Bab 27 : Persiapan Pernikahan

11K 1K 17
                                        

Soal Zara, Alfa tak mau repot-repot berurusan langsung dengannya. Ia hanya menelpon pengacara terbaiknya, lalu menyuruh Zeno menjelaskan situasi sebenarnya di kantor polisi.

Dan soal rumor yang menyebar di internet, Alfa menyuruh Taek Won, rekan bisnisnya yang juga merupakan seorang hacker untuk menghapus semua artikel-artikel itu dan hanya dalam hitungan menit, berita buruk tentang Alfa menghilang dari internet.

Tidak mau pusing memikirkan masalah itu, Alfa lebih memilih membicarakan masalah persiapan pernikahan bersama Delta.

"Pertama kita ngurus surat-surat nikah, kita bisa mengurusinya siang ini. Kalau masih sempat, kita bisa sekalian cetak surat undangan, berapa banyak yang ingin kamu undang?" 

Delta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tidak benar-benar punya teman akrab, hanya beberapa teman SMA dan teman kuliah, itu pun hanya terhubung lewat Fb (Facebook), dan WA. "Aku hanya akan mengabari teman-teman ku lewat WA, dan mengundang keluarga ku serta keluarga mertua mereka. Paling cuman 20 undangan."

"Nggak ngundang kerabat orang tua kamu?" Tanya Alfa heran.

Delta menggeleng. "Waktu aku susah, waktu keluarga kami sedang benar-benar kesulitan, mereka semuanya menjauh. Nggak ada satupun yang memberikan bantuan, atau sekedar berkunjung ke rumah menanyakan kabar kami. Terutama saat aku membuat keluarga ku malu. Mereka malah ikutan menghujat dan bilang kalau aku telah mencoreng nama baik keluarga. Aku bukan orang baik, aku juga pendendam. Aku hanya akan peduli pada orang yang baik pada ku dan keluarga ku. Mereka….tidak pernah ku anggap sebagai keluarga lagi."

Penjelasan panjang itu, cukup untuk membuat Alfa mengerti betapa sakit hatinya Delta terhadap kerabat orang tuanya. Jadi ia putuskan untuk tidak membahas hal itu lagi.

"Pernikahan kita, akan di adakan di gedung serba guna milik rekan bisnis ku yang juga pengusaha berlian. Aku juga memesan mas kawin dan cincin kawin padanya. Karena kemarin kita belum tau tanggal pastinya, jadi aku baru sekedar membicarakan hal itu saja padanya. Kita juga bisa sekalian mampir ke sana hari ini. Untuk pilih-pilih cincin kawin."

Delta hanya mengangguk setuju. Keduanya lantas duduk di ruang tamu. Alfa menunjukan desain baju pernikahan yang di pesannya.

Karena baju pernikahan yang di pesan Alfa baru datang minggu depan, Delta tidak bisa meributkan hal itu, apalagi soal harga yang sama sekali tak mau Alfa bahas. Pria itu tau kalau Delta pasti akan mengutuknya karena terlalu boros.

Beberapa saat setelah melihat foto-foto itu, mereka berdua berganti pakaian dan dan memutuskan untuk mengurus semua kebutuhan sebelum menikah.

Hari sudah hampir malam ketika Alfa dan Delta akhirnya bisa ke gedung serba guna milik rekan bisnis Alfa. Mereka juga bertemu dengan pemilik gedung itu.

"Biayanya, cukup iklankan semua berlian milik ku di setiap stasiun tivi milik mu gratis selama setahun."

"Oke." Alfa menjawab tanpa ragu. Sementara Delta hanya terdiam melihat kedua orang itu.

"Pemiliknya….masih muda." Delta akhirnya bicara ketika mereka memasuki gedung.

Alfa menatap Delta dengan pandangan tidak suka. "Dia seumuran dengan ku. Apa aku terlihat tua? Dan dia sudah menikah, jangan naksir padanya!."

".…" Delta melongo menatap Alfa. Hei Pak!, aku kan hanya bilang tentang dia yang terlihat muda. Kenapa malah merembet ke yang lain sih?

"Wow…" Hanya itu ungkapan yang keluar dari mulut Delta, menggambarkan betapa besar dan mewahnya isi dalam gedung itu.

"Aku bisa membuatkan yang jauh lebih besar, jangan  terlalu kagum begitu. Sisakan rasa kagum mu untuk gedung serba guna milik ku."

"…." Delta menoleh ke pria yang sedang bersikap kekanak-kanakan di sampingnya itu. "Untuk apa kamu bangun gedung serba guna?"

"Tentu saja untuk keperluan meeting, banyak aktor dan artis, juga produser yang datang ke perusahaan ku agar mereka bisa tampil di salah satu stasiun TV milik ku. Kadang wawancara, atau variety show, juga butuh tempat yang luas."

Oh. "Bukankah tempat ini terlalu besar? Berapa banyak tamu yang kamu undang?"

"Mungkin sekitar 10.000 undangan."

"…." Itu orang semua?

Alfa tersenyum ke arah Delta yang melongo ke arahnya. "Sebenarnya….aku lebih suka tidak mengadakan pesta. Tapi….sebelum kakek meninggal, dia bilang pada ku, ingin semua keluarga besar kakek dan nenek di undang karena aku cucu kesayangan mereka akhirnya menikah. Lalu….sebelum insiden itu, semua rencananya sudah di siapkan oleh mereka. Tentang bagaimana agar orang tuamu menyetujui pernikahan kita. Tentang desain baju pernikahan yang di desain oleh ibuku, tentang lokasi pernikahan yang harusnya di adakan di Dubai. Bahkan tentang di mana kita akan bulan madu." Alfa mengakhiri penjelasannya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku….ingin mengabulkan semua permintaan itu, mengabadikannya dalam sebuah video. Meski kakek nenek tidak bisa melihatnya, setidaknya kita bisa tetap berharap orang tua ku melihat momen bahagia itu nanti."

Delta mengerti hal itu. Ia tak mau Alfa larut dalam kesedihannya lagi jadi Delta mengatakan kalau semua itu ia serahkan pada Alfa.

Setelah dari gedung itu mereka makan malam di luar dan saat itulah Alfa baru ingat tentang Dafa dan Nafta.

"Nafta menjadikan Dafa sebagai the little cupid nya. Calon adik ipar mu sangat menyukai anak kecil. Jadi sebagai hadiah telah membuat kita nggak jadi ribut besar, Dafa di pinjam setiap sepulang sekolah."

"….." Alfa tak bisa memberi komentar apapun.

"Besok kita foto prewedding di salah satu studio di perusahaan mu. Kamu suka konsep apa?"

Alfa berpikir sebentar. "Konsep kerajaan Palembang, kamu pakai songket dan aku…..kamu kenapa??." Alfa heran melihat Delta mendadak menyunggingkan senyum.

"Dulu….pernikahan ku memakai adat Palembang, foto prewedding ala kerajaan Sriwijaya dan….

"Oke. Ganti konsep!"

".…" Delta kembali menyunggingkan senyum, lalu mengangguk.

"Gimana kalau fairy tale? Mmm…. Cinderella?"

"Wow….berdasarkan fakta ya Pak? Kamu pangerannya dan aku gadis miskin nya?"

"….." Alfa segera mencari ide lain. "Putri Duyung?"

"Ma'af tapi aku nggak bisa berenang, konsepnya pasti main air kan, hahaha."

".…" Oke. Apalagi? "Putri Salju, kamu tiduran dan aku akan memberikan ciuman manis untuk membangunkan mu."

Delta mundur selangkah. "Kamu nggak niat melakukan pelecehan seksual di depan publik kan?. Ma'af tapi kita di fotoin orang loh Pak!."

".…" Sial! Nggak boleh ada ciuman mesra ternyata.

"Beauty and the Beast gimana?" Kali ini Delta yang memberi saran.

Tapi saran itu langsung di tolak mentah-mentah. "Aku ganteng gini mana cocok jadi Beast, apalagi pangeran bodoh itu di kutuk. Cih! Ogah deh!"

"…." Dasar narsis! "Terus apa? Pangeran Kodok? Ah tapi itu juga kena kutukan ya! Mm…..Si kerudung merah?" Delta tersenyum lebar. "Cocok banget tuh, kamu kan mirip serigala, hahahaha~"

"…." Alfa terdiam. Ia berpikir sebentar dan akhirnya mengangguk setuju. "Hmm...ide bagus. Aku emang ada niat memakan mu kok, tinggal nunggu waktu aja!"

What?!!

"Nah, deal, besok kita foto prewedding dengan konsep 'Si kerudung merah'. Oke!Ayo pulang."

"…."

Dan tentu saja, Delta tak di beri kesempatan untuk menolak ide itu.

🌸🌸🌸

The Last Chance (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang