34. | Rindu yang terbayarkan

470 29 90
                                        

°° Setiap udara yang aku hirup, aku berharap senyum diwajahmu akan tetap sama dengan terakhir yang aku lihat °°
___
_______________

***
Suasana yang biasanya terasa senyap dan nampak sepi kini terasa ramai, gelegar tawa menggema diruangan tengah bernuansa eropa itu, sesekali menyeka air matanya, dinda melirik alex yang tengah memegangi perutnya, film mr bean yang tak pernah sekalipun dinda tonton ternyata cukup membuat perut dinda terkocok melihat kekonyolanya, setelah satu jam yang lalu mereka menyelesaikan sarapan bersama sama, alex mengajak dinda menonton tv, dan tepat saat tv telah menyala dengan sigap alex meminta remote control untuk mencari film kesukaannya dan alhasil film inilah yang menjadikan mereka tertawa terbahak bahak, kecuali nina dan yang hanya nampak tersenyum beberapa kali mungkin memang orang pendiam seperti itu. Sedangkan mbok narti, mang narto dan mang udin telah kembali menyelesaikan tugasnya.

Dinda menatap alex lekat yang masih asik menatap layar didepanya, dan sesekali kembali tertawa hal itu membuat hati dinda ikut menghangat, melihat keceriaan yang alex bawa ikut membuatnya lupa akan masalahnya yang sebenarnya masih menggelayuti pikirannya, karna jika jujur saat dia sendiri, rasa takut masih bernaung direlung hatinya, bagaimana tidak, kejadian malam itu terasa begitu cepat, jika saja rizky telat satu detik saja, mungkin dirinya sudah kotor. Bersikap baik baik saja ternyata tidak mudah, itulah yang dirasakanya, memang butuh waktu ituk melupakan memori menakutkan itu, meskipun bibir tipisnya selalu menampakan senyum manis, dalam hatinya menangis, jika hal menjijikan itu terjadi, namun dinda bukan wanita yang lemah, dia bukan wanita yang menyerah akan keadaan, tidak seperti wanita pada umumnya yang mungkin saja depresi ataupun mengurung diri dikamar, karna sikap itu justru akan menambah beban pikiran sang kakak, sudah banyak masalah yang dia timbulkan dan tak mau menambahnya lagi, cukup dia yang merasakanya hingga rasa takut itu mampu dihilangkanya sendiri seiring berjalannya waktu.

Hingga tak sadar dinda menitikan air mata, alex yang tak mendengar gelak tawa yang dari dinda pun menoleh mendapati dinda tengan air mata yang sudah menetes dipipinya.

Alex menyeryit dan ikut menatap dinda dalam, bahkan dia tak menyadari alex tengah menatap kearahnya, pandanganya kosong, tangan alex terulur untuk menghapusnya membuat dinda tersentak dari lamunan " bunda kenapa?? "

Dinda menggeleng " itu bunda tadi liat adegannya sangat lucu sampai air mata bunda keluar " alibinya, namun ucapan dinda membuat alex menggeleng tak percaya.

" bunda tadi aja liatin alex kok, terus alex juga gak denger bunda ketawa "

Skakmatt ingat dinda!! Alex bukan anak kecil yang gampang dibodohi.

Mencoba mengalihkan pehatian alex, dinda mengangkat alex dalam pangkuanya " udah kita liat filmnya lagi " alex mengangguk patuh ketika pandangan dinda sudah beralih pada layar didepanya.

Namun sesekali alex menoleh melihat dinda, takut takut kalau bundanya itu kembali sedih namun kali ini tidak, sesekali dinda tertawa melihat hal konyol yang diciptakan mr bean, namun bukanya ikut menonton tv kini alex malah asik menatap dinda saat tertawa.

" bunda " panggil alex, membuat dinda menunduk menaikan sebelah alisnya.

" bunda cantik kalau lagi ketawa, kalau lagi sedih alex gak mau liat bunda "

Ucapan alex membuatnya terdiam, bahkan banyak mengharapkannya bahagia, jadi tak ada alasanya untuk berlarut larut dalam kesedihan.

Dinda tersenyum lantas meyubit gemas hidung mungil alex membuatnya mengaduh kesakitan " bunda juga gitu, gak mau lihat alex kalau lagi sedih "

Alex memberengut kesal, dan melipat kedua tanganya didepan dada dengan kesal " hey bunda pernah liat alex sedih saat ketemu bunda? Nggak kan? Bunda yang selalu membuat alex bahagia, jadi bunda juga harus bahagia " celoteh alex membuat dinda mematung, dan mengerjab lucu.

Dendam & Cinta ( Completed )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang