Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

55. Rindu pertama

16.4K 733 81
                                        

Gattan membuka mata dari tidurnya sambil memegangi kepalanya yang katanya masih sakit, melihat kanan-kiri tidak ada orang yang menunggunya di rumah sakit.

Tak lama Reino datang membawakan buah-buahan dan meletakkannya di meja.

"Udah sadar lu?" Sapa Reino kepada Gattan.

Gattan tidak menjawabnya, Gattan masih melamun memikirkan tidak ada satupun yang menunggunya di rumah sakit.

"Ren, Lily gak tau gue kecelakaan?" Tanya Gattan sambil kebingungan.

Kalau lu tau siapa orang yang paling panik, paling takut, paling siaga menjaga lu pasti lu bakal nyesel-senyeselnya karna udah berulang kali nyakitin hati Lily. Bahkan yang ngurus mobil lu itu Lily. Sayangnya aja Lily ngelarang gua buat ngasih tau siapa orang yang paling sedih dengan keadaan lu sekarang. Batin Reino.

"Gak tau gue" singkat Reino lalu duduk di kursi samping Gattan terbaring.

Gattan melamun lagi tanpa mengeluarkan sedikitpun kata-kata. Gattan berharap ada Lily di saat dirinya sedang terbaring lemah begini.

"Lily nanya kabar gue gak?"

"Jangan Ge-er! Inget seberapa sakit hati Lily dulu"

"Iya gua paham, pasti Lily udah bisa lepas dari gua, dan punya laki-laki baru makanya tidak gak nanyain kabar gua"

Mata Gattan tertuju pada tangannya yang di infus, tapi pikirannya melenceng kemana-mana memikirkan Lily sedang sama siapa.

"Lily sibuk kerja demi lu!" Ujar Reino tanpa sadar dia sudah keceplosan.

"Ha?"

"Maksudnya demi bisaa ngelupain lu. Dan jangan pernah berfikir dia dengan mudahnya ngelupain lu apalagi berpaling sama orang baru, dia itu beda dan bukan seperti lu yang sering nyakitin dia"

Reino keluar dari ruang rawat Gattan, lalu berpapasan dengan Lily yang baru saja keluar dari kamar pak Daniel.

"Li!" Sapa bang Reino

"Lah bang Reno, dari kamar Gattan?"

"Iya lu sendiri dari mana? Mau kemana?"

"Ehmm, bos ku di rawat disini.."

"Oh iya kemaren kan udah ngomong ya... si Gattan tadi nanyain kamu tuh Lii..."

Duh kok aku jadi geer lagi sih! Aku kan mau belajar hidup tanpa tau kabar dia.

"Seriusan? Kalau di pikir lagi kasian banget Gattan... pasti dia sedih karena berfikir gak ada yang nungguin dia di rumah sakit"

Bang Reino tersenyum kepadaku sambil serius menatap aku yang sedang berfikir untuk mencegah diri melepas segala yang berurusan dengan Gattan.

"Udah jangan berharap sama Gattan lagi... cinta itu bukan tentang hal-hal menyakitkan diri sendiri Lii... tapi tentang keduanya yang berjuang demi kebahagiaan" Cetus bang Reino.

"Aku pun berharap begitu, mungkin baiknya untuk sekarang ini aku mau melihat dia dari jauh sampai dia sembuh total, yaudah aku balik ke kantor dulu ya bang Ren, permisi" ujarku lalu meninggalkan Bang Reino.

Setiap kali aku lewat jalanan penuh gedung-gedung aku selalu berharap, aku ingin sekali kerja digedung tinggi itu rasanya seperti apa ya? Aku ingin sekali punya suami yang bekerja di gedung tinggi itu.

Gattan memang bekerja di gedung atau perusahaan seperti itu, tapi Gattan tidak pernah mempublish aku sebagai istrinya. Bolehkah aku bangga dengan diriku yang hanya istri rahasia? Dan bahkan sebentar lagi aku dan Gattan bukan lagi siapa-siapa.

Melupakanmu memang sulit, tapi aku tahu ini demi kebahagiaan kita berdua, karena bagaimanapun aku bukanlah orang yang kamu tuju, bukan juga orang yang pantas bersanding dengan kamu. Seharusnya aku sadar diri dari dulu supaya aku tidak berharap tentang kebahagiaan denganmu.

Apakah akan ada laki-laki pengganti Gattan yang mau menerimaku apa adanya. Ya jelas aku tidak mau lagi menemukan laki-laki yang hanya menjadikan ku istri rahasia.

Tapi aku juga belum siap untuk mencari siapa pengganti Gattan. Dan selalu ketika aku berusaha perlahan menggantikan posisi Gattan yang juara di hatiku dengan orang lain juga tidak bisa. Mengapa? Apa se buta itu cinta? Apa harus selalu ada pengorbanan untuk cinta.

Tring ting tring ting!!!!

Panggilan masuk dari nomer tidak di kenal?

"Iya halo, ini siapa ya?"

"Hallo?"

Ih apasih aku hallo hallo malah gak nyaut!

"Hallo Li... ini aku suami mu"

Aku terkejut dan langsung menatap handphoneku dengan nomor tidak dikenal yang barusan menelponku. Aku benar-benar jadi mengingat Gattan waktu pertama kali meneleponku di toko bunga. Dia bilang dia suamiku :'(

"Liii.. kok diem aja? Kamu dimana? Aku mau lihat kamu disini Li.." ujar Gattan.

Supir taksi terus memandangiku yang kebingungan dengan handphoneku.

"Kamu telfon aku pake hape siapa?" Tanyaku.

"Hape ku mati, dan untungnya suster baik hati mau minjemin hapenya buat nelfon istriku".

Gattan berbicara dengan suara lembutnya, pelan dan ramah terdengar sekali di telingaku. Apa mungkin karena dia baru sembuh dari sakitnya dan belum pulih betul.

Aku gak boleh lagi terlalu baik dengan Gattan. Nanti yang ada Gattan malah berfikir aku masih menyayanginya lagi.

Mungkin harus aku tegaskan sekarang.

Eit, tapi Gattan masih di rumah sakit apa nanti aja ya kalau dia udah keluar dari rumah sakit dan sudah pulih ke kesehatannya lagi.

"Maaf mas aku sibuk" ujarku lalu mematikan telepon.

Maaf mas... aku juga tidak mau begini, tapi aku rasa sudah cukup perjuanganku untuk semuanya selama ini. Kamu boleh tinggalkan aku lalu menikah dengan siapa wanita yang kamu pilih... dan aku pun rela hidup sendiri tanpa cinta.

"Mba.. nih saya ada tissu" supir taksi itu menyodorkan tisu.

Aku mengangguk tanpa memberikan sepatah katapun. Air mata ini benar-benar membuatku merasa aku tidak sanggup untuk hal ini.

Aku bisa :'(

Beberapa menit sampai di butik aku langsung memberikan berkas kepada Dinda dan langsung masuk ke ruanganku.

Aku takutt.... akuu takutt salah ambil jalan... aku gak mau terus terusan begini... aku sayang sama Gattan.... tapi aku gak bisa begini terusss.... tuhan kuatkan aku... batinku.

****

23.45 malam.

Kita berada di rungan yang berbeda sekarang, tidak lagi saling menatap, tidak lagi saling berharap, tidak lagi aku bisa melihat kamu tidur, tidak lagi bisa menahan waktu supaya lebih bisa bersamamu.

Aku yakin hingga hari ini pun kamu belum bisa mencintaiku seperti apa yang aku mau dulu, tapi aku berharap itu tidak akan pernah terjadi. Dan memang tidak akan pernah terjadi juga.

Aku harap semua berjalan semestinya, tanpa melibatkan rindu di setiap malamku.

****

Aku Patung BagimuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang