Bab 23 : Mencurigakan

9.5K 1.1K 3
                                        

Alfa pulang jam 11 malam bersama seorang wanita dan dalam keadaan basah kuyup. Jas yang biasa di pakai Alfa berada pada tubuh wanita itu.

".…"

"Dia sekretaris ku, tadi pulang dari kantor hampir di perkosa preman di parkiran gedung kantor. Aku orang baik jadi ku tolong." Jelas Alfa sebelum Delta bertanya.

Delta tersenyum. Lalu mengajak wanita itu masuk ke salah satu kamar tamu, berusaha bersikap ramah dan meminta wanita itu mandi dan berganti pakaian. Ia juga mengatakan sebaiknya wanita itu menginap di rumah itu malam ini. Dan wanita itu mengangguk setuju.

"….Aku nggak di tawari makan malam?" Akhirnya Alfa bertanya, karena biasanya setiap pulang ke rumah, semalam apapun, Delta biasanya mengetuk pintu kamarnya dan menawarinya makan.

"Aku nggak tau kamu pulang hari ini, kamu….nggak ngasih kabar. Kami….seharian di cafetaria dan makan di sana. Aku….nggak masak apapun."

"Bukannya ada mie instan di lemari."

"Bukannya kamu nggak suka makan mie?"

".…"

".…"

Alfa mulai merasa ada yang salah dengan sikap Delta. Pria itu menghela nafas dalam lalu menjelaskan alasannya kenapa tidak mengabari Delta.

"Seseorang mencuri tas kerja ku di minggu terakhir sebelum jadwalku pulang ke Indonesia. Ponsel, laptop, iPhone tablet dan dokumen penting hilang. Kami harus berjuang kembali membuat laporan karena aku tidak mau kehilangan investor penting jadi….aku lupa menghubungimu."

Delta diam saja, tapi ia berpikir kalau penjelasan Alfa agak aneh mengingat pria itu punya banyak Bodyguard. Ia juga merasa sedikit curiga dengan penampilan wanita yang katanya hampir di perkosa itu.

Bukankah harusnya ada noda kotoran di bajunya, atau rok atau di sepatunya. Kalau memang dia hampir di perkosa, kenapa make up-nya malah terlihat rapi. Kosmetik mahal mereka apa yang dia pakai hingga nggak luntur ditengah badai?

Melihat Delta masih diam.  Alfa menggenggam tangan Delta. "Aku minta ma'af."

Delta menarik nafas dalam. Lalu bertanya tentang wanita yang di bawa Alfa.

"Wanita itu adalah sekretaris baru yang di rekrut Zeno, dia sepupunya Zeno. Aku tak mau menyalahkannya karena tau latar belakang keluarganya dan kami juga tumbuh bersama, dia….tidak sengaja menghilangkannya karena terlalu gugup bertemu para investor. Dia sebenarnya wanita yang cakap dan keterampilannya juga bagus, berkat dia yang mampu mengingat semua isi dokumen penting, masalah itu dapat terselesaikan. Hanya saja….aku bukan orang yang gampang tenang, aku benci kalau masalah seperti itu belum beres jadi aku menghabiskan waktu ku untuk fokus ke pekerjaan. Aku….minta ma'af."

".…" Bukannya merasa tenang dengan penjelasan Alfa, Delta malah makin curiga. "Kantor kamu terima pegawai lewat belakang juga?"

".…" Alfa lagi-lagi menghela nafas dalam. "Susah untuk mencari pegawai yang dapat di percaya, apalagi perusahaan ku baru saja di rombak besar-besaran. Aku setidaknya butuh beberapa orang yang dapat ku percayai dan Zeno tau hal itu. Dia tidak pernah merekomendasikan orang tak berguna sebelumnya dan aku percaya pada penilaiannya. Lagipula aku mengenal Zara sejak di bangku kuliah. Dia wanita yang pintar tapi benar-benar canggung berada di depan banyak orang. Dulu juga dia sering melakukan kesalahan waktu kami dapat tugas kuliah. Tapi karena dia juga dapat menyelesaikan masalahnya dengan mudah, lantaran pintar. Kami juga tidak banyak mengeluh. Dan….kalau kau punya rasa cemburu….biar ku luruskan. Hubungan kami hanya sebatas teman kuliah dan rekan kerja."

The Last Chance (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang