Setelah selesai dengan makan malam keluarga, Zayan dan Falesha berpamitan dengan keluarga untuk kembali ke villa. Zayan mengantar Falesha untuk kembali ke villa nya. Disepanjang perjalanan, seperti biasanya Falesha hanya diam dan menatap pepohonan yang berjejer di tepi jalan. Sangat sulit bagi Zayan unruk menebak bagaimana isi hati Falesha, karena Falesha hanya berbicara saat saat penting saja.
Setibanya didepan villa, Zayan berlari kecil mengitari mobil untuk membuka kan pintu untuk Falesha. Zayan membantu Falesha keluar dari mobil karena Falesha yang terlihat kesulitan melangkah saat mengenakan high heels. Zayan memegang tangan Falesha dan membantu nya sampai ke depan pagar villa. Disaat Falesha akan melangkah masuk kedalam villa, Zayan memegang tangan Falesha mengisyaratkan untuk berhenti melangkah dan langsung memasang posisi menjongkok di hadapan Falesha. Dengan lincah nya tangan Zayan bergerak melepas kan high heels yang dikenakan oleh Falesha.
"Apa kamu merasa tidak nyaman? Maaf, aku hanya ingin keluargaku memandangmu seperti gadis sewajarnya." Ucap Zayan.
"Kamu pikir aku bukan gadis yang sewajarnya? Dan juga, siapa yang memintamu untuk melepaskan sepatu ku? Tangan mu terlihat lincah bergerak membuka tali sepatu ku, aku pikir sudah berapa banyak wanita yang kamu perlakukan seperti ini." Jawab Falesha.
"Aku akan menggendongmu untuk masuk kedalam, kakimu akan kotor jika dibiarkan berjalan begitu saja."
"Aku lebih baik membiarkan kaki ku kotor dari pada digendong olehmu." Jawab Falesha kemudian berjalan meninggalkan Zayan yang masih berdiri di depan pagar villa.
Zayan tersenyum mendengar ucapan Falesha dan kembali ke mobil nya dan melajukan nya ke jalanan. Diperjalanan menuju villa, tiba tiba Nadhifa menelepon Zayan.
"Kenapa?" Tanya Zayan kepada Nadhifa dari balik telepon.
"Kamu dimana? Jemput aku dan bawa aku bersenang senang ketempat yang biasa kamu kunjungi." Jawab Nadhifa dari balik telepon.
"Aku tidak akan melakukan itu. Ayahku bisa membunuhku jika mengetahui nya." Ucap Zayan.
"Aku pikir dia akan benar benar membunuhmu jika tau kamu menjalankan bar bar pribadi mu itu." Jawab Nadhifa.
"Aishhh!!! " Gerutu Zayan kemudian melajukan mobil nya menuju rumah Nenek nya.
Seperti keinginan Nadhifa, Zayan membawa Nadhifa ke club milik nya. Zayan mengantar kan Nadhifa ke sebuah ruangan VVIP miliknya dan membiarkan Tante nya itu menghilangkan stres nya.
"Aku tidak akan membiarkan mu menyentuh alkohol." Ucap Zayan.
"Aku tidak akan melakukan nya, itu sangat buruk bagi tubuh apalagi wanita yang sudah dewasa seperti ku." Jawab Nadhifa.
Zayan kemudian berdiri dari duduk nya dan ingin membuka pintu. Tapi Nadhifa dengan cepat nya menarik tangan Zayan untuk tetap duduk di samping nya.
"Temani aku bernyanyi disini." Ucap Nadhifa dengan wajah sedih nya.
"Aku akan mengambilkan minuman untukmu dan tunggu aku disini." Jawab Zayan kemudian berjalan keluar dari ruangan.
Dengan langkah gagah nya, Zayan berjalan mengambil beberapa minuman untuk Tante nya itu dan beberapa cemilan lainnya. Disaat Zayan akan kembali ke ruangan, seorang wanita yang mengenakan rok mini berjalan menghampiri Zayan, memegang tangan Zayan hingga membuat minuman yang Zayan pegang menjdi terjatuh ke lantai dan berserakan.
"Apa yang kamu lakukan?" Ucap Zayan sedikit kesal sambil memperhatikan minuman nya yang jatuh ke lantai.
"Maafkan aku Zayan, aku tidak sengaja dan aku hanya ingin bersenang senang denganmu." Jawab Gadis itu.
"Aku tidak akan melakukan itu, pergilah." Ucap Zayan kemudian berjalan untuk kembali mengambil beberapa minuman.
Dari kejauhan, Alfhaf memperhatikan apa yang dilakukan Zayan tanpa bereaksi. Althaf membiarkan Zayan melakukan apa yang diinginkan dan ingin melihat bagaimana sikap nya setelah akan menikah dengan seorang gadis yang bahkan tidak dikenal nya.
Namun, dari apa yang diperhatikan Althaf, Zayan terlihat mengalami sedikit perubahan. Entah mungkin karena dia terlau lelah atau kenapa, tapi tidk biasanya dia mengabaikan seorang gadis yang datang kepada nya.
Zayan menarik pedal pintu dan memberikan semua makanan dan minumam yang dibawanya kepada Tante nya itu. Nadhifa terlihat menggila dan bernyanyi dengan memegang microphone di tangan nya. Zayan menggelengkan kepala nya dan duduk disamping Tante nya itu sambil memainkan Hp nya.
Tidak sadar kapan itu terjadi, Zayan sudah terlelap di sofa dan Nadhifa terlihat masih bernyanyi dengan menggila nya. Zayan akhirnya tersadar dan melirik jam tangan nya. Hari sudah sangat larut dan tidak baik bagi nya membiarkan Tante nya untuk tetap di club.
"Ayo kita pulang Tante, aku akan mengantarmu pulang." Ucap Zayan sambil memegang tangan Nadhifa.
"Pergi!!! Jangan ganggu aku, biarkan aku sendiri!!! " Teriak Nadhifa sambil menghela air mata yang mulai membanjiri pipi nya.
"Sudahlah, lagi pula Tante aneh aneh saja mencintai Paman. Sudah, ayo kita pulang dan lupakan semuanya." Ucap Zayan yang sudah memegang pinggang Nadhifa.
Bukannya menuruti Zayan, Nadhifa malah mendorong Zayan dan menangis sekuat kuatnya di hadapan Zayan. Zayan berusaha menghentikan Nadhifa, tetapi Nadhifa tidak menghiraukan Zayan sedikit pun. Akhirnya Zayan tidak punya pilihan lain selain menelon orang yang menyebabkan semua ini terjadi.
Hanya dalam hitungan menit, Rahel berlari dengan kencang nya kedalam ruangan dan melihat Nadhifa yang sudah menggila di dialam ruangan itu. Rahel menarik tubuh Nadhifa untuk berdiri dan menenangkan Nadhifa.
"Rahel? Rahel... Aku mohon jangan tinggalin aku, aku gak mau pisah sama kamu." Ucap Nadhifa sambil menangis didalam pelukan Rahel.
Zayan menatap aneh kepada Nadhifa dan membiarkan mereka bersama. Setelah Nadhifa terlihat kelelahan dan tertidur di sofa, Rahel menggendong Nadhifa dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Ayo antarkan dia pulang kerumah, jika paman sendiri yang mengantarkan nya mereka akan curiga." Ucap Rahel.
Zayan menghela nafas panjang dan hanya bisa mengikuti kemauan paman nya itu. Zayan melajukan mobilnya kejalanan menuju rumah Nenek nya. Di sepanjang perjalanan Zayan terus melirik ke arah Nadhifa dan Rahel yang duduk di bangku belakang. Rahel terlihat khawatir dan mengelus lembut kepala Nadhifa. Sampai akhirnya Zayan memberanikan diri nya untuk berbicara.
"Apa paman mencintai Tante?" Tanya Zayan.
"Apa yang kamu bicarakan? Itu tidak mungkin terjadi diantara kami." Jawab Rahel.
"Hah orang yang baru mengenal kalian pun akan jika melihat tingkah kalian. Jika dia bukan adik dari Ayah ku, apa paman akan menikahi nya?" Tanya Zayan.
Setelah mendengar ucapan Zayan, terlihat Rahel terdiam dan tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Sedangkan hubungan kami yang sekarang ini saja sudah membuatku menggila menahan perasaan ku sendiri terhadap nya. Apalagi jika kami tidak memiliki hubungan keluarga, aku sudah membawa nya pergi jauh sebelum hari ini." Ucap Rahel.
Entah apa yang dirasakan Zayan, tapi rasanya ucapan itu benar benar aneh untuk didengar ditelinga nya. Bagaimana pun, dari dia kecil hingga dewasa dia akrab dan terus bersama dengan Paman dan Bibinya. Dan dari situ juga dia bisa melihat bagaimana perasaan mereka masing masing selama ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cunning Girl Wedding (END)(Sequel Terminator Husband)
Romanssebuah misi balas dendam yang berakhir menjadi pernikahan. seorang gadis yang dibesarkan tanpa orang tua kandung menjadi gadis yang tidak mengenal rasa takut dan bertahan hidup hanya untuk membalaskan dendam nya. gadis yang sudah menyimpan banyak ke...
