Keturunan

2.3K 147 3
                                        

Setelah kurang lebih seminggu berada dirumah Nenek, Zayan ingin membawa Falesha kembali pulang ke villa. Karena, bagaimana pun mereka sudah menikah dan Falesha tentu merasa tidak enak jika tinggal berlama lama dirumah keluarga suami nya itu. Lagi pula, kondisi tubuh Zayan dan Falesha sudah lebih baik dan bisa melanjutkan kegiatan mereka sendiri.

Zayan dan Falesha kembali ke villa bersama Rahel dan Nadhifa, mereka membantu Zayan dan Falesha untuk membawa barang bawaan mereka kembali ke villa.

Karena kondisi tubuh Falesha yang baru normal, Haykal meminta salah seorang pembantu rumah tangga mereka untuk bekerja dirumah Zayan dan Falesha. Dengan begitu, Falesha tidak perlu repot memasak dan membersihkan rumah sampai tubuhnya benar benar sembuh total.

Fadia yang merupakan pembantu rumah tangga yang dikirimkan Haykal itu sigap membantu Nadhifa membereskan barang barang Zayan dan Falesha.

"Istirahatlah, Faida akan membersihkan rumah dan menyiapkan keperluan kalian. Fokus saja pada penyembuhan kalian, oke." Ucap Nadhifa kepada Falesha.

Falesha tersenyum sambil mengangguk.

Setelah selesai membantu Falesha dan Zayan, Nadhifa dan Rahel memutuskan untuk kembali kerumah.

Disepanjang perjalanan, Rahel terus melirik Nadhifa yang terlihat tidak melakukan pergerakan apapun.

"Ayo menikah." Ucap Nadhifa.

Rahel spontan langsung menepikan mobilnya dan menghentikan mobil karena terkejut.

Rahel menatap Nadhifa yang tidak berekspresi sama sekali.

"Apa maksudmu? " Tanya Rahel ragu.

"Ayo menikah, bukankah kita saling mencintai? Tidak ada yang menghalangi kita untuk menikah, kita tidak punya ikatan darah dan tidak ada larangan bagi kita untuk menikah. Kita menghindari pernikahan selama ini hanya karena takut orang orang menceritakan bahwa keluarga kita hanya menikah dengan itu itu saja. Aku tidak lagi perduli, aku hanya akan menikah dengan mu. Karena, aku sudah berusaha untuk mencintai dan membuka hatiku untuk pria lain, tapi hati ku tidak bisa mencintai mereka seperti aku mencintaimu." Ucap Nadhifa.

"Bagaimana jika Kakak dan Orang tua kita melarang?"

"Apa kamu pernah mendengar mereka menghalangi hubungi kita? Tidak bukan. Pilihlah, ayo menikah denganku atau aku akan segera menikah dengan Fakhri bulan depan." Ucap Nadhifa.

Rahel menatap wajah Nadhifa dengan penuh kekhawatiran, tapi sebenarnya ada rasa bahagia di hatinya saat Nadhifa mengatakan itu. Ingin sekali dia menjawab iya ajakan Nadhigfa, tapi masih banyak hal yang membuatnya ragu.

***

Zayan memegang pinggang Falesha dan membawanya masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Falesha duduk disebuah kursi yang ada dikamar mandi dan Zayan mengambil sabun pencuci muka dan menggosokkan nya dengan pelan ke wajah Falesha. Zayan kemudian mengambil gosok gigi dan pasta gigi kemudian menggosok gigi Falesha dengan perlahan.

"Apa kakimu masih terasa sakit?" Tanya Zayan.

"Tidak terlalu, jika tertekan barulah terasa sedikit sakit." Jawab Falesha.

"Aku akan memindahkan semua barangmu ke kamarku, ayo tinggal dan tidur dikamar yang sama mulai sekarang." Ucap Zayan sambil membersihkan sabun pencuci muka yang ada di wajah Falesha.

Falesha tersenyum dan segera mengangguk.

"Bagaimana dengan Althaf? Apa dia tidak ada menghubungi mu? Aku pikir dia pasti sudah tau siapa aku." Ucap Falesha.

"Aku pikir begitu, tapi aku yakin dia tidak akan melakukan apapun yang membahayakan mu setelah melihat apa yang terjadi kemarin." Jawab Zayan kemudian memberikan sepasang piyama kepada Falesha.

Falesha membuka piyama itu dan tertawa kecil.

"Apa kamu sedang berusaha membuat ku terlihat seksi dihadapanmu?" Tanya Falesha sambil membuka piyama yang bajunya bertali satu yang ukuran nya diatas paha itu tanpa dilengkapi celana.

"Kenapa? Aku suami mu dan wajar bagiku melihat tubuh mu." Jawab Zayan yang ikut tertawa.

"Apa kamu mau menggantikan baju ku?" Tanya Falesha dengan menatap Zayan dengan tatapan genit.

"Ooh, kamu sudah pintar menggodaku. Siapa yang mengajarimu hah? " Ucap Zayan sambil memegang dagu Falesha.

Karena merasa malu Falesha mendorong pelan tubuh Zayan untuk menjauh.

"Pergilah keluar, aku akan mengganti bajuku." Ucap Falesha.

"Tidak, bukankah kamu memintaku untuk menggantikan bajumu?"

"Keluarlah." Ucap Falesha sambil tersenyum malu.

"Baiklah, aku akan keluar." Ucap Zayan kemudian berjalan keluar dari kamar.

Zayan pergi kedapur dan melihat apa yang sedang dilakukan Faida. Faida memasak beberapa menu makan malak yang sudah dicatat Zayan untuk dihidangkan. Makanan yang hampir keseluruhan nya adalah makanan kesukaan Falesha.

Zayan kemudian masuk kekamar Falesha dan memasukan baju Falesha ke koper agar mudah dipindahkan ke kamar nya nanti.

Setelah selesai merapikan barang Falesha, Zayan membawa Falesha untuk makan malam bersama. Karena Faida memasak begitu banyak menu makan malam, Falesha dan Zayan membawa Faida untuk makan malam bersama. Walaupun awalnya Faida menolak, tapi Falesha memaksanya dan terus membujuknya agar makan bersama. Akhirnya, Faida tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan Tuan nya itu.

Setelah selesai menyantap makanan, Zayan membawa Falesha menuju ruang game nya dan melihat beberapa rancangan baru yang sedang disusun nya. Falesha memperhatikan satu per satu apa apa yang dijelaskan oleh Zayan.

Zayan kemudian membawa Falesha duduk di sofa dan memegang tangan istrinya itu.

"Bagaimana jika aku membuat sebuah usaha untukmu dan kamu mengelola nya agar kamu ada kesibukan." Ucap Zayan.

"Aku tidak perlu, aku akan melakukan pekerjaan yang lain." Jawab Falesha sambil tersenyum.

Falesha tahu Zayan melakukan itu agar Falesha tidak lagi terlibat dengan orang orang Paman Hikam. Tapi, bagaimana pun Falesha tidak bisa meninggalkan keluarganya begitu saja. Walaupun sekarang dia sudah berstatus kan sebagai istri dari Zayan dan mempunyai kehidupan yang layak, tapi Falesha tetap akan hidup bersama dengan orang orang nya dan tidak bisa meninggalkan mereka.

"Aku akan membeli sebuah gedung milik Ayah dan mengisi nya dengan fashion wanita, kamu bisa memegangnya dan cukup lakukan apapun yang kamu inginkan dengan mall fashion itu." Ucap Zayan.

Falesha menatap Zayan dan terlihat ada begitu banyak kekhawatiran yang terlihat di mata Zayan.

Falesha menghela nafas berat dan mencoba tersenyum kepada Zayan.

"Baiklah, aku akan melakukan nya." Ucap Falesha.

Karena merasa bahagia dengan jawaban Falesha, Zayan menarik tangan Falesha dan memeluk erat tubuh istrinya itu. Zayan kemudian mengangkat tubuh Falesha untuk masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamar. Zayan mulai mematikan lampu dan hanya tersisa lampu tidur yang berbentuk bulan sabit yang ada di meja samping kasur itu. Zayan menatap hangat wajah Falesha dan mencoba mengatur nafasnya, karena jantungnya yang tidak bisa berhenti berdegup dengan kencang.

Zayan menggengam tangan Falesha dan mencium pipi dan kening Falesha. Zayan kemudian menyatukan satu per satu jemari mereka, sampai terasa mengalir hangatnya rasa Cinta mereka satu sama lain. Zayan dan Falesha bisa mendengar jantung mereka yang tidak bisa berhenti berdegup kencang satu sama lain.

Zayan kemudian mendekat kan wajahnya ke telinga Falesha.

"Aku mencintaimu, biarkan aku memiliki keturunan bersamamu." Bisik Zayan dan kembali mengangkat wajahnya dan menatap Falesha.

Falesha tidak mengatakan apapun, namun terasa bahwa dia kesulitan mengatur nafasnya sendiri karena merasa gugup. Sampai akhirnya Falesha mengumpulkan semua keberanian nya dan mengangguk pelan. Zayan tersenyum dan memeluk tubuh Falesha.

Cunning Girl Wedding (END)(Sequel Terminator Husband)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang