45. | Kecewa.

399 30 79
                                        

°° Luka bukan dia yang memberi , tapi rasa berharap yang tinggi membuatmu jatuh tanpa permisi °°

____
__________________

****

Dinda menggeliat dari tidurnya setelah sayup sayup terdengar suara adzan, dengan sedikit menggucek matanya beberapa kali gadis itu turun ranjang menuju kamar mandi dan melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim, stelah menunaikan ibadah sholat shubuh dindapun segera membangunkan abangnya dan segera turun dari tangga, seperti biasa mbok narti sudah berkutat dengan alat masaknya.

" mbok, hari ini masak apa?? " tanyanya setelah sampai disamping mbok narti, mbok narti menoleh sejenak lalu tersenyum hangat.

" ini non, masak opor kayak kemaren pesenan non "

Dinda mengangguk, lalu segera membantu menyiapkan beberapa makanan yang sudah jadi menuju ruang makan.

Selang beberapa saat, marcell turun sudah memakai pakaian rapi lengkap dengan tas dipunggungnya.

Dinda berdecak kagum melihat abangnya selalu saja tampan dengan pakaian yang selalu rapi, diapun menghampiri abangnya yang baru saja menyeret kursi lalu mengecup pipinya sekilas.

" semangat abang, tinggal hari ini kan?? " marcell mengangguk lalu duduk, menunggu adiknya yang tengah menyiapkan makananan untuknya.

" abang harus makan yang banyak, biar otak abang bekerja dengan baik, kan abang harus istirahat yang cukup juga, abang nggak begadang kan tadi malem? Kalau nanti abang ketiduran acell siram pake air comberan punya bi narti baru tau rasa bang "

Marcell hanya terkekeh mendengar ocehan adiknya, sungguh sehari saja tidak mendengar suara adiknya, harinya terasa berat, tak henti hentinya dia selalu bersyukur Tuhan telah menitipkan adik yang begitu ajaib seperti dinda.

Setelah beberapa menit, merekapun selesai.

" acell nanti mau kemana?? " tanya marcell seraya membersihkan pinggir bibirnya dengan tisu.

" nggak ada bang kayaknya, seperti biasa acell hanya baca buku dikamar, emang kenapa bang? "

Marcell menggeleng, lalu meneguk gelas berisi air yang tinggal setengah.

" kalau acell bosen dirumah boleh kok main kerumah temen temen acell, atau nggak jalan jalan ke mall "

" nanti aja bang kalau mau, belum kepikiran soalnya "

" asalnya inget pesen abang, harus hati hati dan kalau mau keluar biar diantering mang udin aja "

Dinda mengangguk lalu tersenyum ketika abangnya mencium keningnya singkat.

" Assallamu'allaikum "

" Waallaikumsalam "

***
Karna memang tak mempunyai janji ataupun ingin keluar kemanapun dindapun menghabiskan waktunya diperpustakaan yang ada didalam rumahnya, sudah beberapa buku yang sudah dibaca hingga tak disadari matahari mulai meninggi.

Ting..

Satu pesan masuk membuatnya mengalihkan pandanganya pada buku sejenak dan meriah ponsel yang ada disampingnya.

+628135774****

Temuin gue dikafe floweris.

Dinda menyeryit , tak mengenali nomer asing itu, dan tak mengerti apa magsud dari pesan yang dikirimkan untuknya, tak perduli dinda pun meletakkan ponselnya dan kembali meraih bukunya, namun beberapa menit kemudian satu pesan kembali masuk, dinda hanya melirik sekilas, namun kemudian menyeryit ketika melihat isi pesan yang terpampang dikolom atas.

Dendam & Cinta ( Completed )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang