Dari tiap hari mual muntah tiap mencium bau yang rada menyengat, bahkan bau pindang tulang yang nikmat. Hingga susah tidur tiap malam dan juga sering ke toilet, itu adalah penderitaan yang Alfa alami selama 3 bulan pertama kehamilan Delta.
Sementara Delta tenang-tenang aja, bahkan bisa memakan apapun tanpa takut mual muntah. Ia bahkan bisa tidur nyenyak hingga berlahan pipinya yang tadi tirus mulai terlihat chuby.
"Kamu bisa berhenti makan nggak sih?"
"Ha?" Delta menatap Alfa heran.
Alfa mendengus kesal, bahkan makanan lezat yang terhidang di meja makan tak menarik minatnya. Ia sekarang sudah mual. "Kamu enak bisa terus makan, kan yang menderita bolak-balik ke kamar mandi akunya. Apa kamu nggak kasihan, berat badanku udah turun 10 kilo dalam 3 bulan ini."
Delta tersenyum mendengar protesan Alfa. "Kamu juga nggak kerja kan, jadi nggak apa-apa."
"Cih! Kalau ada pilihan, lebih baik aku kerja." Keluh Alfa.
Sejak di ketahui bahwa Delta benar-benar hamil dan Alfa yang mengalami semua gejala awal kehamilan. Ayah Alfa memerintahkan Zeno untuk mengurus perusahaan dan satu bulan setelahnya, Ayah Alfa yang sudah benar-benar pulih, mengambil alih tugas itu. Alfa di izinkan untuk beristirahat di rumah, dan kerjanya tentu saja hanya bersantai selain mual muntah di pagi hari dan sering pipis. Pria itu mengekori Delta kemanapun istrinya itu pergi, nggak bisa jauh-jauh.
Delta menyodorkan segelas air hangat ke arah Alfa, menyuruh pria itu meminumnya. "Besok kita periksa ke dokter, sekalian USG, biasanya setelah 3 bulan, udah nggak mual muntah lagi, mungkin beberapa hari lagi kamu udah bisa makan dan bekerja seperti biasa."
Alfa mengangguk, tapi baru saja pria itu minum, ia segera berlari menuju wastafel terdekat dan tentu saja, muntah lagi. Delta sebenarnya merasa kasihan melihat Alfa, tapi entah kenapa nafsu makannya benar-benar tak tertahankan sampai Delta kadang bingung sendiri kenapa dia nggak mau berhenti makan.
Sabar ajalah Pak ya! Namanya juga bawaan hamil. Delta melanjutkan aksi makan sate Padangnya sembari melihat Alfa muntah.
🌺🌺
Dugaan Delta tepat, beberapa hari setelahnya Alfa tidak lagi mual muntah, berlahan pria itu mulai menikmati lagi gaya hidup lamanya, pagi siang malam tidak bisa hidup tanpa cake strawberry. Ada menu lain yang tak kalah bikin Delta heran karena pasalnya pria itu dulu tak suka memakannya. Apalagi kalau bukan kolak ubi, hampir setiap hari pria itu meminta Delta membuatkannya kolak, bahkan dia lebih sering memakan itu ketimbang nasi putih.
Alfa berangsur-angsur kembali sehat, nggak lesu seperti biasanya. Berat badan pria itu juga sudah kembali seperti semula yang membuat Delta takjub karena meski frekuensi olahraga pria itu kurang dari biasanya, ia tidak terlihat chuby sama sekali. Malah badannya tambah mulus dan atletis. Berbanding terbalik dengan Delta yang setiap hari ngecek timbangan pasti nambah setengah kilogram.
Apa aku juga harus banyak makan buah strawberry? Efek kulit kinclongnya benar-benar terlihat pada pria ini. Mengherankan sekali.
Selesai sarapan yang sebenarnya sudah pukul 9 pagi itu. Delta kembali menimbang berat badannya di temani Alfa.
"Untung sekarang usia kehamilan ku udah 7 bulan, atau kalau nggak aku nggak tau bakal segemuk apa lagi." Gumam Delta setelah menimbang berat badannya pagi itu.
Alfa mengangguk setuju. "Bahkan gentong yang ada di sebelah kolam renang udah kalah bulat dari badan kamu ya."
"…."
"Tapi nggak apa-apa, tambah enak di peluk kok, hahaha."
Delta mengabaikan Alfa, wanita itu akhirnya pergi ke kamar. Ia berencana pergi ke cafetaria. "Aku akan bertemu dengan para mahasiswaku di cafetaria kita, mereka mau konsul KTI (Karya Tulis Ilmiah), waktunya agak lama jadi aku nggak bisa menemani mu makan siang di kantor, kamu….
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last Chance (END)
RomanceDelta dan Alfa merupakan tetangga dan teman sekelas dari TK hingga SMA. Meski begitu keduanya tidak pernah benar-benar berteman, hingga akhirnya Alfa kuliah di luar daerah. Mereka dipertemukan kembali dalam suasana canggung. Alfa dengan jas hitam ra...
