Kapten Frederik tiba di tepi sungai ketika para warga berkerumun. Berita cepat menyebar, pagi itu banyak warga Ibu Kota yang penasaran ingin melihat bangkai-bangkai domba yang mengapung di sungai.
"Selamat pagi, Dokter."
Orang yang disapa sebagai dokter, hanya mengangguk sebagai tanda jika orang yang datang memang layak diberi sambutan. Lelaki berkacamata itu enggan untuk menoleh tatkala indera penglihatan serta pikiran fokus pada pekerjaan. Dia lebih antusias mengorek-ngorek bangkai hewan dibandingkan menyambut seorang serdadu yang datang sambil bergaya seakan merasa paling punya kuasa.
Dari atas kuda, Frederik bisa melihat dengan jelas betapa puluhan ekor domba mengapung seperti gundukan kapas di atas air. Dia segera menguasai diri ketika bau tak sedap menusuk hidung.
Sungai sebagai sarana transportasi utama kota itu, saat ini tak berfungsi dengan semestinya. Orang-orang enggan untuk mengayuh perahu di sungai karena tidak tahan dengan bau menyengat. Padahal, pagi hari biasanya menjadi saat tersibuk tatkala warga masih memilih sungai sebagai lalu-lintas perdagangan barang.
Sungai yang menjadi denyut nadi kehidupan berubah menjadi tempat mengerikan.
"Bagaimana hasilnya, Dokter?" Frederik bertanya pada dokter hewan yang telah selesai memeriksa seekor domba.
"Bangkai-bangkai ini tidak beracun. Mereka tidak keracunan. Kesimpulan saya sementara, mereka diterkam hewan buas. Terlihat dari lukanya yang mirip ... digorok di bagian leher ...," Dokter Hewan menjelaskan sambil merapikan peralatan medis yang dibawa.
"Baik ... apa yang harus kami lakukan?"
"Mengubur semua bangkai ini. Tapi, hati-hati jangan sampai menyentuh tangan. Saya belum bisa memastikan jika mereka membawa penyakit."
Frederik tersenyum kepada lelaki Eropa yang mengenakan jas putih di hadapannya. "Terimakasih, Dokter."
Tanpa banyak basa-basi, Kapten Frederik memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat puluhan bangkai domba di permukaan air ke daratan. Tentu saja seorang serdadu pun enggan untuk mengotori tangan mereka oleh bangkai hewan. Ketika memperhatikan begitu banyak warga yang berkerumun, maka tugas pun diserahkan kepada orang-orang pribumi tanpa alas kaki itu.
Batavia kala itu bukanlah kota yang terlampau padat. Masih banyak lahan kosong yang bisa dijadikan tempat untuk mengubur bangkai hewan. Sekedar menggunakan peralatan sederhana seperti sebatang bambu, tambang, dan cangkul maka urusan mengubur dianggap selesai.
Frederik bisa mempercayakan pengawasan pekerjaan demikian kepada anak buahnya. Tentu saja, tidak lupa tetap menenteng senapan di tangan.
Frederik bisa beristirahat sejenak. Duduk santai di bangku yang terpasang di bawah pohon beringin yang besar. Tangan kanannya merogoh saku kemudian menyalakan sebatang sigaret.
Baru saja satu kali hisap rokok di tangan, ada seseorang yang datang serta mengajak berbincang. "Hah ... ternyata Anda di sini, Kapten," dari arah belakang ada suara yang mengagetkan Kapten Frederik. Dia mengenali suara itu.
Tapi, kenapa hatiku berdebar. Kapten Frederik menoleh. Tampak seorang pria setengah baya menyeringai di hadapannya. Frederik pun segera menyapa, "Selamat pagi, Tuan." Frederik berdiri setelah tahu jika orang yang datang ke ternyata pejabat penting di Batavia.
"Saya dengar pagi ini terjadi kekacauan di sungai. Beritanya sudah sampai ke telinga Gubernur," Kumis tebal pria itu terangkat seakan dia memuntahkan kemarahan.
"Maafkan saya, Tuan Walikota. Saya berjanji akan menyelesaikan masalah ini dalam waktu dekat."
"Ooo ... kuharap begitu. Kota ini akan berubah jadi Ibu Kota paling mengerikan di dunia ... bukan lagi kota paling indah di Timur ... jika kau tidak menyelesaikan masalah ini dengan cepat."
Frederik mengangguk. "Saya paham, Tuan."
"Aku percaya padamu. Masalah ini akan selesai jika kau yang menangani."
"Terima kasih, Tuan, atas kepercayaannya."
"Ngomong-ngomong ... di sini bau sekali ... tapi ... aku mulai mencium 'bau persekongkolan'. Kau sebaiknya berhati-hati," Pria yang disebut walikota masuk ke kereta kuda dimana anak dan istrinya sudah menunggu, "Kecuali kau sudah tidak betah bekerja di Batavia!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Ação"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
