Mereka kembali ke Jakarta bersama 5 karung duku di bagasi pesawat. Beberapa penumpang yang sedang menunggu mengambil barang-barang mereka bahkan bertanya persoal duku itu dan bahkan ada yang berniat membelinya. Sayangnya Nafta menolak dengan tegas tawaran tersebut.
"Kamu satu karung juga nggak mungkin habis." Alfa mencibir adiknya itu.
"Kak, aku punya banyak teman nggak seperti kakak yang temannya cuma kak Zeno aja. Aku bisa bagi-bagi, bisa ngasih ke guru juga dan bilang bahwa aku juga punya kampung halaman."
"...."
Zeno menjemput mereka dengan tampang berantakan. Delta yakin berat badan pria itu sudah turun beberapa kilo setelah ditinggal.
Kasihan...kasihan...
"Klien masih ada yang mau ketemu kamu kalau tampang kamu ancur begitu? Cukuran napa? Jelek amat!"
Loe pikir ini gara-gara siapa ha?!
"Masalah promosi, tanda tangan kontrak sama pegawai yang bersedia kerja sama udah gue beresin. Besok tinggal peresmian Alpha Entertainment dan perusahaan baru kita itu akan mulai dioperasikan. Itu…tugas loe dan gue pengen tidur. Nah bye." Setelah menyampaikan itu, Zeno benar-benar pergi.
"Bodoh! Padahal kan dia tinggal bilang aja di telpon dan dia bisa tiduran di rumah. Ngapain repot-repot kesini."
Delta menoleh ke Alfa yang tidak tau malu ini. "Kamu kan berencana kabur lagi dan melimpahkan tugas mu padanya. Kamu bilang semalam kalau mau liburan ke Bali dan kamu udah memesan tiketnya."
"……" Bagaimana bisa tau?
"Nafta yang bilang." Delta menjawab pertanyaan tak terucap itu. Alfa cuma nyengir lalu meraih Dafa yang tertidur di pelukan Nafta.
"Dek kita perlu bicara serius. Mulut mu itu perlu di kasih pelajar."
Nafta hanya menelan ludah dan akhirnya memilih kabur meninggalkan Delta, Dafa dan Alfa dengan 5 karung duku di belakang mereka.
🌺🌺
Alfa, Delta dan Dafa kembali ke rumah. Tapi sorenya Alfa langsung pergi ke perusahaan untuk memantau peresmian gedung barunya besok.
Pria itu baru pulang pukul 11 malam dan mengatakan pada Delta bahwa dia berencana memindahkan makam kakek dan nenek Alfa ke Indonesia (karena dulu mereka di makamkan di tempat pemakaman umum yang tak jauh dari lokasi kecelakaan).
"Setelah peresmian gedung…kamu mau nggak menemaniku menemui ibu dan ayah?" Pinta pria itu.
Delta tersenyum dan mengangguk setuju. Lega akhirnya Alfa berniat berdamai dengan traumanya.
Delta menemani Alfa makan malam dan Alfa menceritakan alasan kenapa ia selama ini takut untuk datang menemui kakek dan neneknya juga ayah dan ibunya.
"Aku satu-satunya yang sadar ketika pesawat itu jatuh, aku melihat darah dan aku melihat mereka semua terluka. Aku...kalau saja aku mampu bergerak dan berlari meminta bantuan, kalau saja...waktu itu kaki ku…aku pikir harusnya kakek nenek selamat waktu itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last Chance (END)
RomanceDelta dan Alfa merupakan tetangga dan teman sekelas dari TK hingga SMA. Meski begitu keduanya tidak pernah benar-benar berteman, hingga akhirnya Alfa kuliah di luar daerah. Mereka dipertemukan kembali dalam suasana canggung. Alfa dengan jas hitam ra...
