dalam hati.
Amira yang tadi mulai bisa tersenyum kini murung lagi. Demian mengamati hal itu.
Amira melihat jam tangannya, sudah waktunya pulang. Amira beranjak menuju loker karyawan untuk mengambil tasnya. Rasanya ingin dirinya segera sampai ke rumah sakit.
'kenapa ya Adiaksa? Kenapa nyuruh gue ke rumah sakit mendadak begini? Bukannya dia tau gue kerja?' Amira lagi-lagi bertanya dalam hati.
"Mir, mau ke rumah sakit?" Tanya Demian tiba-tiba.
"Eh, i-iya kak. Adiaksa nyuruh gue segera ke sana. Nggak tau kenapa. Dia nggak bilang apa-apa" Amira menghela nafas.
"Gue anter!" Demian mengambil jaket di lokernya lalu mengenakannya.
"Nggak usah,kak. Kan kak Demian masih jam kerja" Amira menggeleng.
"Udah, gampang. Paling cuma potong gaji. Daripada Lo kenapa-kenapa di jalan. Nggak tega gue liat Lo sedih begitu"
KAMU SEDANG MEMBACA
Amira [ COMPLETED ]
RomantizmJodoh itu di tangan Tuhan... Of course... Cinta tak harus memiliki... Munafik.. Cinta akan tumbuh karena terbiasa... Oh ya? Amira memiliki kisah cinta yang indah, punya pacar yang tampan, baik, dan pengertian. Sampai suatu hari Amira bertemu dengan...
![Amira [ COMPLETED ]](https://img.wattpad.com/cover/177191746-64-k121277.jpg)