Malam ini Kapten Frederik belum bisa beristirahat. Pintu di ruang kerjanya ada yang mengetuk.
"Siapa?" Dia bertanya dengan suara keras, menggema di tembok ruangan tebal tanpa hiasan.
"Saya, Tuan. Mau melapor."
"Besok saja," Kapten Frederik tahu itu suara anak buahnya. Dia sedikit gusar ketika waktu istirahatnya terganggu.
"Tidak bisa, Tuan. Sepertinya Tuan harus tahu sekarang juga."
Pernyataan dari si anak buah membuat Frederik berpikir ulang. "Ah, awas kalau laporanmu tidak penting. Akan kupenggal kepalamu!" Kapten Frederik bisa benar-benar marah andaikan seorang prajurit bekerja serampangan. Namun, terkadang dia harus mengakui jika sesekali kinerja serdadu berkulit sawo matang bisa diandalkan.
"Saya berani bertaruh, Tuan."
Kapten Frederik tidak bisa menyangkal keseriusan anak buahnya. Masalah apa sampai-sampai dia berani bertaruh nyawa denganku.
"Ada apa?" Kapten Frederik membuka pintu sambil bertanya dengan nada membentak. Mata lelaki itu membelalak, kumis tipisnya sedikit terangkat dan tampak bergerak-gerak seperti seekor ulat.
"Dokter Hewan ditemukan tewas di sungai ...," setengah berbisik anak buah Frederik memberikan laporan.
Kedua orang itu saling tatap. Beberapa detik, tidak ada pembicaraan diantara mereka. Satu sama lain saling tahu apa makna dari berita yang terdengar.
Frederik pun agak ragu dengan apa yang didengar. "Kau serius?"
"Iya, Tuan. Saya mengenalinya."
"Dia masih di sungai?"
"Tergeletak di pinggir sungai. Tidak ada yang berani menyentuhnya sebelum Anda tiba."
Wajah Kapten Frederik menampakan kekagetan. Dia menghela nafas panjang.
"Baiklah, ikuti aku!" Kapten Frederik pun berjalan cepat menuju tempat kudanya ditambatkan.
Dia dan anak buahnya berkuda dengan kecepatan tinggi. Dia begitu penasaran ingin melihat jenazah Dokter Hewan sebagaimana diberitakan. Dia memikirkan banyak kemungkinan, perkiraan, terkaan, bahkan menaruh curiga kepada banyak orang. Walaupun semua itu perlu pembuktian. Sepanjang perjalanan, dia pun memikirkan banyak nama orang. Sebagai petugas keamanan di Batavia, lelaki itu mengantongi banyak nama orang-orang yang layak untuk dijadikan tersangka.
Sesampainya di pinggir sungai, matanya langsung tertuju pada kerumunan warga dan beberapa serdadu. Mereka mengelilingi sosok yang tergeletak di pinggir sungai, di tengah kegelapan.
"Siapa yang pertama kali menemukan?"
"Saya, Tuan. Jenazah ini tergeletak di pinggir sungai. Tertabrak oleh sampan saya ketika saya mau menepi," seorang pria memberikan kesaksian.
"Kamu menyentuhnya?"
"Tidak, tuan. Saya tidak berani."
Kapten Frederik menatap sosok yang berbaring di atas pasir berbatu dengan wajah menghadap ke atas. Kakinya basah bersentuhan dengan air. Tubuhnya yang tambun memperjelas siapa dia.
"Angkat dia! Jauhkan dari air! " Kapten Frederik memberi perintah.
Sambil menyaksikan anak buahnya mengangkat jenazah itu, matanya terus melihat ke sekeliling. Dia masih teringat dengan bangkai-bangkai ternak yang mengapung di sungai ini. Tepat di titik ini Dokter Hewan memeriksa bangkai-bangkai itu. Di titik ini pula dia ditemukan tewas.
"Tubuhnya masih hangat. Dia pasti baru dibuang ke sini."
"Lukanya parah, Kapten."
Jantung Frederik berdegup lebih kencang ketika melihat leher Dokter Hewan terluka seperti disayat benda tajam.
Dia tidak memperdulikan suara-suara orang yang memperbincangkan penemuan mayat itu. Batavia masih disesaki oleh warga yang mengisi waktu luang kala malam. Untungnya, para polisi sigap mengamankan kerumunan.
Namun, ada pengecualian. Frederik harus segera menanggapi orang yang satu ini. "Selamat malam, Kapten," dari arah belakang terdengar suara yang familiar.
Walikota, kenapa dia selalu datang saat aku sedang berada di sini dan dalam situasi begini.
"Selamat malam, Tuan."
"Berita mudah tersebar, Kapten. Makanya aku datang ke sini untuk memastikan," Walikota pun membuka percakapan.
"Terima kasih sudah berkenan untuk datang."
"Ini sudah menjadi tugasku. Sungguh mengagetkanku." Sang walikota pun menatap jenazah yang telah tertutup kain. "Tadi pagi dia bersama kita di sini."
"Ajal, tidak ada yang tahu kapan datangnya."
"Kapten, apakah menurutmu ini aneh?"
"Maksud Tuan?"
"Kejadiannya serba kebetulan ... atau ... berhubungan ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Aksi"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
