Bukan Alfa namanya kalau nggak bikin heboh di pernikahan orang lain. Selain mual-mual dan pusing, pria itu hampir muntah di jas pengantin pria yang ia pegang di ruang ganti Zeno.
"Lo ini mau bantuin apa ngancurin acara nikahan gue sih, Bos!" Ungkap Zeno sedikit kesal.
"Sorry, kagak tahan. Bawaan bayi."
"...." Zeno menarik nafas dalam. Ia tentu saja berterima kasih karena Alfa mau repot mengurusi acara pernikahan Zeno, mereka bahkan pergi ke Jepang memakai pesawat pribadi milik Varo hanya untuk membuktikan kalau Zeno juga bukan orang sembarangan dan pantas menikah dengan Sakura.
Tapi sebulan ini, sejak dipastikan bahwa Delta benar-benar hamil, Alfa yang awalnya menari jingkrak-jingkrak, langsung shock karena ingat gejala kehamilan yang ia alami dulu. Dia mulai mengalami morning sickness, masih tetap mau ke kantor walau akhirnya ngerepotin orang sekantor. Tetap mau ikut andil dalam melancarkan hubungan Zeno dan keluarga calon mertuanya meski akhirnya bikin Zeno malah tambah repot. Untunglah nggak butuh waktu lebih dari sebulan, akhirnya Zeno mendapat restu dan bisa menikah, meski pernikahannya di langsungkan di Jepang.
Sebulan yang lalu, ketika menjemput para istri di cafetaria milik Lily. Para suami itu terkejut karena ada testpack tergeletak di atas meja. Siapa menyangka kalau itu milik Delta dan kehamilan itu baru berjalan 3 minggu.
Alfa awalnya heboh paper foto USG, namun besok paginya gejala kehamilan awal mulai benar-benar terjadi padanya dan itu masih berlangsung sampai sekarang.
"Itu bukan salahku, seseorang terus saja ngajak ku olahraga malam tanpa memikirkan resikonya. Aku sih terima aja." Delta tersenyum sembari menyindir Alfa. Yang di sindir cuma bisa manyun.
Sekarang harusnya Alfa memberikan kata sambutan dari pihak mempelai pria, di gantikan oleh Varo. Alfa sendiri, istirahat di kamar ganti sambil memonitor acara lewat ponsel sambil sesekali muntah di toilet. Delta menemaninya sambil makan kacang.
"Katanya sih, ibu hamil itu makan sedikit tapi sering loh! Bukan banyak tapi sering. Ngomong-ngomong itu udah toples yang ke berapa?"
Yang ditanya cuma nyengir.
"Tapi...kamu ini nggak adil ya! Masak yang baru nikah langsung di suruh kerja. Direkturnya malah ambil cuti hamil."
Alfa hanya mengangkat bahu. "Kita nggak bisa menentang takdir, kalau Zeno mau protes, silahkan. Tapi tunggu bayinya lahir."
Emang bisa? Paling Zeno nya takut ama kamu.
"Eh tapi kita mau stay di mana? Aku kan cuti 1 tahun."
"....." Itu cuti lama amat! Delta menggeleng tidak percaya. "Jangan nyusahin orang deh Pak! Meski Papa kamu kembali ambil alih perusahaan, dan meski Zeno jadi batal bulan madu. Tapi urusan penting tetap kamu yang tanganin. Anak-anak juga udah nggak bisa terus-terusan bolos sekolah, dan aku mai lahiran di Indonesia."
Alfa mencibir, kecewa. "Tapi aku juga nggak mau pulang ke kampung kamu, capek jadi bahan ledekan ayah kamu."
Delta otomatis tersenyum ingat kejadian waktu ia mengandung Kalysa. Alfa diledek sebagai pria lemah dan yang diledek cuma bisa diam pasrah. "Waktu itu kamu bilang nggak mau aku hamil lagi. Tapi nyatanya, kamu tetap bikin aku hamil. "
"Mana kutahu kamu bisa hamil gara-gara aku malas buka plastik kondom." Alfa ngedumel pelan. "Padahal aku nggak pakek kondom cuma pas ronde terakhir aja."
"...." Delta pura-pura nggak mendengar perkataan Alfa.
🌺🌺
Dan terjadi lagi, adegan angkat mengangkat seorang Alfa yang pingsan tepat ketika Delta memasuki ruang operasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last Chance (END)
RomantikDelta dan Alfa merupakan tetangga dan teman sekelas dari TK hingga SMA. Meski begitu keduanya tidak pernah benar-benar berteman, hingga akhirnya Alfa kuliah di luar daerah. Mereka dipertemukan kembali dalam suasana canggung. Alfa dengan jas hitam ra...
