Setelah hari pernikahan, Zayan membawa Falesha untuk pindah ke villa miliknya. Sedangkan villa Falesha akan dikosongkan untuk sementara dan akan mereka kunjungi ketika ingin berjalan jalan di sana. Zayan memindahkan semua barang milik Falesha dan mulai mengisi rumah mereka dengan beberapa perabotan baru. Zayan menyerahkan urusan itu kepada Falesha, Falesha memilih dan menentukan semua barang yang akan diletakkan nya di villa. Karena Zayan tidak terlalu peduli dengan urusan rumah, Zayan menyerahkan semuanya kepada Falesha dan dia hanya mengurus masalah biaya. Karena mereka masih belum terbiasa, Falesha meminta untuk berpisah kamar dan tidur dikamar masing masing untuk saling menjaga privasi mereka masing masing. Karena ingin membuat Falesha nyaman dan tidak ingin berdebat di hari baru baru mereka menikah, Zayan menyetujui itu dan mengikuti kemauan Falesha. Zayan menetapkan kamar yang ada di depan kamarnya menjadi kamar Falesha, dan mereka tetap menjaga dan menghargai privasi masing masing.
"Aku tidak ingin mengatakan ini tapi orang tuaku meminta kita untuk segera pergi berbulan madu." Ucap Zayan kepada Falesha yang sedang asik memainkan Hp di depan televisi.
"Kenapa harus terburu buru? Lagipula kita tidak akan melakukan nya." Jawab Falesha santai tanpa melirik ke arah Zayan.
"Kamu tidak ingin melakukan nya?"
"Kamu pasti sudah tau jawaban nya." Ucap Falesha kemudian berjalan ke lantai atas untuk kembali kekamar nya.
Sudah tiga hari semenjak mereka menikah, Zayan benar benar menahan dirinya untuk tidak keluar rumah agar tidak ada gosip dan rumor yang bermunculan. Saat ini mereka benar benar hanya tinggal serumah berstatuskan suami istri, namun tidak memiliki perasaan satu sama lain. Mereka hanya akan bertemu ketika makan, menonton dan berolahraga dirumah saja. Setelah itu mereka sibuk dikamar dan mengurusi urusan mereka masing masing. Sampai akhirnya setelah seminggu menikah, Haykal dan Alesha datang ke villa mereka karena Zayan yang tidak kunjung menjawab panggilan dan pesan orang tuanya yang meminta mereka untuk berbulan madu.
Ting tong...
Dengan langkah santai Zayan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu, tapi setelah melihat siapa yang datang, Zayan langsung berlari kelantai atas dan mengetok pintu kamar Falesha dengan kencang sampai seperti akan menghancurkan nya.
"Kenapa? Apa tidak bisa kamu berhenti menggangguku?" Ucap Falesha.
"Kunci kamar ini dan matikan lampunya, bawa baju dan semua peralatan mu kekamarku. Ibu dan Ayah ku sedang ada didepan, mereka akan mengamuk kalau tau kita memiliki kamar yang berbeda." Jawab Zayan yang mencoba mengatur nafasnya.
Mendengar itu Falesha langsung berlari kekamarnya dan mengambil semua barang dan bajunya untuk dipindahkan kekamar Zayan. Sementara Zayan mengatur nafasnya dan bertingkah seolah tidak ada terjadi dan membukakan pintu untuk kedua orang tua nya.
"Kenapa kamu lama sekali membuka pintunya? Dan siapa yang menyuruhmu mengganti sandi rumahmu." Ucap Haykal.
"Aku sudah menikah Ayah, tentu akan lebih banyak privasi untuk kami." Jawab Zayan sambil membawa orang tua nya masuk.
Setelah mereka duduk, Falesha dengan cepat berjalan menuju ruang tamu dan menyambut mertuanya itu. Falesha menyiapkan beberapa minuman untuk mertuanya dan meletakkan nya diatas meja.
"Duduklah, kamu tidak perlu repot repot." Ucap Alesha sambil melambaikan tangan nya kepada Falesha untuk memintanya duduk disampingnya.
Falesha kemudian menurut dan duduk disamping mertuanya.
"Pergilah berbulan madu, kalian sudah seminggu menikah dan ini adalah waktu yang tepag untuk bepergian." Ucap Haykal.
Mendengar itu Falesha langsung terkejut dan menatap Zayan. Sedangkan Zayan sudah mencoba menenangkan dirinya agar tidak terlihat terlalu menolak saran itu.
"Ayah aku sibuk dan tidak punya waktu untuk bepergian. Kami spertinya akan berbulan madu disini saja." Jawab Zayan.
"Apa maksudmu? Itu adalah hal penting dan kalian harus melakukan nya. Aku sudah memesankan tiket pesawat dan pasport untuk kalian. Pergilah dua hari lagi, kalian bisa menyiapkan semua keperluan besok." Ucap Haykal.
Mendengar itu Falesha merasa benar benar terpukul dan ketakukan. Dia takut keluarga Zayan akan mengawasi mereka dan itu akan menjadi masalah bagi mereka.
"Tidak apa apa, semuanya akan baik baik saja." Ucap Alesha sambil mengelus lembut tangan Falesha.
Falesha hanya mencoba tersenyum kepada Alesha walaupun sebenarnya dia benar benar marah saat ini.
Setelah selesai dengan urusan mereka, Haykal dan Alesha pulang untuk kembali kerumah mereka.
***
Setelah usai pernikahan Zayan dan Falesha, Rahel terlihat lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan Chika. Hari ini mereka menikmati makan siang bersama di sebuah restoran yang terletak tidak jauh dari rumah Chika.
"Hel, ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Chika.
"Kenapa? Katakanlah." Jawab Rahel sambil menyantap steak di hadapan nya itu.
"Apa kamu yakin ingin menikahiku?" Tanya Chika.
"Kenapa kamu menanyakan itu? Tentu saja."
"Tapi aku pikir kita sebaiknya tidak usah menikah." Ucap Chika.
Rahel langsung menghentikan makan nya setelah mendengar itu dan mulai menatap Chika penasaran. Tapi Chika malah tersenyum dan memegang tangan Rahel.
"Aku akui aku mencintai mu dari awal kita bertemu, aku selalu berusaha mendekati mu dan mendapatkan perhatianmu. Aku mencoba semua cara sampai mengambil jurusan yang sama denganmu, agar tetap dekat dengan mu. Aku bahkan sangat bahagia setelah mendengar kamu ingin menikah denganku, aku merasa sudah mendapat kan impianku. Tapi, setelah aku pikir ini semua salah. Aku tidak seharusnya bahagia diatas penderitaan orang lain. Aku akui aku sangat mencintai mu, tapi aku tidak ingin menjadi egois hanya karena cintaku ini." Ucap Chika.
"Chika apa maksudmu? Kenapa kamu tiba tiba membicarakan ini?" Tanya Rahel kebingungan.
"Hel kamu tidak perlu menyembunyikan nya karena aku tau selama ini bagaimana perasaanmu. Kamu menyukai ku bukan sebagai kekasih, tapi kamu menyukai hanya sebagai teman. Dan aku bukan gadis yang kamu cintai, melainkan hanya gadis yang ingin kamu dekati sebagai teman. Aku bukan gadis yang bisa meraih hatimu, karena hatimu sudah dimiliki oleh gadis lain. Aku tau kamu mencintai gadis lain dan hanya ada dia dihatimu selama ini, aku tau betapa tersiksa dan menyakitkan nya hal ini bagi kalian. Aku tau kamu mencintai Nadhifa dan bukan aku Hel." Jawab Chika.
Seketika Rahel terdiam dan menunduk, dia merasa apa yang dikatakan Chika benar dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena takut Chika terluka.
"Aku tidak ingin menjadi egois lagi hanya karena Cinta yang kumiliki ini, aku sudah banyak belajar dan bagiku mencintai itu bukan harus memilki melainkan bisa melihatnya hidup bahagia sesuai dengan yang diinginkan nya. Nikahilah Nadhifa Hel, dia gadis yang ingin kamu nikahi sebenarnya dan bukan aku." Ucap Chika.
"Ka, kenapa kamu begini?" Tanya Rahel.
"Aku akan berbicara dengan orang tuamu dan orang Tua Nadhifa, aku akan membantumu meyakinkan mereka untuk menyetujui hubungan kalian. Tidak ada yang salah dengan hubungan kalian, jadi berusahalah dan nikahilah wanita yang kamu cintai itu." Ucap Chika sambil tersenyum kepada Rahel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cunning Girl Wedding (END)(Sequel Terminator Husband)
Romancesebuah misi balas dendam yang berakhir menjadi pernikahan. seorang gadis yang dibesarkan tanpa orang tua kandung menjadi gadis yang tidak mengenal rasa takut dan bertahan hidup hanya untuk membalaskan dendam nya. gadis yang sudah menyimpan banyak ke...
