48

160 37 1
                                        

Raden Panca dan Bajra masih terikat di tiang. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Ketakutan.

Bagaimana caranya bisa keluar dari sini?

"Raden, sampai kapan kita di sini?" Bajra bertanya lirih.

"Entahlah. Sepertinya mereka marah karena kita sudah berani mengganggu mereka," Panca pun hanya bisa menjawab dengan suara pelan. Anak itu tertunduk lesu.

Bajra dan Panca mulai kehilangan harapan. 

Gua itu hening kali ini. Tiga pria penghuni gua itu pergi ke bagian lain dari gua. Panca dan Bajra bisa melihat cahaya dari api yang sedang menyala. Apa yang sedang mereka kerjakan?

"Raden, sebenarnya mereka itu siapa ya? Apa yang sedang mereka kerjakan di sini?" Rasa ingin tahu Bajra yang besar bisa mengalihkan pikiran seakan lupa jika tengah dirundung kesulitan.

"Kalau dilihat-lihat, ini sebuah pertambangan. Mungkin pertambangan tua." Panca mengarahkan pandangan ke dinding gua dari keempat sisi. "Karena aku belum mendengar kabar kalau di sini ada pertambangan."

"Aku juga. Baru tahu."

"Mungkin ini tambang tua yang dibuka kembali. Tapi, mereka merahasiakannya."

"Pasti ada sesuatu yang berharga di sini. Mungkin ... emas ...."

"Mungkin saja. Itu juga jadi alasan kenapa mereka menebar teror pada desa-desa sekitar gua ini ...."

"Ya, aku mulai paham. Niat mereka hanya menakut-nakuti.  Karena, sesuatu yang sia-sia jika sekedar membunuh hewan ternak begitu saja."

"Lalu ... Pranata, di mana dia?"

"Mungkin sekali, dia ada di sini juga atau dibawa ke tempat lain."

Panca dan Bajra mengira-ngira ke manakah anak yang hilang itu dibawa pergi. Keduanya menegaskan kembali tujuannya meninggalkan Désa Pujasari hingga sampai ke hulu sungai. Dan, berakhir disekap oleh tiga lelaki asing.

Pranata, nama si anak hilang itu tidak terlihat tanda-tanda akan keberadaannya. Bahkan, sedikit petunjuk pun tidak ada. Hal yang mereka yakini saat ini jika pelaku pembunuhan hewan ternak di kampung adalah tiga orang yang mereka lihat saat ini.

"Tidak ada, anak yang kalian cari tidak ada di sini." tiba-tiba Si Jabrik memberikan jawaban, sepertinya dia mendengar percakapan para tawanan. Dia muncul dari lorong yang menghubungkan ruangan tempat Panca dan Bajra ditawan dengan ruangan tempat para pria itu bekerja.

"Kalian bawa ke mana Pranata?" Bajra menyelidik.

"Dia sudah aku bawa ke Batavia. Beberapa hari lalu. Tapi, saat ini ... entahlah. Mungkin dia sudah dibawa ke benua lain ...."

"Maksudnya?"

Si Jabrik tidak langsung menjawab pertanyaan Raden Panca. Dia hanya tersenyum sinis.

"Kalian tidak perlu tahu." Dari lorong datang seseorang, tapi bukan salah satu diantara tiga pria penghuni gua itu.

"Tuan Frederik ...," Panca dan Bajra terkaget-kaget dengan kehadiran pria bertubuh tinggi dan berkulit putih kecokelatan. Keduanya sudah mengenal orang yang dimaksud.

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang