Bab 51 : Penyelesaian

6.1K 694 21
                                        

Begitu Alfa dan Zeno tiba di tempat pesta ulang tahun, ternyata Delta sudah pulang. Alfa menelpon Delta dan ternyata sekarang istrinya itu sudah pergi ke cafetaria milik Lily, istri dari rekan bisnis Alfa.

"Sial! Kita terlambat, aku jadi tidak tau bagaimana Delta menyelesaikan masalah pelakor itu." Alfa mengeluh, sementara Zeno sibuk mencari seseorang.

"Pa...pa...pa...pa" Seorang anak kecil berusia 1 tahunan berjalan sangat pelan mendekati Zeno dan Alfa, keduanya tak menyadari kehadiran anak itu pada awalnya, tapi begitu melihatnya, Zeno bergegas menggendong anak laki-laki itu.

Zeno kembali menatap sekeliling, bertanya heran kemana ibu si anak, dan bagaimana bisa mereka membiarkan anak yang baru bisa berjalan ini, main sendirian.

"Nah itu dia, sepertinya dia juga mencari si kecil ini." Tunjuk Alfa pada seorang wanita muda dan tua yang sibuk melihat kesana-kemari.

"Aku hanya meminta ibu menjaganya sebentar, hanya lima menit tapi kenapa ibu membiarkannya berjalan sendirian.

"Anak laki-laki itu memang menyusahkan. Ibu jelas meletakkannya di kursi bayi dan ibu hanya mengobrol sebentar. Memang dasar anak itu saja yang kabur."

Keributan itu terdengar jelas karena kedua wanita itu tidak bicara dengan pelan. Begitu wanita muda itu melihat anaknya ada di gendongan Zeno, ia segera menghampiri mereka.

Ibu wanita itu segera berubah jadi wanita baik super ramah ketika melihat Zeno dan Alfa.

"Oh, Bapak Alfa dan nak Zeno, ternyata juga datang ke pesta ini. Bukankah kalian ada bisnis di luar negeri. Tau begini aku akan meminta tuan rumah menyiapkan makanan mewah. Ah dan untuk nak Zeno, terima kasih atas perhiasan mahal kemarin, ibu sangat menyukainya."

"....."

Alfa mengabaikan wanita itu, ia lebih memilih mengambil anak laki-laki di gendongan Zeno.

"Biar aku yang menjaga Zeno kecil, kau...segera selesaikan masalahmu dan kalau bisa singkirkan ibu tiri penjilat ini." Bisik Alfa lalu pergi duduk tak jauh dari sana. Ia akan jadi penonton yang baik.

Zeno bertanya dengan tenang pada wanita yang sejak tadi hanya berdiri mematung. "Apa pengumuman pertunangan nya sudah dilakukan?"

Wanita itu memilih diam. Tapi sang ibu yang bicara. "Pertunangan apa?, siapa yang akan bertunangan? Anak bodoh ini pasti sengaja membuat mu khawatir. Tenang saja, dia masih suka pada mu, nak Zeno. Jangan percaya ucapannya. Ibu tau kalau kalian bertengkar tiga hari ini dan itulah sebabnya kamu nggak pernah menjemput Zeno kecil dan dia ketika mau pergi bekerja. Iya kan?"

Zeno mengabaikan penjelasan panjang itu, memilih fokus pada wanita muda di depannya. Alfa tentu saja ikutan fokus menonton, ia suka drama cinta macam ini. Jadi...gimana respon pemeran utama wanita di sana?

"Kami memang tidak punya hubungan apa-apa sejak awal, Bu! Pak Zeno tidak pernah suka pada Nora, jadi ibu bisa berhenti menyuruhku mendekati Pak Zeno."

"...." Zeno mengerutkan dahi, bingung. Ia mendadak merasa marah ketika menyadari sesuatu. Jadi selama ini...dia mengejar ku karena ibunya?

Wow...semakin menarik saja!

Alfa malah excited setelah mendengar penjelasan dari pemeran utama wanita. Tapi lagi asyik menonton, kegiatannya terganggu karena mendapat pesan video dari Varo.

"Apa maksud kata-kata mu. Bukankah hubungan kalian baik-baik saja, Zeno bilang ke Ibu kalau dia tidak keberatan dengan mu."

"....." Kali ini wanita muda yang bernama Nora itu menatap Zeno, ia tidak mengerti maksud perkataan Zeno pada ibunya.

"Kami akan bertunangan minggu depan, dan menikah dua minggu lagi. Aku memintanya mengumumkannya di pesta ini karena banyak karyawan dari perusahaan yang datang. Juga ada ibu yang sudah repot datang dari Bandung."

"!!!" Nora dan Alfa terkejut mendengar pernyataan Zeno. Alfa sampai berhenti menonton video yang di kirim Varo, untuk bisa fokus pada tontonan live di depannya itu.

Zeno kembali bicara. "Nora dan Zeno kecil akan tinggal dengan ku dan sesuai perjanjian ku dengan ibu, aku akan mentransfer uang 100 milyar itu ke rekening ibu sebentar lagi dan saya akan menambahkan 100 milyar lagi beserta surat bermaterai yang isinya, ibu tidak akan pernah muncul di hadapan kami."

What?!! Tunggu dulu? Drama macam apa ini?

Alfa segera berdiri dari tempat duduknya, ingin bertanya soal uang itu, tapi Zeno menoleh sekilas seolah meminta Alfa untuk tetap tenang. "Aku akan menjelaskan hal itu pada mu nanti dan aku ingin bicara pada mu sekarang!" Dua kalimat itu di katakan pada saat yang sama tapi di tujukan pada Alfa dan Nora.

Zeno mengeluarkan ponselnya lalu segera mentransfer uang 200 milyar itu pada ibu tiri Nora. Ia mengatakan kalau uang itu sudah di transfer.

"Nah mulai saat ini, anda bukan lagi ibu dari Nora, anda dan keluarga anda tidak punya hubungan lagi dengan Nora dan anaknya. Saya akan meminta pengacara saya datang ke rumah Anda siang ini untuk mengurus semuanya." Setelah mengatakan itu, Zeno menarik tangan Nora memintanya mengikutinya ke mobil.

"....."

Tungu dulu. Lalu aku bagaimana?, woi!! Dramanya jangan bersambung di sini dong! Kan lagi seru! Alfa kembali mengeluh tak puas. Ia menelpon Zeno yang tadi bertindak sok keren di depannya.

"Teman! Kalau-kalau kau lupa? Aku ditinggalkan di TKP bersama anak mu!" Ucap Alfa datar.

Zeno hampir tertawa ketika menyadari hal itu. "Teman, aku akan mengintrogasi calon ibu dari anak-anak ku yang suka berbohong ini. Nitip Zeno kecil ya! Perlakukan dengan baik. Aku akan menyuruh supir menjemput mu. Dan yah, bagaimana kalau kau menyelesaikan masalah mu dengan tuan rumah sembari menunggu."

Dan setelah pembicaraan itu, panggilan telpon diputus.

Ibu tiri Nora yang baru saja menerima segepok uang itu, tersenyum sinis, mengatakan kalau anaknya tak tau terima kasih. "Setelah mendapatkan Bank berjalan dia berani bilang putus hubungan dengan ku. Kita lihat saja, aku akan menagih biaya merawat anak tidak tau terimakasih itu di hari pernikahan mereka, membuatnya malu setengah mati!"

"....." Oh, jadi drama nya masih berlanjut nih?! Apa perlu aku turun tangan sebagai pahlawan? Benar, drama cinta harus berakhir bahagia, kan?! Oke, saatnya menyelesaikan misi sebagai Cupid cinta.

Alfa baru akan menghampiri wanita itu, ketika seseorang memanggilnya. Ah, aku hampir lupa dengan pelakor satu ini.

"Pak Alfa, saya pikir anda tidak akan datang." Ucap wanita itu.

"Istri dan anak anda sudah pulang, ia sepertinya tidak terlalu suka pada saya dan melarang Dafa bermain dengan anak saya. Tadi anak saya sampai menangis, padahal ini adalah hari ulang tahunnya."

"....." Alfa hanya diam membiarkan wanita itu terus bicara. Tadi ia sudah menonton video rekaman pelabrakan Delta ke pelakor di depannya. Istrinya itu melabrak sang pelakor beserta antek-antek nya secara jantan. Video itu di rekam oleh Varo yang saat itu menyaksikan peristiwa itu.

"Saya berterimakasih dengan hadiah baju yang anda berikan, anak saya pasti memakainya dan juga...

"Pertama! Surat pengunduran diri harus ada di meja kerja ku besok pagi." Setelah mengatakan hal itu, Alfa menelpon sekretarisnya menyuruh mentransfer sejumlah uang ke rekening wanita di depannya.

"Kedua! Uang pesangon yang aku berikan, cukup untuk menghidupi diri anda dan anak perempuan anda selama 3 tahun, jadi carilah pekerjaan yang layak sebelum uang itu habis."

"...."

"Ketiga! Aku tidak akan pernah suka pada mu! Jadi menghilang lah dari kehidupan ku!"

"Keempat, aku bisa menjamin, Undang-undang tentang pelakor di penjara akan benar-benar ada kalau berani muncul dan mengganggu keutuhan rumahtangga ku."

Alfa menyadari supir yang menjemputnya sudah datang. Ia tak menunggu jawaban dari wanita di depannya, dan yang pasti Alfa menganggap hubungannya dengan wanita itu benar-benar berakhir di sana.

🌸🌸🌸

The Last Chance (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang