Bab 32 : Kompromi

10.5K 949 15
                                        

Jam baru menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Delta bangun dengan tangan yang meliliti pinggangnya. Ia ingat semalam mereka berdua bernostalgia sampai jam 1 pagi dengan ending kelaparan dan akhirnya makan mie instan sebelum tidur.

Delta berbalik dan menatap Alfa yang masih tertidur nyenyak. Memperhatikan wajah tampan itu sampai dirinya kesal sendiri. Kenapa kamu tidur pun masih tampan?. Huh, menyebalkan!.

Setelah 10 menit berusaha melepaskan diri dari tangan gurita itu, akhirnya Delta berhasil kabur ke kamar mandi.

Selesai mandi, ia lantas membangunkan Alfa dengan segelas susu coklat hangat, sepotong sandwich dan ciuman selamat pagi yang membuat Alfa langsung sadar se sadar-sadarnya.

"Kenapa melongo gitu sih?" Delta tersenyum sendiri, mengabaikan kalau tindakannya jelas bikin Alfa terkejut.

"Aku akan mengajukan petisi untuk mendapatkan ciuman ini di setiap pagi." Ucap pria itu akhirnya.

"....Oke." Jawab Delta berusaha terlihat tenang, meski sebenarnya ia agak malu dengan tindakannya tadi.

Alfa mengunyah sandwich nya dengan perasaan senang. Enaknya punya istri.

"Kita mau kemana hari ini? Masih mau jalan-jalan di antara perpohonan?"

Pertanyaan itu membuat senyum di wajah Delta hilang. "Kan di listnya kamu, kamu merekomendasikan tempat ini sebagai tempat tujuan kamu bulan madu. Kenapa malah kamu nggak antusias?"

Alfa menghela nafas dalam. "Awalnya aku pilih tempat ini karena katanya….romantis, tapi yang kulihat sejauh ini hanyalah pohon-pohon dan pohon, mungkin tempat buat foto yang bagus sih iya, tapi rasanya mirip dengan yang ada di Jogja. Bukankah kita juga ada tempat wisata dalam hutan? Suasananya hampir sama."

"Nggak sama kok. Pulau Nami ini ada kisahnya, itu drama Korea winter sonata, yah harusnya kita emang datang ke sini pas musim salju jadi feelnya dapat."

"Tapi….pulau ini jadi populer karena drama Korea itu kan. Aku tinggal bikin film romantis aja di dalam hutan, entar hutannya jadi terkenal juga. Ah, atau kita aja bikin film romantis berdua pas pulang nanti, nanti videonya aku sebarin di stasiun TV milik ku."

"…." Udah gila ya?!

Delta menolak ide itu. "Jangan niru-niru deh, Indonesia udah kebanyakan jiplak film tetangga, jadi nggak seru. Makanya orang kebanyakan milih nonton film luar. Kalau kamu mau bikin film sendiri, mending cari referensi dari buku, novel-novel karya anak negeri juga banyak yang bagus. Asal jangan pakek aktor atau artis yang udah pasaran aja, meski aktingnya bagus, orang-orang juga bosan liat tampang yang itu-itu aja."

"…."

"Kenapa?" Delta bertanya lantaran Alfa kembali melongo.

"Aku nggak nyangka kamu punya pemikiran seperti itu, wow sekali, hahaha… Untung stasiun TV milik ku nggak nayangin sinetron jiplakan yah atau kalau nggak aku bakal sakit hati denger istri sendiri komen begitu, padahal udah keluar dana besar."

"…."

Delta tak mau membahas hal itu lagi, lantas menyuruh Alfa untuk segera mandi dan menemaninya berkeliling pulau Nami naik sepeda.

Meski awalnya mengeluh dan bilang kalau yang di lihat di sana cuma perpohonan saja, tapi Alfa menikmati ketika bersepeda bersama Delta. Mereka berhenti untuk sekedar mengambil foto dan video, bercanda tentang mencari bibit pohon Pinus dari Korea dan berniat menanamnya di belakang rumah mereka, biar nanti mereka punya pohon pinus sendiri. Lalu kembali bersepeda sepanjang siang.

Pulang dari bersepeda. Delta mengeluarkan beberapa novel Korea berbahasa Inggris dan membacanya bersama Alfa. Mengomentari adegan ribut-ribut antara pacar di novel itu, bercanda tentang adegan romantis yang terlalu berlebihan kemudian saling menggoda dengan mengulang kalimat-kalimat mesra di novel yang mereka baca.

The Last Chance (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang