Haloo semua yeay update, selamat datang kembali di Alkatrix. Buat yang baru baca cerita ini, salam kenal ya semua.
Jangan lupa vote dan komen ya. Biar aku tambah semangat nulis dan untuk saling menghargai juga.
***
Rara terus menggenggam tangan kanan Arga, laki-laki yang kini terbaring di ranjang UKS. Rara khawatir, sangat khawatir. Ia terus mengoleskan minyak angin di sekitar dadanya. Tentunya baju seragam Arga telah dibuka dua kancing bagian atasnya hingga memperlihatkan otot dada bidangnya.
Rara terus mengoleskan minyak angin ini. Tubuh Arga terasa sangat dingin. Beruntung nafas Arga telah berjalan normal kembali saat dibantu oleh dokter yang sengaja di telpon kemari.
Mata Arga masih tertutup, mungkinkah ia tidur. Rara terus meneliti setiap sudut wajah yang dibuat oleh Tuhan sedemikian indahnya. Bulu mata lentik, alis yang tebal, hidung mancung serta rambut yang sedikit kecokelatan. Sungguh, sepertinya Arga benar-benar maha karya Tuhan yang indah bagi Rara.
Pikirannya kembali bergulat. Ia tidak percaya apakah wajah seindah ini telah membunuh kakaknya? Apa motifnya? Kenapa Arga tega melakukan itu? Oh tentu saja. Arga ini ketua Alkatrix, bisa saja ia menyakiti siapapun.
Ingin sekali ia berbicara langsung dengan Arga. Ingin ia menonjoknya, mencaci, bahkan kalau perlu Arga harus merasakan apa yang Rafael rasakan. Namun, rasanya ia belum sanggup menyadari jika Arga pelakunya. Berat untuk mengakui kesalahan besar yang dilakukan oleh orang yang kita sayangi. Sesempit inikah dunia, mempertemukan Rara dengan orang yang menghilangkan Rafael.
Perlahan kedua mata Arga terbuka. Ia langsung memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Sesekali ia menutup matanya lalu menggeleng pelan. Sampai akhirnya Arga baru menyadari keberadaan Rara disampingnya saat tangan kanannya terus digenggam oleh perempuan ini. Arga sedikit terkejut saat ia sadar baju seragamnya terbuka. Jangan bilang jika Rara telah balas dendam padanya lalu melecehkan dirinya. Huwahh harga diri cumi telah hilang.
"lo mau apain gue?!" tanya Arga panik.
Kenapa panik? Bukankah dulu Arga sengaja memamerkan tubuh atletisnya pada Rara saat di markas dulu?
"aku gak berbuat aneh-aneh, cuman ngolesin minyak angin aja ke dada kamu. Kamu minum dulu nih," ujar Rara sebari menyerahkan gelas berisikan teh manis hangat.
"sini gue bisa sendiri!" sewot Arga. Belum sempat ia merubah posisinya menjadi duduk, kepalanya sudah terasa pusing kembali.
"kalo gak bisa sendiri itu bilang aja, minta bantuan ke orang lainpun gak akan bikin harga diri kamu jatoh kok Ga," ujar Rara.
Rara langsung berdiri untuk membantu Arga minum. Tangan kirinya membantu punggung Arga agar lebih tegap serta tangan kanannya yang memegang gelas dan membantu Arga untuk meneguk airnya.
"kamu belum sarapan ya?" tebak Rara. Ia mengambil sebuah mangkuk bubur yang ada di nakas.
"makan bubur dulu ya sedikit aja, biar kamu gak terlalu lemes," ujar Rara. Ia menyuapi Arga dengan bubur ayam yang sengaja ia beli di kantin.
Arga diam, membeku di tempatnya. Matanya terus menatap dinding UKS agar tidak berkontak mata dengan Rara. Ia tidak menolak diperlakukan seperti ini oleh Rara. Ada sebagian hatinya yang menghangat. Hangat saat bersama Rara.
Sudah lama ia mengacuhkan perempuan ini. Sudah lama pula hubungannya tidak berjalan baik. Keterlaluan jika ia terus mengacuhkan Rara jika gara-gara Tristan. Bukankah Rara telah menjelaskan semuanya pada Arga. Tapi tetap saja rasanya ia benar-benar cemburu. Tunggu, cemburu? Hah bukannya Arga bilang sudah ada Nida saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALKATRIX [COMPLETED]
Roman pour AdolescentsSolidaritas? Brutal? Teka-teki? Cinta? Perjuangan? Selamat datang di Alkatrix! "Bagi gue gak ada yang namanya kebetulan, semua itu udah direncanakan Tuhan. Termasuk lo Ra," Jaeson Difarga Pratama, sang ketua Alkatrix. Laki-laki labil yang dipenuhi d...
![ALKATRIX [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/221872854-64-k591258.jpg)