Siang ini perpustakaan terlihat sepi hanya ada beberapa murid yang sibuk dengan bukunya. Perpustakaan sekolah ini menyediakan berbagai fasilitas yang lengkap untuk muridnya.
Rara takjub dengan perpustakaan ini, luas dan sangat rapi. Tentunya tersedia bermacam-macam buku. Sudah seperti perpustakaan kota saja. Andai ia punya tempat seperti ini, pasti hidupnya bahagia dan sejahtera.
Ia memang hobi membaca, baginya membaca adalah alat untuknya mengenal dunia tanpa harus berkeliling dunia.
Rara menjadi teringat saat ia masih kelas XI dulu. Ia tak pernah absen ke perpustakaan saat di sekolah. Saat jam istirahat atau jamkos ia selalu datang kesini. Tak heran jika teman-temannya sering menyangka bahwa ia cewek gila belajar.
Seperti saat ini tengah duduk di kursi paling ujung dekat dengan jendela. Kursi ini sudah menjadi kursi favoritnya disini. Jam segini memang bagus untuk membaca buku apalagi ditemani sinar matahari yang masuk dari jendela. Itung-itung bisa berjemur kan.
Hmm
Suara seseorang di depannya ini merusak konsentrasi dan ketenangan Rara. Ia mendongkak dan melihat siapa pelakunya ini.
kang kulkas berjalan ternyata, batinnya.
"paan? "
Arga duduk tempat di depan Rara dengan kedua tangan yang dilipat diatas meja, dan pandangannya terus menatap Rara dengan senyum yang merekah di wajahnya.
Dahi Rara mulai berkerut melihat tingkah lelaki di depannya. Suatu hal yang aneh jika Arga tersenyum lebar seperti ini. Ia mulai menempelkan punggung tangannya pada dahi Arga.
Gak panas, terus nih cowok kenapa? Kesurupan setan perpus kayaknya. Barin Rara.
"lo kenapa sih? Kesambet? " Arga hanya menggeleng menjawab pertanyaan Rara.
"terus kenapa? Lo sakit? " tanya Rara lagi.
Lagi. Arga kembali menggelengkan kepalanya membuat Rara semakin heran sekaligus takut dibuatnya. Rara menghela nafasnya kasar Arga selalu membuatnya naik darah.
" Arga lo kenapa? "
Tak ada jawaban lagi.
" Arga! " dan kini Rara berteriak membuat murid yang lain serta ibu Ika penjaga perpustakaan pun menoleh padanya.
Rara meminta maaf pada semuanya lalu kembali menatap tajam pada Arga.
"di perpustakaan tuh gak boleh berisik " Arga memperingati Rara dengan jari telunjuk yang digerakan ke kanan kiri.
"ya karna lo Arga "
"lah kan gue diam aja dari tadi"
Sudah cukup mood Rara untuk membaca sudah lenyap ditelan monster cumi di depannya ini. Ia mulai merapikan bukunya dan menaruhnya kembali di rak. Rara pergi meinggalkan perpustakaan tanpa memerdulikan Arga yang terus cengengesan tanpa dosa di sana.
Rara terus berjalan dengan cepat ia tak ingin disusul oleh Arga. Namun langkah Arga tentunya lebih cepat, dan berhasil menjajarkan tubuhnya dengan Rara.
Mata Arga tak ada hentinya melirik ke samping yang menampilkan seorang gadis dengan rambut panjang sepunggung yang tergerai. Entah kenapa hati Arga merasa sangat tenang saat berada disamping gadis ini.
"lo ngapain sih ngikutin gue terus? " langkah Arga kini terhenti saat mendengar suara milik Rara. Ia membalik badannya dan menatap datar Rara.
"siapa yang ngikutin lo. Gue mau ke kantin " Arga melanjutkan langkahnya ia tersenyum tipis saat melihat wajah marah dari Rara.
Rara tak habis pikir dengan kelakuan seseorang yang dijuluki most wanted ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALKATRIX [COMPLETED]
Ficção AdolescenteSolidaritas? Brutal? Teka-teki? Cinta? Perjuangan? Selamat datang di Alkatrix! "Bagi gue gak ada yang namanya kebetulan, semua itu udah direncanakan Tuhan. Termasuk lo Ra," Jaeson Difarga Pratama, sang ketua Alkatrix. Laki-laki labil yang dipenuhi d...
![ALKATRIX [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/221872854-64-k591258.jpg)