Pratiwi melecut kencang kuda yang ditungganginya. Tanah yang kering terlihat melepaskan debu ketika kaki kuda menyapu dengan kuat. Orang-orang yang berada di pinggir jalan, mengarahkan pandangan pada kuda yang berlari itu. Sungguh pemandangan langka seorang gadis menunggang kuda, apalagi di tengah kota yang sudah terbiasa melihat perempuan bersepeda.
Pratiwi berangkat sejak langit masih gelap. Ketika tiba di Batavia, didapatinya jalanan yang ramai oleh orang-orang yang berkegiatan.
Aku harus sampai di tempat itu secepat mungkin.
Hatinya bertekad menjalankan rencana yang sudah dibicarakan sejak kemarin dengan Panca. Dia tahu, apa yang dilakukannya penuh resiko. Tetapi, dia harus bergerak sendiri tanpa mengandalkan orang lain. Demi menjaga rahasia.
Kenapa Panca ingin rencananya ini dirahasiakan?
Bahkan laju kuda berubah pelan, Pratiwi masih belum paham pada jalan pikiran saudara sepupunya itu. Dia tahu, kejadian yang menimpa desa Pujasari beberapa hari belakangan memang penuh teka-teki. Dan, untuk memecahkan teka-teki itu Pratiwi harus berbagi tugas dengan Panca dan Bajra.
Gadis itu harus melakukan perjalan ke Batavia demi satu tujuan.
Ada gadis menunggang kuda, begitulah pikir orang-orang yang menatap Pratiwi dengan tatapan tidak biasa. Tapi, Pratiwi tidak terlalu mempedulikan mereka. Matanya hanya peduli pada seseorang yang sedang dicarinya.
Setiap toko yang berjejer di pinggir jalan diperhatikan. Begitupun rumah makan atau pedati yang sedang terparkir di pinggir jalan. Berharap menemukan seseorang yang dicari.
Kudanya berjalan pelan, gontai. Si kuda kelelahan, tapi dia tahu urusan majikannya belum selesai, makanya dia tidak merengek meminta beristirahat.
Sepertinya, aku menemukan tempat yang dimaksud oleh Panca.
Sebuah kedai dan penginapan dua lantai. Setidaknya, itulah yang tertulis di papan nama menggunakan bahasa Melayu berdampingan dengan bahasa Cina yang tidak dimengerti oleh Pratiwi. Bangunan itu cocok dengan penggambaran yang disampaikan oleh Panca tempo hari.
Kebetulan, pintu kedai terbuka lebar. Mata Pratiwi pun memperhatikan sosok pria yang sedang tertawa terbahak-bahak di dalam rumah makan. Mereka duduk mengitari meja yang berhiaskan menu makanan yang tak terhitung jumlahnya.
Pratiwi turun dari kuda, tanpa menambatkan sang hewan tunggangan karena percaya tidak akan pergi ke mana-mana. Kebetulan di depan rumah makan itu tidak ada tempat untuk menambatkan kuda kecuali sebuah tiang lampu jalan yang belum dinyalakan. Dia hanya berjalan pelan kemudian melangkah mendekati bingkai pintu. Tercium bau harum masakan, kemungkinan berasal dari arah dapur yang terletak di bagian belakang bangunan.
Pratiwi sedikit takut. Kedai itu dipenuhi pria-pria berwajah beringas.
"Hei, cantik ... sini dong sama ...," seorang pria menggoda Pratiwi. Padahal gadis itu belum menginjak bagian dalam rumah makan.
"Ayo masuk, jangan berdiri terus di depan pintu," lelaki lain menimpali omongan kawannya.
Tapi sekelompok lelaki itu tidak meneruskan kalimatnya karena ada sesuatu yang mengalihkan perhatian.
"Hei dia anakku! Jangan kau goda, atau ...."
"Hahaha ...," pria penggoda itu hanya tertawa.
Ketika diingatkan oleh kawannya, orang yang tertawa keras itu pun mengatupkan mulut. Melihat lelaki yang berdiri di depan koridor menuju tangga, pengunjung kedai pun malah saling lirik. Ada karisma yang terpancar dari lelaki itu sehingga membuat semua pengunjung yang melihatnya jadi terdiam.
Pratiwi saling tatap dengan pria yang mengaku ayahnya tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Azione"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
