Kapten Frederik kembali ke Ibu Kota ketika hari mulai gelap. Didapatinya, suasana kota lebih sibuk dari hari biasa. Ada wajah-wajah yang baru terlihat menginjakkan kaki di Batavia. Pada zaman itu, orang-orang masih mengenakan pakaian adat khas sehingga mudah untuk membedakan daerah asal. Jika ada orang asing maka sangat kontras dengan penduduk pribumi.
Biasanya ada kapal dagang yang baru berlabuh membawa barang dagangan, lelaki itu mempunyai kesimpulan demikian.
Sebelum kembali ke rumahnya, dia memeriksa kembali kondisi sungai yang sempat membuat geger warga kotapraja. Ketika sampai di pinggir sungai, didapatinya Walikota tengah berdiri tepat di turap yang berbatasan langsung dengan jalan raya. Pejabat Batavia itu sama-sama memeriksa kondisi Sungai Besar.
"Kapten, akhirnya kau datang juga," Walikota menyambut Kapten Frederik yang telah turun dari kuda.
"Maaf, Tuan. Saya sudah berkeliling desa-desa di sekitar sungai, untuk mencari tahu penyebab kenapa sungai menjadi bau."
"Aku pun mendengar laporan kepala desa yang ada di sana. Mereka tidak tahu penyebab domba dan kambing mati." Sang Walikota menghela nafas panjang. Dia hanya menunggu laporan tambahan dari Frederik, "bagaimana hasilnya?"
"Ada insiden kecil. Kematian ternak karena hewan buas ... tapi belum tahu hewan buas apa .... Bangkai-bangkai dibuang begitu saja ke sungai."
"Dasar manusia tak beradab!" Suara lelaki berkumis dan berjambang tebal itu pun berteriak demi memuntahkan amarah.
"Begitulah, Tuan."
"Hampir saja kita berdua dipecat. Tadi siang Gubernur menemuiku ... dia akan menggantiku jika tidak sanggup menyelesaikan masalah ini ...." Kedua tangannya memegang pagar besi yang terpasang tepat di atas turap.
"Tapi, sepertinya itu tidak akan terjadi, sungai kembali ramai oleh perahu yang lalu lalang."
"Ya ... ya ... aku berterima kasih kepadamu." Walikota menepuk pundak Frederik.
"Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan."
"Tadinya, aku berpikir jika ini hanya pekerjaan orang-orang yang iri padamu."
"Maksud Tuan?" Frederik mengerutkan dahi.
"Ya ... bisa saja bangkai itu sengaja dibuang ke sungai oleh mereka yang menginginkan kau dipecat ... kau tahu kan ... lalu lintas di sungai ini ramai ... ini lahan basah ...."
Kapten Frederik paham yang dimaksud walikota. Dia merasa tersindir.
"Mereka pikir, uang pajak itu masuk ke kantong kita ... itu uang Pemerintah." Sembari kembali mengisap cerutu favoritnya Walikota bicara agak gusar tanpa menyebutkan penyebab kegusarannya.
"Ah, sebaiknya kita lupakan saja kejadian ini. Saya sudah memberikan peringatan pada penduduk desa untuk tidak membuang bangkai ke sungai."
"Bagus ... tapi aku masih ragu jika bangkai itu diterkam hewan buas ...." Sang Walikota menawarkan cerutu kepada Frederik. Seorang ajudan mengeluarkan benda tersebut dari kantong jas kemudian menyalakannya. "Aku ragu, harus dipastikan bukan itu penyebabnya."
"Ya, semuanya belum jelas. Penduduk desa pun hanya menduga-duga karena tidak melihat langsung hewan pemangsa itu." Frederik mengarahkan pandangan ke seberang sungai. Dia tersenyum ketika memperhatikan sepasang muda-mudi yang bercengkrama di bawah pohon trembesi. "Mereka hanya bisa mengarang cerita, tanpa fakta."
Kedua orang itu merasa terhibur dengan kelakuan sepasang muda-mudi tersebut. Hal demikian menjadi pertanda jika Sungai Besar sudah kembali menjadi tempat yang nyaman untuk melepas penat. Tidak tercium lagi bau menyengat sebagaimana beberapa hari sebelumnya.
"Bukan hanya itu yang membuatku ragu." Sang Walikota menggelengkan kepala seraya meneruskan pembicaraan yang sempat terputus.
Frederik menoleh kepada orang di dekatnya. Menanti kalimat lain yang akan dikatakan.
Sang walikota menghisap kembali cerutu di tangan kanan. Asap pun tampak mengepul ketika cahaya lampu gas penerang jalan menyorot tepat ke wajahnya. Dia menoleh kepada Frederik kemudian berujar, "tapi ... dokter hewan sudah memeriksa bangkai-bangkai itu ... lukanya tidak cocok dengan tipe gigi hewan buas apapun ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
