Permintaan Nadhifa

2.1K 129 1
                                        

Malam terasa berlalu begitu saja, cahaya pagi matahari masuk melalui sela sela ventilasi jendela kamar kedua suami istri yang tertidur dengan lelap itu. Zayan membuka matanya perlahan dan menatap cahaya matahari yang terlihat dari jendela kaca yang dibaluti dengan gorden biru laut itu. Zayan menatap wanita yang ada disampingnya dan tersenyum karena wanita adalah orang yang dicintainya. Zayan memainkan jemarinya diwajah Falesha dari dahi sampai ke dagu.

Karena merasa geli dan terganggu, Falesha menangkap tangan Zayan dan menggenggamnya erat agar tidak lagi mengganggu tidurnya. Falesha tetap menutup matanya dan masih sangat ingin melanjutkan tidurnya. Tetapi Zayan malah mencium kening Falesha yang membuatnya tidak bisa menahan senyum diwajahnya itu. Falesha menarik bantal yang ada di kepalanya dan menutup wajahnya agar Zayan tidak bisa mencium wajahnya lagi.

"Bangunlah, ayo sarapan. Aku harus pergi bekerja, sudah lama aku meninggalkan club dan aku perlu melihat bagaimana kondisi disana." Ucap Zayan.

"Hmm, pergilah. Aku akan bangun dan sarapan nanti." Jawab Falesha.

Zayan menarik tangan Falesha agar bangun dari tidurnya. Karena merasa malu, Falesha menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Zayan tersenyum dan berjalan masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

***

Pagi pagi sekali, saat Nadhifa akan berjalan ke meja makan, Fakhri sudah duduk di meja makan dan sarapan bersama Ibu dan juga Kakaknya. Melihat itu Nadhifa berputar dan ingin kembali kekamar, tapi dia menghentikan langkahnya setelah melihat mobil Rahel yang tiba di halaman. Nadhifa langsung berlari keluar rumah dan menyambut Rahel.

Tentunya hal itu membuat Ibu merasa tidak enak kepada Fakhri. Nadhifa menarik tangan Rahel dan membawanya duduk di meja makan untuk sarapan bersama.

Nadhifa terlihat antusias dan menyiapkan semua sarapan untuk Rahel.

"Kenapa kamu kesini?" Tanya Nadhifa kepada Rahel.

"Aku memintanya datang untuk membicarakan pekerjaan." Jawab Haykal.

"Pekerjaan?" Tanya Nadhifa bingung.

"Rahel akan membuka perusahaan sendiri, jadi aku akan membantunya dan memberitahu apa yang perlu dilakukan nya." Jawab Haykal.

"Baguslah, aku akan menemanimu dalam mengelola perusahaan mu." Ucap Nadhifa kepada Rahel.

"Nadhifa." Ucap Ibu karna merasa Fakhri mulai merasa tidak enak.

Fakhri hanya tersenyum menatap Ibu dan meneruskan sarapan nya. Nadhifa kemudian mengeluarkan Hp nya dan menunjukkan sebuah foto gadis dihadapan Fakhri. Fakhri langsung terkejut dan menutup Hp Nadhifa agar yang lain tidak melihat.

"Kenapa? Apa kamu takut mereka tau?" Tanya Nadhifa kepada Fakhri.

"Bukan begitu, aku." Jawab Fakhri gugup.

"Ada apa? " Tanya Ibu.

"Katakan atau aku yang akan mengatakan nya kepada Ibu dan Kakak ku." Ucap Nadhifa.

Fakhri menarik nafas berat dan mencoba untuk mengumpulkan keberanian nya.

"Maaf Tante, sebenarnya aku sudah bertunangan dengan gadis lain dan masih sering bertemu dengan nya. Aku menerima tawaran untuk menikahi Nadhifa karena aku rasa dia gadis yang menarik. Maafkan aku Tante, Kak." Ucap Fakhri sambil melihat Ibu dan Haykal secara bergantian.

"Apa? Tapi, orang tuamu mengatakan kalau kamu tidak memiliki wanita mana pun." Ucap Ibu.

"Mereka hanya takut kalau Tante akan membatalkan perjodohan itu. Tapi, aku akan memutuskan gadis itu segera Tante dan memilih menikahi Nadhifa." Ucap Fakhri.

Mendengar itu Rahel menggenggam keras tangan nya karena kesal dan ingin sekali mengayunkan pukulan tangan nya kewajah Fakhri.

"Tidak Fakhri, jangan lakukan itu. Gadis itu akan terluka dan mungkin akan menderita. Tante mengerti niat baik dan alasan kalian, Tante juga berharap kamu bisa menjadi menantu keluarga kami. Tapi, sepertinya hal itu tidak diperlukan lagi sekarang. Kamu bisa tetap bersama gadis itu dan nikahilah dia, kalian tidak bisa bersama jika harus ada yang tersakiti." Ucap Ibu.

Fakhri menunduk dan merasa menyesal serta bersalah kepada keluarga itu. Setelah sarapan, Fakhri langsung pamit dan minta maaf, kemudian pergi meninggalkan rumah keluarga Nadhifa.

Setelah Fakhri pergi, Rahel dan Haykal juga telah pergi. Nadhifa berlari mendekati Ibunya yang sedang duduk di sofa bersama Alesha dan memeluk tangan Ibunya itu.

"Ibu, ada yang ingin aku minta. Tapi, berjanjilah bahwa Ibu akan menepati nya." Ucap Nadhifa.

"Katakanlah." Ucap Ibu.

"Biarkan aku dan Rahel menikah." Ucap Nadhifa serius.

Ibu dan Alesha langsung menatap Nadhifa tanpa mengatakan apapun.

"Kami tidak punya hubungan darah dan tidak ada larangan bagi kami untuk menikah. Biarkan kami menikah Bu, selama ini kami menahan perasaan agar tidak menikah hanya karena takut akan omongan orang lain tentang keluarga kita. Jadi, aku mohon Bu, kabulkan permintaan ku ini. Jika Ibu tidak ingin orang orang membicarakan keluarga kita karena hanya menikah dengan keluarga iparan saja, Aku dan Rahel akan pergi dari sini dan hidup diluar negeri agar mereka tidak membicarakan kami." Ucap Nadhifa.

Ibu merasa tersentuh dan memeluk putrinya itu.

"Menikahlah, Ibu akan merestui kalian. Jadi, sekarang cobalah minta restu dari orang tua Rahel dan Kakak Iparmu." Ucap Ibu.

Nadhifa langsung menatap Alesha seakan meminta jawaban.

"Jika itu yang terbaik, maka lakukanlah." Ucap Alesha sambil tersenyum.

Nadhifa merasa bahagia dan berlari ke arah Alesha dan memeluk Kakak Iparnya itu.

***

Zayan menggenggam tangan Falesha untuk masuk ke dalam club agar melihat bagaimana kondisi perusahaan kecil miliknya itu. Semua karyawan terlihat antusias dan memberikan banyak laporan kepada Zayan. Zayan memeriksa laporan itu dan membiarkan Falesha duduk di sofa sambil melihat lihat gedung dan desain yang akan dibangun nya untuk usaha nya itu.

Karena begitu sibuk, tanpa Zayan sadari Falesha sudah tertidur diatas sofa sambil memegang iPad di atas perutnya. Zayan mengambil iPad itu dan memberikan selimut kepada Falesha.

Zayan kemudian pergi ke dapur club dan membuat secangkir kopi, kemudian dia kembali ke ruangan nya dan mengerjakan pekerjaan nya.

Setelah beberapa jam bekerja, Zayan kelelahan dan tertidur diatas sofa yang ada dihadapan Falesha. Saat itu Falesha terbangun dan melihat Zayan sudah terlelap. Falesha melirik jam dinding dan menunjukkan pukul 16.45. Falesha merasa bosan dan berjalan jalan mengelilingi ruangan Zayan untuk melihat pekerjaan suaminya itu. Falesha melihat beberapa laporan dan isi laptop Zayan. Sampai akhirnya Falesha terfokus kepada sebuah dokumen yang ada di laci meja kerja Zayan. Awalnya Falesha ingin mengabaikan nya, namun akhirnya membuka dokumen itu setelah merasa sedikit penasaran dan hanya sekedar ingin tahu.

Duar!!

Falesha merasa seperti tertembak oleh peluru dari ribuan pistol. Falesha merasa tubuhnya menjadi lemas dan tangan nya gemetar. Falesha berusaha mengatur nafasnya dan menatap Zayan dengan ketakutan.

"Kenapa? Kenapa harus begini? Apa yang akan aku lakukan?"
Ucap Falesha dalam hati.

Falesha membuka lembaran baru dari dokumen itu dan semakin membuatnya terluka. Falesha tidak mampu menahan hatinya sendiri dan akhirnya menangis setelah melihat dokumen itu. Falesha memukul mukul dada nya berkali kali agar nafas nya bisa teratur, namun berkali kali dada nya terasa sesak sampai rasanya ingin menjerit.

Cunning Girl Wedding (END)(Sequel Terminator Husband)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang