44

161 35 0
                                        

"Baiklah, anak-anak ... aku hanya mau bertanya, sedang apa kalian di sini?" Si Jabrik bertanya dengan nada seakan mengenal Panca dan Bajra.

"Kami ...," Bajra mencoba menjawab.

"Kami hanya sedang bermain ... ya ... hanya sedang bermain ...,"  Panca segera memotong jawaban Bajra.

"Betulkah?"

"Ya, Paman. Kami tidak bohong," Bajra menjawab dengan wajah memelas.

"Oh, aku tidak menuduh kalian berbohong ... aku percaya kalian hanya bermain, tapi ... kalian salah tempat bermain."

Si Plontos dan Si Pria Besar hanya tersenyum melihat wajah kedua remaja itu begitu ketakutan. Mereka berdua mendekat, sangat dekat. Bau mulut mereka jelas tercium.

"Kalau kalian bermain, permainan apa hingga sampai ke gua penuh kelelawar seperti di sini?" Si Plontos terdengar mengancam.

"Eee ...."

"Kalian mau mencuri?" Si Pria Besar menuduh.

"Tidak, Paman. Kami tidak tahu jika ada orang di sini."

Suasana hening sejenak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana hening sejenak. Ketiga pria itu tidak mau terburu-buru untuk mendapatkan jawaban memuaskan dari dua remaja yang sedang diinterogasi. Mereka bertiga begitu menikmati momen seakan seekor harimau senang mempermainkan mangsa hasil buruan yang tengah meregang nyawa.

"Kau tahu, orang yang masuk ke sini ... tidak bisa keluar lagi," Si Jabrik memberitahu dengan nada ancaman.

"Tolong ... Paman. Kami ingin pulang. Kami ... kami ...," Bajra memelas dan hampir menangis.

"Kalian boleh pulang. Tapi ... pulang ke alam baka ...."

"Hahahaha!!" Si Pria Besar dan Si Plontos tertawa mengejek. Suara tawa menggema ketika gelombang suara memantul dengan dinding berbatu.

"Sebetulnya, aku ingin menghabisi kalian sekarang juga, tapi, sayang aku belum sarapan pagi. Tenagaku belum cukup kuat untuk memotong-motong tubuh kalian ...."

Bajra mulai tersedu-sedu, menangis. Dia ketakutan dengan ancaman tiga lelaki penghuni gua. Mereka bukan sedang bermain-main, Bajra tahu itu.

"Atau, kubunuh kalian dengan perlahan ... bagaimana?" Si Jabrik seakan memberi pilihan.

Panca dan Bajra semakin gemetar mendengar ancaman itu. Mereka berdua belum siap pada resiko demikian.

Tiga pria itu meninggalkan Panca dan Bajra, mereka berjalan ke arah ceruk di dinding. Ceruk itu lebih gelap, berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan barang dan makanan. Apabila tubuh seseorang kecil, cukup pula untuk digunakan sebagai tempat tidur.

"Ini, aku bawakan kalian makanan ...," Si Jabrik pun mendekat membawa sembari sepotong singkong rebus. Sebagian telah masuk ke mulut dan dikunyah sebagai sarapan pagi. "Ayo makan ...!"

Bajra membuka mulutnya ketika Si Jabrik menyodorkan singkong rebus itu.  Tapi, tangan Si Jabrik malah menjauh dari mulut Bajra, hanya lelucon.

"Hahaha ... kau benar-benar lapar ...," Si Jabrik malah memasukan makanan itu ke dalam mulutnya. Menyelesaikan sarapan.

Si Jabrik mengangkat tangan kiri, menunjukan sesuatu yang luput dari pandangan Panca dan Bajra. Benda mengkilat yang menempel di tangan kiri Si Jabrik. Apa itu?

"Kalian tahu apa ini? ... Lihatlah, benda ini lebih mudah untuk menggorok leher kalian ... karena benda ini melengkung sehingga bisa mengait di leher ... seperti cakar harimau ... oh bukan ... cakar kelelawar raksasa ... hahaha ...."

Bajra dan Raden Panca semakin takut bercampur kaget melihat benda tajam di tangan Si Jabrik. Seperti  tiga pisau yang melengkung dalam satu genggaman. Benda itu sebentuk senjata mematikan, yang belum pernah dilihat dua remaja itu. Benda yang sulit terlepas dari tangan karena diikatkan ke pergelangan hingga sikut si penggunanya.

"Jadi ... kalian yang sudah membunuh ternak-ternak di desa kami ...?" Bajra bertanya sekaligus menyimpulkan.

"Haha ... kalian anak pintar."

"Kami pikir, ternak-ternak itu ...."

"Apa? Diterkam kelong wewe? Hahaha ... dasar orang kampung!" Si Jabrik merasa lucu dengan mimik wajah anak bertubuh gemuk.

"Tapi, buat apa kalian membunuh ternak-ternak kami?"

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang