Pagi itu Nafta ingin mengantarkan Ibunda Delta ke Pasar. Sembari menunggu sang Bunda, ia mendengar suara keras seperti barang-barang di lempar dari samping rumah, juga balas berbalas berbagai makian dan sumpah serapah. Seram sekali.
Tak beberapa lama keluarlah anak pemilik rumah yang sedang mengendong bayi di pelukannya, sambil menangis minta ma'af dan meminta di izinkan untuk kembali ke rumah.
Sang ayah sepertinya masih menolak, dengan terus melempar, ia bahkan melempar kursi yang hampir mengenai anak perempuan dan cucunya, pria itu terus mengatakan tak akan menerima sang anak di rumahnya lagi.
Istri pria itu menangis dan juga ikut memohon, tapi pria itu menarik istrinya ke dalam rumah dan begitulah adegan berakhir.
Nafta menelan ludah kala bertatapan dengan anak perempuan itu. Ia pikir anak itu mungkin masih remaja SMP karena tubuhnya yang kecil dan wajah anak-anaknya. Ia jelas punya hati nurani untuk menolong, tapu belum sempat angkat kaki, sang bunda datang menahan Nafta. "Ayo, keburu abis daging nya di pasar." Ucap sang Bunda.
Pulang dari pasar, Nafta masih melihat anak perempuan itu dan bayinya di depan rumah di samping rumah mereka. Lagi-lagi sang Bunda menghalangi niat baik Nafta dan berkata kalau ia akan menjelaskan alasannya.
"Namanya Arina, umurnya mungkin baru 14 tahun, belum tamat SMP, nikah 1 bulan yang lalu nikah karena duluan hamil, orang tuanya baru tau soalnya anaknya baru ngomong kalau hamil dan perutnya juga nggak kelihatan membesar. Nggak taunya setelah seminggu nikah, dia ngelahirin. Dia itu menantunya tetangga kita."
"Anaknya...kalau dari apa yang Bunda lihat sih, sering naik motor bareng teman-temannya sepulang sekolah. Masih kecil tapi udah pakek make up tebal dan agak nakal. Dan suaminya adalah guru magang di sekolah anak perempuan itu, usia 19 tahun. Anaknya si tetangga kita ini."
"Lalu kenapa Bunda ngelarang kamu ngebantu dia? Bukannya kita nggak bersimpati. Hanya kadang ada beberapa hal yang kita nggak bisa begitu aja ikut campur di dalamnya. Orang tuanya dan tetangga kita ini sering bersikap jahat sama keluarga kita, iri pas lihat kebun ayah sukses, ngegosipin kakak kamu yang di tinggal pas lagi hamil, bahkan sempat bilang terang-terangan kalau keluarga kita pakek dukun buat meletin calon menantu kaya. Itu juga yang jadi pelajaran buat Bunda, biar nggak bersimpati dengan mereka. Bunda...agak jahat kan, hahahaha~"
"....." Nafta hanya menyunggingkan senyum.
Bunda Delta kembali bercerita. "Sebelum menikah, orang tua anak itu minta uang mahar sangat besar hingga ribut dengan tetangga kita. Dan setelahnya dia tinggal di sebelah bak ratu tang nggak bisa ngapa-ngapain dan hanya menambah beban. Belum lagi sang anak laki-laki yang belum tamat kuliah itu, setelah nikah malah kabur dari rumah."
"Orang tua Arina membebankan semuanya tanggung jawab pada tetangga kita karena udah bikin anak perempuan mereka hamil. Dan puncaknya dia di usir."
Nafta mengangguk mengerti. "Tapi.....kasihan kan sama bayi kecil itu, dia jelas nggak tau dan nggak salah apa-apa."
Ibunda Delta mengelus kepala adik dari menantu laki-lakinya itu. "Udah pernah kok, sekitar seminggu yang lalu. Itu kakak kamu yang nolongin, tapi kemudian keluarga kita di maki sama orang tua Arina, di bilang menggoda anak mereka, apalah segala macam ucapan nggak mengenakkan itu yang akhirnya membuat Delta mengusir anak itu karena dia yang ternyata berani ngegoda kakak kamu."
".....Maksudnya?"
"Dia kepergok malam-malam, masuk kamar kakak kamu waktu Delta lagi keluar, sengaja berpakaian minim dan....ber akting sambil bilang kalau Alfa yang maksain dia. Sayangnya itu anak terlalu bodoh untuk tau kalau rumah kita punya CCTV canggih yang merekam segala aktivitas di rumah ini. Yah. Dari situ juga bunda belajar, jadi baik juga mesti hati-hati."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last Chance (END)
RomanceDelta dan Alfa merupakan tetangga dan teman sekelas dari TK hingga SMA. Meski begitu keduanya tidak pernah benar-benar berteman, hingga akhirnya Alfa kuliah di luar daerah. Mereka dipertemukan kembali dalam suasana canggung. Alfa dengan jas hitam ra...
