29. Difarga Diana

5.7K 306 3
                                        

✨Selamat membaca✨
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan vote dan komen yaa semua

***

"Arga laper,"

"mau makan dimana?" tanya Arga dibalik helmnya.

"tuh didepan ada tukang mi ayam, disitu aja yak,"

Arga langsung menepikan motornya disamping gerobak mi ayam berwarna coklat itu. Mi ayam yang cukup ramai oleh pembeli ini membuatnya laris manis. Mi ayam dengan harga 8 ribu rupiah satu porsi. Murah, pikir Arga.

Sepertinya semua teman-temannya sudah kembali ke markas. Pasalnya di SMA Wijaya ia tak menemukan anak Alkatrix satu pun.

"mang mi ayam dua,"

"muhun, mangga diantos neng," ucap penjual mi ayam itu. (baik, silahkan ditunggu neng,)

"hasilnya udah ada?" tanya Arga. Ia melepas jaket hitam parasutnya menyisakan kaos hitam polos.

"belum, katanya nanti senin baru dikasih tahu pengumumannya," ucap Rara dan Arga pun mengangguk.

"punten neng, ini mi ayamnya,"

"nuhun mang," ucap Arga. Penjual itu tersenyum dan kembali ke gerobaknya untuk melayani pembeli yang lain.

"arwgwa,"

"abisin dulu makanan yang dimulut, baru ngomong,"

Rara tertawa, ia menatap Arga lekat. "gak usah liatin gue mulu Rara," ucap Arga

"ganteng ya?"

Rara mengangkat bahunya acuh, tak hanya kejam rupanya Arga ini terlalu percaya diri.

"Arga kenapa mukul Tristan?" tanya Rara pelan. Pengunjung mi ayam ini sedikit berkurang. Hanya ada mereka berdua dengan seorang ibu beserta ketiga anaknya.

"pengen aja," jawab Arga cuek.

Rara berdecak, "aku serius, terus kenapa kamu mukul preman waktu itu sampe dibunuh Ga," seketika Rara jadi ingat sesuatu yang harus ia tanyakan pada Arga.

Arga hanya mengaduk-ngaduk mi ayamnya tanpa minat, hatinya seketika tergores begitu saja. "masa lalu yang bikin gue jadi kayak gini,"

"maksudnya?"

Arga diam, sorot matanya tajam. Bahkan dadanya terasa sesak saat ini. Rara menyadari seketika perubahan Arga ini. Ia mengelus punggung Arga berusaha menenangkannya. "sorry aku nggak bermaksud apa-apa, kalo nggak mau cerita juga gak pa-pa kok,"

"adik gue Ra," ucap Arga pelan. Dahi Rara berkerut, adik? Ternyata Arga mempunyai adik.

"dulu gue punya adik, adik gue cewek. Namanya Diana Pratama. Dia cantik, cerdas, polos, dan dia segalanya buat gue setelah Bunda. Gue sama dia beda 2 tahun, dia bener-bener cewek yang riang, dia selalu buat gue tersenyum. Tapi itu dulu," ucapan Arga terhenti. Ia merasa tak kuat untuk menceritakan ini semua. Matanya mulai memerah.

"pas gue baru kelas 9 SMP dan Diana kelas 7 SMP. Ada kejadian yang bener-bener bikin gue stress berat Ra. Dulu gue nemenin Bunda karena dia sakit dan harus dirawat. Ayah gue kerja ke luar kota. Dan Diana pamit ke gue buat pulang dulu ke rumah, gue bilang gue bakal anter dia pulang. Tapi dia nolak, katanya dia bisa pulang sendiri naik angkot, dan gue ngeiyain aja Ra,"

"tapi ternyata gue salah, gue bodoh. Bunda bilang kalau perasaannya nggak enak, kepiran mulu sama Diana. Dan akhirnya gue coba telpon dia tapi ponselnya gak aktif. Gue coba buat jemput dia di rumah karena gue khawatir,"

Arga menarik nafasnya dalam, dan menghembuskannya perlahan. "pas di jalanan sepi mata gue liat Diana, tapi anehnya banyak preman yang ngerumunin dia. Pas gue samperin ternyata bener itu adik gue. Ternyata dia habis dilecehkan sama preman-preman itu, bahkan diwajahnya banyak darah. Bajunya udah robek dimana-mana, bahkan gue liat rok yang dipakenya udah lepas,"

ALKATRIX [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang