Malam itu Kapten Frederik sulit memejamkan mata. Dia tahu jika esok hari akan ada pekerjaan besar. Lelaki itu masih termenung di ruang kerjanya. Memikirkan banyak hal.
Bertahun-tahun dia mengabdi pada Pemerintah, baru kali ini dihadapkan pada kasus kematian hewan ternak yang serentak. Teringat kembali, bangkai-bangkai domba yang mengapung di sungai. Bagaimana bisa hewan ternak itu terapung di sungai dalam jumlah yang banyak?
Bukan hanya tentang kasus bangkai hewan yang membuat lelaki Eropa itu gelisah, tetapi masalah karir pun juga jadi bahan pikiran. Dia bertanggung jawab pada keamanan lalu lintas sungai. Tapi, kini terganggu oleh bau bangkai yang menyengat.
Para pejabat Batavia akan menganggap aku sebagai serdadu yang tidak becus bekerja.
Untuk menyegarkan pikiran dan mengurangi rasa kantuk, dia mencoba memejamkan mata dan berusaha untuk santai. Meskipun badannya sudah terlatih dalam menjalankan tugas berat, tetapi melalui hari tanpa istirahat juga bukan kebiasaan yang baik.
Kedua kaki pria itu diangkat ke atas meja. Dia merebahkan badan kemudian memejamkan mata, meskipun tahu sulit rasanya untuk bisa tertidur barang sekejap. Ternyata, masalah kesulitan tidur mulai menghantui akhir-akhir ini.
Frederik membayangkan masa kecilnya yang indah di negeri Belanda. Setengah sadar, pikiran kembali teringat akan masa dimana hidup terasa lebih bebas. Frederik Kecil adalah sosok anak yang memiliki jiwa petualang, sifatnya ini warisan dari sang kakek. Walaupun ayahnya tidak terlalu suka berpetualang, tetapi Frederik sudah menampakan kesukaan pada kegiatan demikian ketika masih hidup di peternakan sapi milik keluarga.
Di siang hari, seperti biasanya, dia menggembala sapi sambil mencari telur burung yang biasa mengeram di semak-semak. Saat malam tiba, Frederik kecil membuka begitu banyak buku koleksi keluarga. Mulai dari buku pertanian, sejarah, geografi bahkan peta-peta wilayah di dunia.
"Ahh ... aku ketiduran," dia terbangun dari tidurnya yang singkat.
Ternyata dia hanya memimpikan masa kecil. Tetapi, mimpi itu bisa menjadi petunjuk bagi kerisauan pikiran yang dirasakan. Ketika pikiran sadar sulit menemukan solusi dari suatu masalah maka pikiran bawah sadar bisa saja menuntun otak untuk menemukan pemecahan.
Seakan sebuah momen penting. Ada dorongan dari dalam diri untuk segera melakukan sesuatu.
Frederik bangkit dari kursi. Sorot matanya langsung tertuju pada satu titik.
Dia tidak menghiraukan suasana pagi nan terang. Cahaya pun masuk ke sela-sela gorden yang terpasang di jendela, membentuk garis-garis cahaya yang berujung di tembok putih. Hal demikian hanya membantunya untuk segera menemukan sesuatu.
Peta. Pikirannya teringat akan peta. Dia melihat peta dalam mimpi. Ya, sepertinya dia tahu harus memulai pekerjaannya dari mana.
Lelaki itu berjalan beberapa langkah untuk melihat peta yang terpampang di dinding ruang kerja. Frederik begitu antusias memperhatikan peta berbahan kanvas yang menggantung di sana.
Jari telunjuknya menunjuk garis berwarna biru di peta. Garis biru sebagai wakil dari gambar sungai. Jari pun terus maju, di sekitar sungai itu ada banyak desa. Besar kemungkinan bangkai domba itu berasal dari desa-desa di pinggir sungai.
Sejenak, perhatiannya teralihkan oleh suara orang yang mengetuk pintu. Tentu saja konsentrasi pun terpecah.
"Siapa?"
"Saya, Tuan. Mau melapor." Frederik mengenal tipe suara orang di luar ruangan.
"Ada laporan apa?" Frederik bertanya sambil membuka pintu.
"Bangkai domba itu bertambah banyak ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
