Bab 22 : Bang Toyib

11.1K 1.1K 17
                                        

Ingin tau sulitnya berpacaran dengan seorang CEO yang perusahaannya sedang berkembang?

Pertama, bertemu itu jarang terjadi walaupun kamu tinggal satu rumah.
Janji makan siang bersama, tapi makanan selalu baru bisa di makan di sore hari.
Awalnya pulang di antar jemput pacar, akhirnya malah di antar jemput supir.
Pacaran jarak dekat berasa pacaran jarak jauh, karena lebih sering mengobrol via WA dan bertemu muka via video call.

Lalu....apa ini jenis keluhan atau hanya jawaban standar karena berpacaran dengan orang sibuk?

Jawabannya ini adalah jawaban standar dan Delta harus terbiasa dengan ini.

Kalau nikah nanti mungkin juga akan tetap merasa lajang lantaran suami jarang pulang. Sebenarnya gue pacaran ama dia atau bang Toyib sih?

Delta menarik nafas dalam. 2 bulan ini lagi-lagi ia di tinggal Alfa yang sibuk bekerja. Dia benci mengakui kalau dia merindukan pria itu, lebih benci lagi sampai keceplosan di telpon yang akhirnya mendapat ledekan dari Alfa.

"Akhirnya, aku punya bucin juga, hahahaha....

Kalimat itu mengakhiri pembicaraan mereka seminggu yang lalu, dan sampai sekarang nggak ada kabar dari pria itu selain pesan singkat ucapan selamat malam, selamat pagi dan selamat siang. Mirip alaram aja!

Dafa juga sering rewel bertanya tentang Alfa, karena biasanya Dafa sering tidur di kamar Alfa saat pria itu pulang.

"Kak Alfa nggak pulang lagi ya?" Tiba-tiba Nafta bertanya karena nggak melihat Alfa lagi.

"Kali ini dia ada pekerjaan di Korea, pulang akhir bulan." Jawab Delta sambil memasukkan es cendol ke cangkir Nafta.

Nafta menarik nafas dalam. "Kak Delta bisa ikut ke kampus nggak hari ini?"

"Kenapa? Bisa kok."

Nafta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sedikit malu menjelaskan masalahnya pada Delta. Tapi untungnya Delta sibuk menyuapi Dafa makan dan tidak bertanya lagi.

Selesai sarapan pagi, Delta dan Dafa ikut pergi ke kampus Nafta.

"Anak-anak itu sekarang di Rumah Sakit, orang tua mereka mengeluh dan mengancam akan mengadukan Nafta ke polisi kalau masih belum ada itikat baik dari keluarga Nafta."

"...." Delta menoleh ke arah Nafta yang pura-pura tidak tau dan malah sibuk memainkan tangan Dafa. Bukan hanya kakaknya, ternyata adiknya juga bermasalah dengan tempramen.

Setelah mengatakan kalau Delta akan membesuk anak-anak yang di pukul Nafta, urusan itu belum selesai sampai di situ. Mereka juga harus menunggu orang tua anak-anak yang di pukul Nafta datang.

Rektor kampus keluar ruangan ketika Delta akhirnya berkesempatan untuk menanyakan kejadian sebenarnya dari aksi pukul-pukulan itu.

"Seperti biasa, Nafta di bully karena tuduhan perebut pacar orang, pendekatan sama gadis yang di sukai orang lain, tampang Nafta yang terlalu angkuh dan nggak hormat sama senior. Kasus lama yang sering terjadi." Jelas Nafta dengan nada santai seolah hal itu memang sering terjadi padanya.

"Siapa yang memulai duluan?"

"Tentu saja mereka. Nafta nggak suka cari ribut."

The Last Chance (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang