MOLI.24

269 36 2
                                        

Hari-hari berlangsung layaknya hari lainnya. Gadis itu sedikit merasa sepi karena kakaknya sibuk bekerja, menetap di selatan. Ia mengurangi rasa sepi itu dengan membaur bersama pemuda lainnya. 

Mereka tidak diberitahu alasan pastinya, tetapi jam mereka untuk latihan ditambah begitu juga latihan fisik mereka. Berkemah di lapangan rasanya sudah menjadi hal yang biasa. 

Malam ketika latihan telah usai,  mereka mulai mencari hal untuk menyegarkan pikiran mereka. Seperti halnya Rey, Moca, Louis, dan beberapa lainnya. Moca memainkan piano, Louis memainkan ukulele, sementara Rey dan beberapa orang mulai bernyanyi, mars prajurit Emeria. 5 lagu mars itu selesai maka mereka mulai meracau bersenandung riang dengan nada seadanya. 

"Makan malam sudah siap!" Seseorang menyundulkankan kepalanya keluar dari pintu dapur untuk meneriakkan kata itu. Para pemuda itu langsung berhenti bermain, kini saatnya untuk memuaskan rasa lapar mereka. 

Moca dengan santai melompat dari balik kursi untuk duduk di atasnya. Sarah yang melihat kelakuannya sedikit heran, membuat Moca tersenyum tipis padanya. 

"Aish!" Moca tidak terima ketika Andrass mengambil daging dari piringnya. "Kalau begitu aku ambil punyamu" Ia mengangkat dan mencondongkan tubuhnya untuk meraih mangkuk Andrass. 

"Tubuhmu kan kecil kau tidak perlu banyak nutrisi." Moca kembali duduk kesal ketika mangkuk yang berisi kaldu lengkap dengan isinya itu ditarik oleh Andrass. 

"Pfft, hahah. Ini kau ambil punyaku." Louis meletakkan daging ke piring Moca. "Oh" Moca tersenyum senang, "Louis terimakasih." 

Moca menyendokkan makanan itu menggunakan tangan kirinya sementara tangan kanannya bermain adu jempol dengan Roy. "Ck, kalah lagi" gumam Moca. Roy hanya menggeleng pelan, bertanya-tanya apa Moca tidak menyadari ukuran tangannya yang jauh lebih kecil. 

Saat ini Moca adalah anggota termuda di camp mereka, bukan karena mereka tidak merekrut anggota baru, tetapi anggota baru itu tidak selevel dengan mereka yang tinggal di istana. 

Hari kembali pagi ketika Moca loncat keluar dari kamarnya, pergi ke dapur untuk mencari camilan. "Yo!" Andrass masuk ke dapur menyapanya. Moca langsung tersenyum lebar. "Andrass lihat ini!" Ia meloncat dari lantai ke atas meja. "_" Andrass agak terkejut melihatnya. 

"Belakangan ini aku melatih lompatanku agar lebih tinggi, lebih jauh." Ia melompat dari meja satu ke meja lima dengan mudahnya. "Gimana?" Andrass mengangguk santai melihatnya. "Mayan." 

Melihat Moca yang kelihatannya bersemangat itu turut menaikkan moodnya, "Ah, hari ini aku tidak latihan." Andrass sekedar memberitahu. "Hm? Why?" 

"Aku akan pulang ke rumah mungkin beberapa hari." Ia mengangguk pelan. "Ini sudah kembali tahun baru, jadi mungkin tidak hanya aku yang pulang." 

"Yaho!" Louis masuk ke dalam mengganggu obrolan mereka. "Aku juga akan pulang!" Ia tersenyum sambil berjalan mengambil beberapa snack dari dalam lemari. 

"Bagaimana denganmu? Kau tidak pulang?" Louis bertanya pada Moca. "Kau adik kandung Eli, kan?" 

Moca terdiam, sebelum ia tersenyum miring. "Ah, kurasa tidak pulang?" Moca dapat melihat mimik wajah mereka yang menanyakan alasan dibalik perkataannya. "Berbeda dengan Eli yang berbakat pada dasarnya, kalian tau seberapa payahnya aku saat pertama kali datang kemari.. Keluargaku bahkan tidak berani mengeluarkanku dari kamar saat itu, eumh." Moca mengendikkan bahunya. 

"Ey, kau sudah berkembang pesat sejak pertama kali kau kemari.. Keluargamu pasti juga merindukanmu.." Andrass hanya terdiam membaca situasi. 

"Hm" Moca tersenyum kepada Louis. "Aku dengar kemarin Gerard membuat selai stroberi, kita coba bersama?" Moca membuka pintu rak dan mengambil setoples selai. "Kalian pulang saja.. aku yang akan menghabiskan selai-selai ini.."  Mendengarnya membuat suasana kembali berteman.

"Kenapa kau terobsesi sekali dengan makanan?" Moca mengendikkan bahunya. "Benar, kau sangat menyukai makanan." Louis menambahi. Moca tidak menjawab, entah berkat maagnya atau karena ia benar-benar menyukainya yang penting kini selai itu sudah masuk ke mulutnya. 

.

.

.

"..."  Rey mengamati Arka yang melamun melihat ke hutan Emeria. Ia memandang lama sampai akhirnya sosok itu berbalik dan berlari menghampirinya. "Sekadar beri tau.. aku jadi mual melihat warna pink sana sini.." Rey mengernyit. "pink aja? Kita udah dihutan dengan warna hijau setahun?" Arka mengangguk. "warna itu mengganggu sekali di mataku." Ia berjalan masuk ke tenda menghampiri teman yang lain, meninggalkan Rey yang kembali memandang ke seberang sungai.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, mereka tumbuh tinggi dengan pesat, kecuali sang kakek. 

Rencana mereka kini adalah pergi ke pusat kerajaan, mendaftar menjadi pemimpin pasukan depan dan tinggal di istana. 

My MocaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang