Jemari biasa berduka
telapak berbalik seketika
luka membiru tabu membatu
kidung ibu jari tak semesra dahulu
Nak, kini kau tersesat di mana?
lekas pulang, waktu menghamilkan bahaya
jangan lagi kau seolah tak berdaya
semakin menggila setelah lahir kata tiada
Dari garis tipis yang mengalun
bertahun-tahun kau belajar setia malah pikun
beberapa kali kata kau setubuhi sampai mati
jawaban kau tangisi bahkan dijerat pagi
Semalaman kau racik syair
segala candala membombardir
sudahlah, jemput saja takdir
kau memang terlahir untuk pandir
KAMU SEDANG MEMBACA
For You
PoesíaBiarkan lilin yang kau tiup tetap menyala. Terang dan gelap tiada jadi pembeda. Sedih dan senang adalah dua hal yang sama-sama perlu kamu nikmati. Ketegaran hati datang kepada kamu yang tetap terlihat begitu kuat, setelah patahnya yang begitu hebat...
