Kebersamaan

4.1K 684 450
                                        

Lintang menatap Salju yang kini sudah duduk di hadapannya. Lintang menatap Salju dengan raut wajah marah sedangkan Salju hanya terduduk dengan kepala menunduk.

Bayu dan Tania yang melihat pun hanya bisa terdiam.

“Sal! Gue nggak suka ya, kalau lo latihan melukis sampe lupa waktu! Nggak sehat buat mata lo Sal!”  ucap Lintang dengan nada menahan emosi.

“Gue melakukan itu untuk menghilangkan kejenuhan gue aja.” Jawab Salju pelan.

“Itu alasan lo aja! Gue tau Sal, lo lakuin itu karena lo nggak bisa lupain masa lalu lo!” Ucap Lintang marah dengan kilatan mata emosi.

Seketika Salju terdiam mendengar ucapan Lintang. Wajah Salju menjadi kaku dan terlihat Salju mengepalkan kedua tangannya menahan emosi, dan detik itu juga Salju berdiri dengan wajah dinginnya.

“Lo nggak berhak buat judge masa lalu gue! Gue kira selama ini lo memahami perasaan gue tapi nyatanya nggak!”  Ucap Salju.

“Sal bu-”

“Gue kecewa sama lo.” Ujar Salju dengan tatapan penuh kecewa dengan Lintang dan setelah itu Salju pun berjalan meninggalkan Lintang begitu saja.

Ketika Lintang ingin mencoba mengejar Salju, dengan cepat Bayu menahan tangan Lintang.

“Biarin dia sendiri dulu.” Ucap Bayu.

Lintang pun hanya bisa menghela nafas pelan, ia memandang Salju yang mulai jauh dari pandangannya.

Sebenarnya Lintang tak berniat untuk menyinggungkan perasaan Salju, tapi Lintang hanya khawatir dengan keadaannya saja.

Bahkan semenjak di mana Salju batal mengikuti lomba melukis karena tangannya yang cedera dan insiden bersama Aldi di tempat perlombaan itu membuat Salju sering mengurungkan diri di ruang sanggar.

Lintang tau Salju sedih karena tidak bisa menepatkan janji dengan seseorang di masa lalunya untuk menjadi pelukis handal. Lintang tau semua itu dari Rangga, tapi Rangga tak pernah memberitahukan siapa seseorang itu.

Sebenarnya Lintang tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan Salju tapi ia hanya ingin Salju tau bahwa dia tulus dengannya.

Sedangkan Salju sekarang memilih menyendiri di rooftop. Air mata yang menggenang di pelupuk mata Salju pun akhirnya mengalir deras di pipi.

Salju tak bisa menahannya lagi, Salju merasa teramat sakit di bagian dadanya.

“Yuda kenapa kamu harus pergi...tidak ada satu orang pun yang memahami perasaan ku...hiks...hiks...aku kangen kamu Yuda... hiks...” Ucap Salju dengan isakan tangisnya seraya menatap langit yang mulai mendung.

Tanpa di sadari Salju ada sosok seseorang di pojok rooftop yang menatapnya dengan intens, dan orang itu adalah Aldi.

Sedari tadi Aldi menatap Salju  dengan tatapan sendu, karena ini kali pertamanya ia melihat Salju serapuh ini.

“Apa sebegitu berharganya orang yang bernama Yuda itu buat Salju?” Ucap Aldi dalam hati.

Dengan langkah perlahan Aldi mendekati Salju, dan tanpa mengeluarkan suara Aldi duduk di samping Salju.

Salju tak menyadari Aldi yang sudah duduk di sampingnya. Aldi pun menyentuh pipi Salju dengan jari telunjuknya, sontak membuat Salju terkejut.

“Sejak kapan lo ada di sini?!” tanya Salju seraya menghapus jejak air mata di pipinya.

“Sejak lo masuk ke rooftop.” Jawab Aldi santai.

Seketika Salju pun memalingkan wajahnya dari hadapan Aldi, Salju sangat malu ketika dia tau  bahwa ada orang lain yang mengetahuinya sedang  menangis.

Alsa (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang