13

228 50 3
                                        

Siang itu, bahkan hingga sore hari tiba, penduduk Desa Pujasari membicarakan topik pembicaraan yang hampir sama, kelong wewe.  Tentu saja, semua berawal dari kesimpulan Kapten Frederik jika domba-domba milik mereka mati karena darahnya dihisap.

Makhluk seperti apa kelong wewe itu?

"Dia itu seperti kelelawar, tapi ukurannya jauh lebih besar. Sebesar manusia," seorang warga bercerita dengan penuh semangat di hadapan anak-anak dan remaja, termasuk Panca dan kawan-kawannya.

"Paman pernah melihatnya?" Bajra menyela.

"Sayang sekali, Paman hanya melihat bayangannya saja. Itu pun, duluuuuu sekali. Ketika Paman masih kecil." Orang yang bicara memberi isyarat dengan tangan kanan yang terangkat. Dia berusaha meyakinkan orang yang memperhatikan pembicaraannya. Terlebih, dia bicara di depan kerumunan anak-anak. Mata mereka yang berbinar malah menambah semngat si Paman untuk bercerita.

Bajra memberikan pertanyaan yang cukup menyelidik, "Paman melihatnya dari mana?"

"Di depan pintu rumah. Untung saja Paman sudah masuk rumah. Kalau tidak, entahlah ...." Lelaki berbaju pangsi itu menggelengkan kepala. Antara mensyukuri nasib yang baik-baik saja dan menyesal karena tidak bisa melihat kelong wewe dari dekat.

"Kalau hanya melihat bayangannya saja ...."

"Tentu saja hanya bayangannya saja, karena dia datang waktu malam tiba. Sulit untuk melihat wujud aslinya." Si Paman merasa tersinggung karena Bajra terdengar menyangsikan ceritanya.

Panca mendelik.

Bajra mengerti isyarat mata dari kawannya. Pada akhirnya, cerita yang disampaikan oleh seorang warga tersebut hanyalah mengundang ketakutan bagi anak-anak. Sedangkan bagi Bajra, cerita demikian semakin mengundang begitu banyak tanya yang semula tidak ada di benaknya. Apakah cerita dari paman ini bisa dipercaya?

Suasana hening sejenak, anak-anak terpana dengan cerita itu.

Bagi sebagian anak cerita demikian terdengar luar biasa. Walaupun bagi sebagian lagi terdengar menakutkan. Bahkan, ada diantaranya yang hampir menangis.

Satu sama lain saling lirik. Ada yang bergidik, tidak sedikit pula yang memegangi tangan orang di dekatnya. Wajar saja jika mereka ketakutan. Perkampungan di kaki gunung memang dekat dengan hal-hal yang menakutkan. Hewan buas tidak jarang mengunjungi Desa Pujasari. Tentu saja, kejadian akhir-akhir ini menambah ketakutan yang sudah ada sebelumnya.  

Ketika tidak ada lagi yang bicara,  Panca teringat pada gua tempat kelelawar bersarang, sebagaimana yang diceritakan ayahnya. "Paman, dia itu bersarang dimana ya?"

"Paman sih tidak tahu, tapi kemungkinan besar dia bersarang di gua-gua. Atau, di hutan belantara sana."

"Paman, jika kelong wewe  itu tidak ke perkampungan, mereka makan apa ya?" Panca berpikir jika kelong wewe sama saja sebagaimana kelelawar yang biasa ditemuinya berkeliaran di sekitar pohon ketika musim berbuah.

"Mungkin ... binatang-binatang kecil yang ada di sana. Seperti monyet atau babi hutan." Si Paman menjawab sekenanya.

"Kenapa mereka datang ke perkampungan ya?"

"Mungkin di hutan sudah tidak ada makanan," seorang anak menerka jawaban pertanyaan Bajra.

Semua orang yang mendengar memikirkan hal yang sama. Kemungkinan penyebab makhluk bernama kelong wewe bisa berkeliaran di perkampungan. Panca dan Bajra pun saling pandang. Muncul banyak pertanyaan di benak kedua remaja itu. Hanya saja, mereka menyimpannya untuk perbincangan di lain waktu.

Suasana kembali hening, sepertinya semua anak memikirkan hal yang sama. Namun, mereka tidak mau menduga-duga. Ada salah seorang anak gadis berusia delapan tahun yang mulai bisa menarik sebuah kesimpulan.

Dia pun bertanya dengan polos, "Paman, apakah Pranata juga dimangsa kelong wewe?"

Panca dan Misteri Gua KelelawarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang