Malam sudah semakin pekat, lembayung di ufuk barat tidak terlihat lagi. Penanda waktu Isya telah tiba. Tapi, warga belum bisa menemukan anak hilang itu.
"Pranata!" semua lelaki yang ikut mencari meneriakkan nama si anak hilang.
Cahaya obor berseliweran ke sana kemari. Lentera yang biasa dibawa ketika berkendara pun kini digunakan untuk menerangi sudut-sudut kampung.
Kebun warga, rumpun bambu, bahkan jamban umum pun sudah diperiksa tetapi belum ada tanda anak itu akan ditemukan.
"Raden, cara kita mencari anak hilang seperti ini aku rasa akan sulit. Karena, kita tidak punya petunjuk sama sekali," Bajra sering menyampaikan sebuah kesimpulan setelah mengamati keadaan. Anak remaja bertubuh gempal itu pandai mengamati pola-pola kejadian. Panca pun mengetahui kelebihan kawannya itu. Pemikiran Bajra ternyata bisa diterima.
"Ya, kurasa juga begitu. Sejak sebelum maghrib sampai sekarang waktu Isya, belum ada hasil sama sekali." Raden Panca menguatkan pendapat Bajra.
"Sebaiknya, kita bicarakan dulu dengan Paman Lurah agar pencarian kita lebih teratur."
"Baiklah, aku setuju dengan usulanmu. Ayo kita temui ayahku."
Raden Panca dan Bajra pergi menemui Lurah Bakti yang masih mencari ke arah yang berlainan. Mereka berpapasan dengan warga lain yang sama-sama sedang berkeliling kampung. Di antara mereka saling bertanya tentang hasil pencarian yang masih nihil.
"Ayah, bagaimana, apakah sudah mendapatkan hasil?" Raden Panca menemui Lurah Bakti yang sedang berkumpul dengan warga lain.
"Belum, belum ada hasilnya. Kamu sendiri bagaimana?"
"Belum, Ayah. Tapi, menurut Bajra sebaiknya kita harus punya petunjuk terlebih dahulu. Jika ada petunjuk, kita bisa tahu harus mencari Pranata ke mana." Panca menoleh kepada Bajra.
Bajra pun mengangguk sebagai tanda jika usulan itu memang harus disampaikan.
"Ya, Ayah setuju dengan usulan itu. Tapi, petunjuknya pun nyaris tidak ada. Kata teman-temannya, tadi sore mereka main petak umpet. Jadi, mereka tidak tahu di mana Pranata bersembunyi." Lurah Bakti menggelengkan kepala. "Tidak ada seorang pun yang tahu."
"Apakah mereka tahu ke arah mana Pranata berlari, Paman?" Bajra mencoba menyelidiki.
"Tidak ada yang tahu."
Mereka yang ikut berkumpul, sama-sama terdiam. Sama-sama berpikir meskipun tidak tahu harus memikirkan apa. Di antara mereka saling menatap, sebagai tanda tidak tahu harus berbuat apa.
Dari kejauhan, masih terdengar orang memanggil-manggil Pranata, nama anak itu. Kerlap-kerlip cahaya obor menjadi pertanda jika banyak warga yang masih mencari-cari hingga ke semak-semak.
Lurah Bakti pun nampak kebingungan. Kejadian anak hilang ini memang bukan pertama kali. Dulu, Raden Darma, anaknya sendiri pernah "hilang" seharian. Semua warga sibuk mencari. Ternyata, dia tertidur sejak siang hingga malam di gubuk sekitar kebun singkong.
Tapi, kali ini keadaannya berbeda. Kebun warga sudah didatangi, tapi tidak ada tanda-tanda Pranata si anak hilang berada di sana.
"Ki Lurah, apakah mungkin dia diterkam binatang buas?" seorang warga sekedar menyampaikan keheranannya.
"Huss, jangan berpikir yang macam-macam," warga lain pun segera menyangkal.
"Semua kemungkinan bisa terjadi. Tapi, kita berdo'a saja anak itu tidak apa-apa." Lurah Bakti tahu keadaan genting, tetapi dia berusaha agar pikiran warga Desa Pujasari tetap tenang.
"Atau ... jangan-jangan ...,"seorang lelaki yang bertubuh kurus menampakan wajah cemas.
"Jangan-jangan ... apa?"
"Dia digendol kelong wewe ...." Si lelaki kurus itu bergidik ketika bicara sambil mengarahkan pandangan ke atas pohon.
"Ah, jangan berpikir macam-macam. Lagipula, makhluk itu benar-benar ada? Kau pernah melihatnya?" Raden Bakti pun segera menyanggah.
Orang itu menggelengkan kepala. "Saya kan hanya menduga."
Suasana hening sejenak. Cahaya obor yang mereka pegang mulai meredup, pertanda kehabisan bahan bakar. Pelita yang semula terang benderang perlahan berubah menjadi sekedar cahaya remang-remang.
Ketika Raden Bakti dan beberapa warga sedang mencoba berpikir, tiba-tiba datang seorang pria dengan berlari. Nafasnya tersengal, seperti ketakutan.
"Ki Lurah ...," pria itu hendak melaporkan sesuatu. Kain sarung yang tergantung di leher dijadikan alat untuk mengusap bulir-bulir keringat.
"Ada apa? Anak itu ditemukan?"
"Belum ... tapi ... kita menemukan sesuatu."
Lurah Bakti bertanya dengan nada tinggi, "menemukan apa?"
"Domba-domba milik warga banyak yang mati ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Aksiyon"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
