"Siapa yang pertama kali tahu kalau domba-domba banyak yang mati?" tanya Lurah Bakti pada warga.
"Kami, Ki Lurah. Awalnya, kami berpikir jika Pranata bersembunyi di kandang domba. Makanya kami memeriksa kandang-kandang domba," seorang warga menjelaskan kenapa domba-domba ditemukan mati dalam waktu hampir bersamaan.
Kandang domba memang bisa menjadi tempat bersembunyi ketika anak-anak bermain petak umpet. Entah perasaan apa yang membawa seseorang di antara mereka untuk menengok tempat hewan ternak itu bernaung. Mereka mengira jika anak-anak seumur Pranata tidak akan berani bersembunyi hingga jauh dari perkampungan. Karena alasan itu pula semuanya fokus menyisir setiap jengkal kawasan perkampungan.
"Kami pikir itu hanya terjadi pada satu kandang, tetapi ternyata kandang yang lainnya juga," warga yang lain menimpali.
Raden Bakti dan beberapa warga berkerumun di sekitar kandang domba. Begitupula Panca dan Bajra yang enggan untuk melupakan begitu saja rasa penasaran dalam pikiran, berdiri tenang di sisi Ki Lurah.
"Ada yang memeriksa hingga tepi hutan?"
Semua warga menggelengkan kepala ketika ditanya oleh Ki Lurah.
Ki Lurah mengarahkan pandangan hingga ke tepian hutan. Dia memiliki banyak perkiraan. Kampung dekat hutan memang beresiko didatangi oleh makhluk-makhluk penghuni belantara rimba.
Kembali, perhatian tertuju kepada bangkai hewan yang seharusnya diperiksa. Di hadapan mereka menggelepar tiga ekor domba yang masih mengalirkan darah segar dari tenggorokannya.
"Kenapa semua domba terluka di bagian leher?" Raden Bakti membuka wacana.
"Apakah karena binatang buas?" seorang warga mengira-ngira.
"Sangat mungkin." Warga lainnya melontarkan tebakan.
Raden Bakti memutar otak, masalah anak hilang belum selesai. Datang lagi masalah baru, domba-domba mati mengenaskan tanpa sebab yang jelas. Raden Bakti memikirkan keadaan di sekeliling kampung. Makhluk seperti apa yang mengganggu ketenangan kampungku. Pikiran Raden Bakti melayang kemana-mana.
"Ki Lurah, sepertinya domba-domba ini diterkam harimau," seorang warga melontarkan pendapat.
"Atau, mungkin kucing hutan?" warga lain menimpali.
"Hmmm ... jika menilik lukanya ... domba-domba ini bukan diterkam harimau ...." Lurah Bakti berani memberikan penilaian setelah lentera didekatkan tepat ke sisi leher domba-domba yang telah mati.
"Apa bedanya, Ki Lurah?"
"Perhatikan, domba-domba ini hanya terluka di lehernya. Daging mereka tidak terkoyak. Harimau lapar biasanya memakan mangsanya hingga dia kenyang."
"Berarti mati oleh kucing hutan?" Si pemilik domba ingin segera tahu alasan kematian hewan ternak miliknya.
"Sepertinya ... bukan juga. Ukuran kucing hutan tidak lebih besar dari domba-domba ini. Mustahil domba ini tidak melawan."
Satu sama lain saling lirik. Masing-masing di antara mereka melontarkan pertanyaan dan pernyataan. Tidak ada jawaban yang memimuaskan.
"Ya, apalagi domba jantan sebesar ini." Tangan Raden Bakti memegang tanduk salah seekor bangkai. "Aneh rasanya jika tidak sanggup melawan kucing hutan."
Suasana hening sejenak. Malam ini suasana semakin mencekam. Tidak ada lagi suara-suara orang berteriak memanggil nama anak hilang itu. Para wanita berdiam diri di rumah menenangkan anak mereka yang mulai merengek karena ikut merasakan suasana yang mencekam. Apalagi, setelah tahu teman bermain mereka hilang dan ternak kesayangan mereka banyak yang mati secara mendadak ... dan mengherankan.
"Ki Lurah, saya punya saran," seorang pria membuka suara.
Lurah Bakti mendengarkan apa yang akan dikatakan si pemberi saran. "Saran apa?"
"Saran agar Ki Lurah percaya jika kelong wewe itu ada ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Ação"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
