"Hai cantik."
"....." Delta menatap Alfa dengan pandangan datar, sementara pria itu datang ke cafetaria dengan wajah cengengesan, menggendong seorang anak laki-laki yang tertidur pulas dipelukannya.
"Ada 3 wanita di sini? Wanita mana yang kamu sapa cantik?" Varo bertanya dengan nada tidak suka.
"Tentu saja istri ku! Dia yang paling cantik di sini."
"....." Delta memijit keningnya yang mendadak sakit. Suaminya itu sepertinya memang sudah tidak punya urat malu lagi.
"Mungkin kau butuh ke dokter mata sekarang. Jelas-jelas kalau Lily ku yang paling cantik."
"....." Lily menutup wajah dengan telapak tangannya. Suaminya ternyata juga tidak tau malu.
Nora yang duduk di samping Zeno hanya saling pandang. "Percayalah, inilah sifat asli dari CEO dingin yang sering kalian taksir diam-diam itu. Mereka nggak ada yang normal." Bisik Zeno, pelan. Ia lantas mengambil anak Nora dari pelukan Alfa.
"Jadi, bagaimana penyelesaian masalahnya?" Tanya Alfa. "Kapan kamu kawin?"
"....." Yang ditanya cuma bisa diam.
"Sebelum kamu menyelesaikan masalah orang lain, selesaikan dulu masalah mu. Apa kamu sudah membereskan pelakor itu? Aku katakan sekali lagi, aku nggak punya simpati buat pelakor." Delta berkata langsung ke titik masalah. Tadi sebelum Alfa datang, ia sempat berdiskusi dengan Varo dan Zeno tentang masalah para wanita yang masih gigih mendapatkan hati Alfa.
"Aku nggak suka mereka." Ucap Alfa, tegas. "Aku juga nggak ngerespon kode-kode dari mereka. Jadi aku nggak sepenuhnya salah. Kalaupun mereka punya masalah hidup dan aku yang baik ini membantu mereka, aku hanya sekedar memberi bantuan tanpa menuntut pamrih. Kamu jelas tau aku ini pria paling baik di dunia."
"Benarkah?" Tanya Varo sanksi. "Kemarin kau meminta staff di toko perhiasan milik ku membuat perhiasan untuk seorang wani...
"Ehmm" Alfa langsung membungkam mulut Varo. "Kampret lo, kan gue bilang itu rahasia!" Bisik Alfa. Ia sudah melirik ke arah Delta yang menatap pria itu dengan pandangan tajam.
"Jadi...ada lagi yang kamu rahasiain dari ku, hmm?"
"...." Alfa menelan ludah. Sial sekali karena rencana yang baru akan dibuatnya sepertinya akan gagal.
"Aku bisa jelaskan...
Delta terlihat sedih. "Aku nggak suka kalau kamu nggak jujur kayak gini. Padahal kamu dulu bilang kalau hal yang perlu di bicarakan itu, harus di bicarakan dan kita harus berbagi semuanya. Tapi kamu malah..." Setelah mengatakan itu Delta beranjak pergi dari sana.
"....."
"....."
Yang lain menatap Alfa dengan tatapan heran. Kenapa pria itu masih berdiri di tempat dan tidak langsung mengejar Delta.
"Nggak apa-apa tuh, mbak Delta nya ngambek?" Tanya Lily.
"Dia serius ngambek begitu? Aneh sekali! Biasanya dia bersikap jauh lebih sabar dari ku dan masalah seperti ini sudah sering terjadi."
Zeno menatap Alfa, sedikit heran. "Jadi lo pikir Delta bisa sabar terus?"
Alfa menjawab dengan nada polos. "Kan dia udah tau dari dulu kalau aku ini banyak yang naksir, bahkan di hari pernikahan kami ada yang sampai berjanji akan terus menggoda ku. Selama ini sikapnya biasa aja. Juga kemarin waktu aku jelasin dan minta ma'af karena nggak jujur soal wanita itu, dia bilang kalau aku nggak perlu minta ma'af karena aku nggak salah."
Alfa lantas melirik Varo dengan pandangan menusuk. "Lo nih! Teman macam apa sih?! Udah dibilangin jangan sampai Delta tau." Kali ini pria itu mengganti topik pembicaraan, ia kesal karena Varo hampir membocorkan rencana yang di buat Alfa.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last Chance (END)
RomansaDelta dan Alfa merupakan tetangga dan teman sekelas dari TK hingga SMA. Meski begitu keduanya tidak pernah benar-benar berteman, hingga akhirnya Alfa kuliah di luar daerah. Mereka dipertemukan kembali dalam suasana canggung. Alfa dengan jas hitam ra...
