Bab 40 : Ketika Orang Kaya Pergi Ke Pasar

8K 836 7
                                        

"Ngerawat anak itu....ternyata nggak segampang yang aku kira." Ucap Alfa setelah menceritakan keluh kesah Dafa pada Delta.

Mereka berbaring sambil berpelukan di tempat tidur. Delta awalnya tampak heran karena Alfa terlihat lesu. Dan akhirnya mendengar semua penuturannya ketika mereka sudah berdua di kamar.

"Dulu....aku pikir, cukup untuk membelikan apapun yang mereka mau, cukup untuk membuat mereka nggak merasa kekurangan, cukup untuk mengawasi mereka. Tapi ternyata....mereka tidak sama seperti aku waktu kecil."

Delta tersenyum, lalu menatap suaminya itu. Emang kamu nggak pernah ngeluh waktu kecil?" Tanyanya.

Alfa menggeleng. "Kakek dan nenek selalu memanjakanku dan aku nggak terlalu peduli aku punya banyak teman atau enggak. Papa dan mama sibuk bekerja, aku sudah terbiasa dengan hal itu. Aku....tidak tau sejak kapan aku mengerti kalau mereka sibuk mencari uang yang pasti, aku ingin seperti mereka."

"Yah. Mungkin karena kamu sudah terbiasa di manjakan, atau mungkin karena kamu udah lebih dewasa sejak awal. Sifat seseorang tidak bisa selalu sama. Aku contohnya, aku iri kenapa aku nggak sepintar saudara-saudara ku. Meski orang tua ku memberikan kasih sayang yang sama pada kami, tapi tetap saja, ada rasa yang kurang, tapi...aku juga nggak berani terlalu banyak menuntut. Karena aku tau betapa susahnya mereka membesarkan kami berlima. Dan mungkin....ini karena baru kali ini merasakan membesarkan seorang anak, kita masih butuh yang namanya belajar. Walau secara teori terlihat gampang, praktiknya nggak semudah itu."

Alfa mengangguk setuju. "Aku ragu menitipkan anak-anak di tempat penitipan anak, karena aku takut terjadi sesuatu pada mereka. Tapi aku nggak pernah berpikir, kalau membiarkan mereka bermain di rumah, malah membuat mereka kurang interaksi. Aku sekarang agak takut, anak-anak kita jadi introvert."

"Aku juga berpikir begitu." Delta menyetujui pendapat Alfa. "Makanya aku tak pernah mendiskusikan soal ini padamu. Aku pikir, cukup dengan bersama kita, mereka tidak akan kesepian. Tapi nyatanya....anak kecil juga butuh teman."

Alfa meraih ponselnya, membuka beberapa situs penitipan anak yang terkenal di Jakarta dan menunjukkannya pada Delta. "Anak-anak Varo juga akan dititipkan di tempat yang sama dengan Kalysa."

Delta melihat-lihat situs-situs itu. Sementara Alfa mengambil tabletnya dan membuka situs-situs sekolah dasar yang di rekomendasikan Varo. Ia berencana memindahkan Dafa ke sekolah dasar biasa, yang anak-anaknya muridnya tidak hanya dari kalangan tinggi saja.

"Tempat penitipan anak ini dulunya adalah TK salah satu TK paling terkenal di Jakarta, banyak anak-anak artis dan pebisnis di Jakarta yang dititipkan di sini. Selain tempatnya aman, anak-anak di izinkan bermain sambil belajar dengan bebas, para orang tua juga sering di ajak berkumpul 2 minggu sekali, untuk bermain dengan anak-anak. Review-nya hampir 90% mengatakan memuaskan." Delta menunjukkan salah satu situs yang ia lihat tadi pada Alfa.

"Jaraknya hanya 15 menit dari kantor kamu. Pulang kantor atau jam istirahat, kamu bisa mengajak mereka makan siang di cafetaria kita."

Alfa memberikan tablet yang ia pegang pada Delta, sekarang ia fokus pada situs penitipan anak itu. Ia merasa familiar dengan pemilik tempat itu. "Aku akan menyuruh Zeno memeriksa penitipan ini, kalau ia bilang oke, maka anak-anak kita titipkan di sana."

Delta mengangguk setuju. Ia lalu bertanya soal kepindahan Dafa ke sekolah biasa.

"Mungkin agak sulit menyembunyikan identitas Dafa, aku akan menyuruh salah satu Bodyguard kita sebagai wali Dafa untuk mendaftarkannya di Sekolah ini. Jaraknya sekitar 20 menit dari rumah, akan terlalu heboh kalau Dafa diantarkan pakai mobil mewah kita. Jadi....kita juga perlu membeli mobil dengan harga dan penampilan biasa. Dan merubah sedikit penampilan Dafa dengan barang-barang mewah yang melekat padanya."

The Last Chance (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang