Setelah perjalanan panjang seminggu lamanya, akhirnya pasukan Ji dan Eli sudah sampai pada markas besar masing-masing.
Pasukan Eli telah sampai dimana mata mereka bisa melihat jelas tanah pasir yang ada diseberang. Sementara pasukan Ji sudah sampai dimana mereka tidak melawan pasukan musuh tetapi melawan badai salju yang menyeramkan. Oleh karena badai salju yang menyulitkan kedua pihak, pertarungan ditunda. Satu hari dua hari berlalu, tetapi seminggu itu hujan salju terus turun membuat jalanan tertutup salju setinggi 1,5 meter. Itu semua agak diluar dugaan. Tidak perlu berperang, mereka sudah mati-matian mencari kayu dari pohon yang tumbang untuk dibakar.
Ji terlihat duduk dengan tenang di meja kerjanya. "Pangeran Yo, kalau perang terus diundur, bukannya mereka tampak mempersiapkan sesuatu?" Andrass masuk ke dalam tenda yang hangat itu. "Hn" Ia juga lelah terus menunggu, disaat-saat seperti ini barulah ia merasa lebih baik tinggal di istana yang hangat.
"Apa kau sudah menyiapkan sesuatu?" Ji mengangguk. "Baiklah, aku hanya khawatir udara dingin mungkin membekukan sel otakmu juga. Aku akan memanggil mereka untuk rapat kalau kau sudah selesai."
Andrass keluar dari tenda, tidak jarang seluruh kakinya terendam dalam salju untuk bergerak mencari kayu. "Hah.. setinggi ini, aku yakin bocah itu langsung menjadi patung es kalau kemari" Moca.
Dan butuh seminggu lagi lamanya agar jalur pertempuran mereka cukup baik. Setidaknya mereka tidak langsung mati beku untuk berjalan dari markas ke medan tempur.
Mereka tidak bisa saling membaca situasi sama lain. Mereka tidak tahu kondisi maupun taktik yang tengah dirancang. Namun, Ji sudah tidak bisa menolerir lagi ketika surat untuk menunda peperangan kembali disampaikan.
Ia memulai pergolakan terlebih dahulu dengan meledakkan bom di tengah padang salju. Seperti yang Ji duga, sebenarnya pasukan utara sudah siap gempur. Segera setelah bom diledakkan, pasukan musuh langsung berbaris dan siap melawan. "Ah.. menjengkelkan.." Ji tersenyum miring. "Sampaikan, rencana 3-d-9-9-1" Andrass mengangguk dan segera pergi untuk menyampaikan pesannya pada Pascal.
Sama seperti belajar selama 3 tahun untuk 6 jam ujian kelulusan. Mereka sudah berpengalaman dengan banyak peperangan selama dua dekade terakhir.
Salju memang mengganggu, tapi bukan masalah besar bagi mereka yang berlatih setiap hari.
Ji memimpin beberapa ribu pasukan yang memiliki daya tahan fisik baik dan maju lebih dahulu melawan puluhan ribu pasukan musuh.
3 jam sudah berlalu, bahkan Ji sendiri agak tidak percaya ketika semua pasukannya terlihat sama sekali tidak lelah. Mungkin tentara Emeria memang ahlinya. Ia tersenyum tipis.
Pasukan musuh sudah terlihat kelelahan bahkan hanya dengan mengoyan-ayunkan pedang mereka. Kini tinggal pasukan sisa pasukan yang akan dipimpin Paskal dari arah kanan, Andrass dari arah Kiri, dan William yang sudah menyusup hingga ke belakang.
Pengepungan sudah dilakukan. Peperangan selesai dalam waktu 5 jam. Demi rakyatnya, mau tidak mau Kerajaan Utara jatuh ke tangan Emeria.
Kemenangan mutlak berada di tangan Ji. Tidak ada pasukan yang cedera parah bahkan meninggal. Kemenangan yang terlalu mudah memang agak membingungkan.
"Apaan? Kita menunda berminggu-minggu untuk perang yang bahkan selesai kurang dari setengah hari? Apa kita benar-benar menang? Ini bukan jebakan?" Semua pemuda itu merasa waspada dengan pola pikir yang sama, bahwa ini mungkin adalah jebakan.
Ji, Pascal, dan Andrass pergi untuk menyelesaikan semuanya di Istana Kerajaan Utara.
"Ck, apa maksud Anda, Raja Leitonian?" Ji tidak menyembunyikan kerutan di antar alisnya. Ia langsung gamblang menunjukkan kekecewaannya begitu melihat Raja Kerajaan Utara di ruang rapat istana.
"Anda tampak bermain-main.. Taktik mengulur waktu untuk menyiapkan jalur rahasia, tapi 45.000 pasukan dengan kekompakan yang payah, persiapan 10 bulan, membuat Raja Emeria marah karena perang terus-terusan terjadi.. tapi belum 1 hari kami bertarung, pasukan anda sudah kelelahan dan kalah telak.."
"Apa Anda benar-benar bercanda atau Anda tengah mempersiapkan kejutan lainnya?" Raja Leitonian hanya diam.
"Tidak ada, kami tidak menyiapkan apa-apa" Raja Leitonian bersuara pelan.
Brak! Pintu kembali dibuka keras. "Jangan pura-pura tidak tahu, Pangeran Yo!" Seorang pangeran berusi 23 tahun dengan marah masuk kedalam. "Berapa kali kupikir, Kerajaan Emeria lah yang merencanakan ini semua." Perkataan itu membuat Ji semakin mengernyit.
"Seluruh mata-mata kami.. Berapa yang Emeria bayar menggantikan mereka?! Mereka semua mengirim informasi tentang Emeria yang berada di ujung tanduk, dan meminta kami untuk mempersiapkan rancangan selanjutnya, bahkan seolah mendikte kami atas semua yang harus kami lakukan."
"Emeria di ujung tanduk?" Pascal hanya berpikir omong kosong apa yang tengah terjadi.
"Bukankah, Kerajaanmu sendiri yang merancang ini Pangeran Yo Ji?!"
"Ck, hentikan. Emeria tidak bermain kotor. Salahkan kebodohan mata-matamu sendiri." Ji duduk ke kursi. "Keluarga Raja Leitonian, sesuai dengan perintah Raja Emeria, harus diasingkan ke pesisir barat dan semua harta wilayah dan kekuasaan akan jatuh ke tangan Emeria." Semua itu harus ditulis dan dicap menggunakan stamp kerajaan.
Kesal. Ekspresi itu tidak terlepas dari wajah Ji setidaknya selama 3 hari perjalanan pulang bersama dengan sandera Raja Leitonian dan keluarganya.
Ia kesal karena ini sungguh buang-buang waktu, dan berapa nyawa yang melayang cuma-cuma. Apa orang-orang pikir pekerjaan sebagai ahli pedang adalah mencacah orang sembarangan?
Tidak hanya Ji, beberapa pasukan juga tampak tidak senang dengan kemenangan atau peperangan kali ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Moca
Historical FictionTerlahir sebagai pembawa sial ? Tema : Kerajaan . . . Kritik dan saran sangat diperbolehkan :) Bukan plagiasi dan tidak boleh :v revisi berlangsung sangat pelan karena sibuk #1 princess 07-08-2021 tanggal ditulis: 30-3-2020 s/d 01-01-2021
