11

248 51 0
                                        

"Raden," seraya menyentuh dagu, "maaf ... bolehkah saya bertanya hal lain?" Kapten Frederik mengalihkan topik pembicaraan.

"Tentu saja, Tuan." Raden Bakti mempersilahkan. Dia pun tidak berani menolak untuk menjawab pertanyaan dari seorang serdadu Hindia Belanda.

"Eeee ... saya mau bertanya perihal guci."

"Guci? Ya, saya suka membuat guci." Lurah Bakti tersenyum lebar. "Anda menginginkan guci, saya ambilkan di gudang." Seraya menunjuk sebuah bangunan beratap ijuk dan berdinding anyaman bambu. "Saya masih memilikinya beberapa."

Frederik menggelengkan kepala. "Tidak ... tidak ... saya ke sini bukan untuk membeli guci."

"Saya memberikannya untuk Tuan, gratis." Gaya khas seorang pedagang yang melayani pelanggan tampak dari gestur Raden Bakti.

"Tidak, terima kasih. Lagipula, saya sudah memilikinya ... empat buah."

"Oo ... begitu. Lalu, apa yang ingin Anda tahu dari saya tentang guci?" Keheranan tampak di kening Lurah Bakti.

Kapten Frederik menyampaikan maksud pikirannya sambil berjalan pelan. "Saya hanya ingin tahu, bagaimana Raden membuat guci."

"O, mari saya tunjukan. Silakan berkunjung ke rumah saya." Lagi, Raden Bakti berusaha untuk bersikap ramah kepada tamunya.

"Ooo ... bukan itu maksud saya. Saya sudah tahu bagaimana cara membuat guci." Frederik mengangkat tangan sambil tersenyum. "Tapi, saya hanya ingin tahu bagaimana sebuah guci bisa berisi emas?"

"Maksud Tuan?" Dahi sang lurah berkerut. "Saya tidak paham?"

"Begini, Raden." Frederik berhenti melangkah. Dia menghadapkan tubuhnya hingga sejajar dengan Raden Bakti. "Beberapa hari lalu kita bertemu di Batavia dalam keadaan yang tidak biasa."

"Ya, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih pada Tuan karena telah menolong saya dari bandit itu."

"Sama-sama."

Raden Bakti ingin segera tahu arah pembicaraan dari Frederik. "Hubungannya dengan guci?"

"Saya menemukan guci berisi emas yang mengapung di sungai itu."

"Ah, mungkin itu hanya kebetulan." Raden Bakti tertawa renyah. Dia menyangkal berita dari Frederik

"Benarkah?"

"Tuan, guci yang saya buat bisa dengan mudah Anda peroleh di pasar. Lalu, ada seseorang menaruh emas di dalamnya. Mungkin."

"Kok bisa kebetulan ya. Tapi, para bandit yang menawan Raden kala itu bukan sedang mencari emas kan?"

"Mereka hanya orang yang salah paham. Mereka mengira saya menyembunyikan emas milik mereka. Mereka mengobrak-abrik rumah saya."

"Bahkan membakarnya?" Frederik sudah tahu peristiwa tempo hari yang menghebohkan Desa Pujasari.

Beberapa hari lalu, ada sekelompok orang yang datang ke Desa Pujasari. Mereka membakar rumah Lurah Bakti karena tidak bisa menemukan apa yang mereka cari. Bukan hanya itu, mereka pun menawan sang lurah hingga membawanya ke Batavia. Di sana, terjadi pergumulan. Untungnya, ada sepasukan serdadu yang menyelematkan orang-orang yang ditawan. Kapten Frederik memiliki andil dalam proses penyelamatan tersebut.

Lurah Bakti tidak menyangka jika kejadian di tempat terpencil seperti Desa Pujasari akan mudah diketahui oleh orang-orang di Batavia. "Ya, ternyata Tuan sudah tahu kejadiannya."

Frederik tersenyum. Senyuman penuh misteri.

"Saya sudah melupakan kejadian itu. Saya ingin menjalani hidup lebih tenang. Tanpa berurusan dengan orang-orang yang mencari harta karun."

Frederik menganggukkan kepala. "Ya, saya paham, Raden."

Ketika membicarakan perihal harta karun, Frederik mengerti maksud dari Lurah Bakti. Hal itu pula yang menjadi pertanyaan dalam benaknya selama ini. Lelaki Eropa itu menyimpan guci-guci berisi emas di rumahnya, dan mengira jika guci itu milik Raden Bakti.

Ternyata Raden Bakti menyangkal perkiraan demikian. "Kami hanya rakyat kecil, urusan hidup kami saja sudah terlalu pelik."

"Tapi, sayang sekali jika keinginan Raden itu belum bisa terwujud dalam waktu dekat."

Raden Bakti memicingkan mata sambil berucap, "maksudnya?"

"Anda masih harus berurusan dengan para pencari harta karun."

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang