Eli tersenyum simpul melihat tangan kecil yang melingkari perutnya, "Moca.. aku tidak bisa pergi melayani Pangeran Yo, kalau kau menahanku begini.." Moca yang setengah sadar itu mendengarnya. "Pangeran?" Ia bersuara lirih sebelum perlahan membuka matanya menatap manik kakaknya.
"Pangeran dan Putri adalah orang yang harus kau hindari.." Ia menatap ke langit-langit. "Kalau kau ketahuan berada disini, aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi Putri Yo.."
Moca mengusap matanya, membiarkan Eli bangkit dari tidurnya. Sementara Eli mengganti bajunya, Moca berjalan masuk ke ruang mandi untuk menggosok giginya.
"Madam Sarah.." Moca mengucapkan kata-kata yang membuat Eli teringat akan apa yang telah ia bincangkan tadi malam. Eli melihat ke arah Moca, berpikir sebentar. "Moca.. apa kau keberatan kalau aku memotong rambutmu sedikit lebih pendek?"
Moca hanya mengangguk setuju.
Eli memotong rambut Moca sepanjang dari ujung kelingking hingga ibu jarinya. Setelah dipikir, ia kembali memotong dengan ukuran yang sama hingga tinggal tersisa sebahu. Moca hanya percaya saja pada Eli ketika ia mendapati rambutnya memiliki model yang sama dengan milik Eli sendiri. Melihat ekspresi Moca yang tenang membuatnya lega. "Madam Sarah tidak suka dengan anak perempuan" Ia berbicara omong-kosong.
"Kau harus baik-baik dan melakukan sesuai yang Madam Sarah katakan saat aku tidak ada. Meskipun ia kelihatannya dingin, ia orang yang pengertian." Eli memakaikan baju lamanya pada Moca dan membuatnya persis menjadi lelaki muda dengan figur lebih kecil.
Ia menggandeng Moca turun menikmati sarapan. Ruang tengah terlihat sepi karena hari sudah cukup siang. Beberapa orang yang melihat Eli turun memberikan hormatnya dan menyapa sedikit sembari mencuri lihat akan figur kecil di sebelahnya.
"Pagi, Madam Sarah" Ia terlebih dahulu menyapa wanita penjaga rumah itu. "Pagi, Eli." Ia sedikit terkesiap melihat figur yang tadinya berambut panjang itu berubah menjadi seorang bocah lelaki. "Pagi, pemuda kecil." Ia cukup terhibur akan itu.
Setelah Eli pergi, Monica berhadapan dengan Sarah. "Kau tidak marah? Sebagai seorang gadis kau harus hidup sebagai seorang lelaki." Ia duduk di sofa sementara gadis itu berdiri didepannya, hanya diam.
"Hm? Katakan sesuatu.." Sarah tidak selembut itu, mengingat ia merupakan penjaga dari setidaknya 20 pemuda disitu. "Apa kau tidak menjawab karena tidak tau caranya? Atau karena kau tidak bisa berbahasa? Atau kau bisu atau pura-pura bisu?" Moca hanya menatap halus tanpa suara.
"Moca?"
Mendengarnya memanggilnya, Moca tidak takut bertatapan langsung dengan Sarah. Sarah yang diberikan pandangan dari mata perak itu diam, menunggu kalimat yang hendak dikatakan Moca.
"An_da mau mendengar saya?" Ia memiringkan kepalanya bingung.
Sarah : "..." Otaknya memproses, pertanyaan tidak masuk akal apa yang ia baru dengar.
"Kau. Sini." Sarah menggandeng dan berjalan menuju sebuah piano. Ia menekan tutsnya, memainkan sepintas potongan musik. "Piano saja di dengar, kenapa kau pikir kau tidak akan didengar?"
Moca menatap linglung piano itu. Ia menggeleng. "Tidak. Piano juga akan tetap diam ketika tidak ada yang memainkannya." Ia yakin tidak salah.
"... Kenapa kau menyamakan dirimu dengan piano itu? Itu karena Piano tidak punya kekuatan untuk menggerakkan dirinya sendiri, tapi kau punya." Sarah berdecak kesal.
"Aku.. tidak ada orang yang melihatku didalam ruangan itu lama sekali.."
Kalau saja ia masih seorang bayi ia akan menangis. Ia kesal karena mereka mengabaikannya sendirian didalam kegelapan. Begitu lama sampai ia merasa menjadi bagian dari gelapnya ruangan.
"Aku tidak bisa keluar meski aku berusaha"
"Liel, karena dia yang mengeluarkanku dari sana dia juga yang akan menggunakanku, aku miliknya."
Sarah kurang lebih paham, mengapa kalimat konyol itu jadi terasa serius ketika gadis itu yang mengucapkannya. Ia mengamati gadis itu dalam diam.
"Lalu, kenapa kau meninggalkannya? Bukankah dia itu punyamu?" Sarah memulai topik yang baru tanpa subjek yang jelas, tapi ia tahu gadis itu akan mengerti.
"Karena Liel tidak membawanya.. aku juga tidak mau kembali kesana.."
"Hmm.. kalau begitu ia akan kesepian." Ia sedikit tersenyum ketika melihat Moca terdiam. "... ia pasti sudah terbiasa." Moca bergumam. "Bukan berarti aku tidak kesepian ketika aku bermain dengannya.. aku yakin ia juga begitu."
"Kau tidak mau mengakuinya?"
"Apa?" Kali ini Moca memalingkan wajahnya, pura-pura tidak mengerti.
"Ia sudah bersama denganmu selama dua tahun di sana.. Ia pasti merasa pemiliknya sudah membuangnya begitu saja.." Sarah menjahilinya lebih jauh. "Kau tidak tau mungkin ia sedang menangis disana.."
"Tidak mungkin.." Wajahnya sedikit memerah.
"Ia kan sama sepertimu, menurutmu kau tidak akan menangis kalau Eli membuangmu?" Ia menatap cepat mata Sarah, tidak percaya ia akan mengucapkan kata-kata yang begitu menakutkan. "Seperti kemarin.."
"Ah.. huks.." Ia mulai terisak. Ia berusaha menghapus air matanya dan berkata cepat sambil terisak. "Aku akan menjemputmu, tunggu sebentar.." ia berbalik berjalan menjauh, tapi tangan Sarah menahan tangannya. "Lepas hua.. Dia.. mungkin sedang menangis.."
"Moca, kau tau harusnya tidak begini. Kau hanya tinggal mengakuinya saja.."
"Katamu dia sedang menangis.. Repas, aku akan minta Liel menjemputnya." Sarah jadi kebingungan mengetahui gadis itu menganggapnya serius, tapi ia berniat menyelesaikannya disini.
Sarah melihat ke sekitar, sulit menemukannya karena itu adalah asrama pria. Ia bergegas cepat, mengambil sesuatu dari atas nakas. "Kau lihat miniatur ini?"
Tar!
Ia membanting miniatur itu ke lantai, membuat seisi ruangan itu terdiam. "Madam Sarah, apa yang terjadi?" seorang pemuda lari mendekat. "Diamlah, aku harus mengajari bocah ini sesuatu." Pemuda itu langsung mengerti, ia hanya bisa tersenyum miring pada sosok pemuda kecil itu berharap tidak ada hal buruk yang terjadi padanya.
Moca pun terdiam, ia tidak berani melihat ke arah pecahan keramik itu. Tangan Sarah memegang lengannya, memutar badannya ke arah pecahan keramik itu. "Lihat itu.." Gadis itu tetap memalingkan mukanya, wajahnya memucat. "Aku bilang lihat itu!"
Ia membuka matanya perlahan, melihat pecahan keramik itu. "Ia tidak bisa menangis, ia tidak berbicara bahkan bila kau menekannya atau merusaknya."
"Kau hanya perlu tahu bahwa patung tidak bisa menjadi seperti manusia."
"Dan bonekamu tidak bisa menjadi seseorang hanya karena menemanimu selama dua tahun."
"Dan kau tidak bisa menjadi sebuah barang hanya karena kau telah dibuang."
Eli membuat gadis itu kembali melihat dan Sarah membawa cahaya kembali ke matanya.
Moca menangis lebih keras. Sesederhana perasaan kecewa, marah, dan sedih yang bercampur. Ia tidak bisa menjelaskan alasannya menangis dengan kata-kata. Ia belum cukup kosakata untuk bisa menjelaskan perasaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Moca
Historical FictionTerlahir sebagai pembawa sial ? Tema : Kerajaan . . . Kritik dan saran sangat diperbolehkan :) Bukan plagiasi dan tidak boleh :v revisi berlangsung sangat pelan karena sibuk #1 princess 07-08-2021 tanggal ditulis: 30-3-2020 s/d 01-01-2021
