Malam begitu larut, bahkan bisa dikatakan sudah masuk dini hari. Panca dan Bajra mulai kelelahan mencari asal bayangan itu.
Untuk melepas lelah, mereka duduk-duduk di atas hamparan batu besar. Sambil mengisi waktu, mereka melaksanakan sholat Isya. Di antara mereka tidak ada penghalang dengan alam sekelilingnya.
Sunyi.
Serangga dan hewan malam lainnya enggan mengganggu mereka yang sedang khusyu'. Walaupun sesekali terdengar lolongan anjing di hutan atau suara burung hantu yang menghiasi malam. Si Pandu pun nyenyak dengan tidurnya di atas dahan pohon.
Ketika mereka selesai sholat, sesekali melihat ke sekeliling. Dua anak remaja itu berharap ada petunjuk untuk kembali meyakinkan akan tujuan mereka berjalan di pinggir hutan saat malam semakin pekat.
"Raden, kau yakin kita akan menuju Gua Kelelawar?" Bajra meminta pertimbangan Raden Panca.
"Ya, tentu saja."
"Kau belum pernah ke sana kan?"
"Belum pernah." Panca menggelengkan kepala. "Tapi, kita harus mencoba dahulu mencari ke sana."
"Kalau apa yang kita cari tidak ada?"
"Kita pulang saja."
Bajra memperlihatkan keraguan akan apa yang dibicarakan oleh Panca. "Raden, kalau kita tahu bayangan itu bukan makhluk hidup. Ya, anggap saja dia hanya layang-layang berbentuk kelelawar, kenapa kita harus mencari ke Gua Kelelawar?"
"Begini Bajra, seperti yang sering kau bicarakan. Semua kejadian yang dialami desa kita sejak kemarin, penuh dengan sesuatu yang meragukan."
"Dan kita sudah punya sedikit jawaban atas keraguan itu. Bayangan itu bukan makhluk hidup." Bajra menatap Panca dengan mimik wajah penuh keyakinan.
"Berarti benda melayang itu dibuat hanya untuk menakut-nakuti warga desa?"
"Ya, aku setuju dengan pendapatmu." Bajra kembali mengangguk sembari mengatupkan bibir. "Heuhh!" Seraya memukulkan tangan ke betis.
Panca tertegun. "Aku merasa ada hubungan antara ketakutan yang sengaja disebarkan dengan desas-desus yang beredar tentang kelong wewe."
"Dia datang ke desa hanya untuk meyakinkan warga bahwa kelong wewe itu ada. Padahal ...."
"Itu hanya desas-desus yang sengaja dibuat. Tapi untuk apa ketakutan itu disebar?"
"Aku rasa ada hubungannya dengan dengan Gua Kelelawar itu."
"Seakan kelong wewe itu bersarang di sana."
"Dan ... tidak ada yang boleh datang ke sana."
"Karena dianggap berbahaya ...."
Mereka berdua diam sejenak. Keduanya memikirkan segala hal yang pernah dilihatnya beberapa hari terakhir. Domba yang diterkam oleh sosok yang tak kasat mata. Kedatangan petugas keamanan dari Batavia, dan kabar jika bangkai hewan mengotori sungai. Wajah mereka menampakan senyuman tanda kegembiraan. Satu sama lain saling tatap.
Panca menetapkan maksud dan tujuan keberadaan di tengah hutan kala malam, "sekarang kita harus mencari tahu, ada apa di sana?"
"Sehingga harus diciptakan kesan jika Gua Kelelawar itu menyeramkan ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Acción"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
