°° Pertemuanya singkat, namun kenanganya masih melekat °°
____
________________
Revan memandang ponsel digenggamanya dengan perasaan gamang, beberapa kali menekan angka dan siap menghubungi seseorang namun lagi lagi kembali dihapusnya, setelah mendapat saran dari revan untuk menghubungi dinda dan mengatakan semuanya akan baik baik saja, perasaan bersalah menyelimuti hatinya mengingat ucapan irsyad beberapa waktu lalu.
" sekarang loe hubungin dinda dulu, dia sangat khawatir sama loe, bahkan dia nangis kejer karna rasa bersalahnya, cuma loe yang bisa ngurangin beban dihatinya "
Revan berdian sejenak, seperti menimang lalu menangangguk " iya, tapi ponsel gue rusak "
Irsyad berdecak pelan " loe nggak hidup dijaman purba kan? Ini pake ponsel gue, gue jamin bibir loe sampai jontor pulsa gue gak bakalan habis, " ujarnya seraya menyodorkan ponselnya yang langsung diterima revan dengan sedikit kesal.
" bibir loe pedes "
" habis makan sambel, loe lupa" jawabnya asal " gue mau nyusul mama loe dulu, udah kangen dianya sama gue " lanjutnya seraya nyelonong pergi menyusul devan dan juga maya yang sudah diruang tengah,meninggalkan revan yang masih termangu ditempat, hingga didetik berikutnya revan beranjak menuju taman disamping rumahnya.
Dengan memantapkan kembali hatinya akhirnya dia kembali menekan beberapa angka yang memang sudah hafal diluar otaknya.
Tuttt... Tuttt... Tutt..
Sambungan terhubung namun tak kunjung diterima, sekali dua kali, dan untuk ketiga kalinya revan kembali menekan tanda panggilan.
Tuttt.. Tut..
" siapa ya?? " tanya seseorang disebrang telfon tanpa basa basi, diam diam revan mengulum senyum mendengarnya.
Dasar, gadis ketus batinnya gemas, mengingat kebiasaan dinda yang tak terlalu perduli dengan orang asing yang mencoba dekat denganya, tiba tiba ingatanya kembali melayang pada pertama kali mereka bertemu, pertamuan konyol yang tak ingin revan lupakan sedikitpun.
" hallo "
Suara dinda kembali menyadarkannya dari alam bawah sadarnya, dia berdehem pelan.
" din "
Tak ada jawaban.
" adin, masih disitu kan?? "
Samar samar revan mendengar isakan, hingga isakan itu terdengar jelas ditelinganya, membuatnya panik seketika.
" din jangan nangis, loe kenapa? Maafin gue ya?? "
Dinda masih enggan menjawab, namun isakannya masih saja terdengar semakin keras hingga membuat revan frustasi namun dia akan membiarkan dinda mengeluarkan semua bebannya melalui tangisanya dan menunggunya hingga siap untuk berbicara padanya.
10 menit__
20 menit__
30 menit__
" kak revan " suara serak dan berat mirik dinda akhirnya keluar, membuat revan bernafas lega.
" iya, maafin kak revan ya?? "
Dinda menggeleng, hingga sedetik kemudian dia sadar revan tak bisa melihatnya " bukan salah kakak, tapi salah dinda "
" nggak ada yang salah din, semua udah digariskan cuma kita hanya mampu mengikuti sekenario yang udah ditetapkan "
Keduanya bergeming, dinda enggan menjawab.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dendam & Cinta ( Completed )
Novela JuvenilDendam masa lalu yang tak pernah terbalaskan membuat rizky terjebak pada ambisinya itu sendiri, setelah memutuskan membalaskan dendamnya melalui adik dari musuhnya, justru berakhir menimbulkan rasa aneh yang selalu disangkalnya, hingga membuatnya di...
