"Lihat di atas!" Raden Panca menunjukan sesuatu yang melayang di atas pepohonan.
"Ternyata dia besar ju ... ga ...," Bajra ketakutan.
Panca tahu jika Bajra merasa ketakutan. Tubuh anak gempal itu seakan membeku; berdiri mematung tepat di dekat batang pohon. Wajar saja jika reaksi Bajra demikian karena ukuran bayangan yang melayang di langit malam kali ini tampak berbeda. Terlihat lebih besar dari terakhir kali Bajra melihatnya. Apakah dia makhluk yang berbeda dengan sebelumnya?
Ssrruukk ...
Suara udara beradu dengan bayangan itu semakin terdengar jelas. Dia dekat sekali.
"Ayo sembunyi!" Panca menarik tangan Bajra untuk membawanya ke balik pohon besar yang kokoh berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Si Pandu mana?" Bajra teringat pada sahabat kecilnya itu.
"Dia di atas dahan pohon, mungkin ketakutan. Sama dengan kamu."
"Memangnya kau tidak takut, Raden?" Suara Bajra terdengar bergetar.
"Kita lawan ketakutan itu."
Ajakan untuk melawan ketakutan hanya keluar dari mulut. Pada kenyataannya, rasa takut itu datang mendekat kemudian berpengaruh kepada jiwa. Hal wajar jika dua anak remaja yang tidak punya pengalaman diharuskan menghadapi sesuatu yang terasa asing dan misterius.
Bayangan itu masih melayang-layang di angkasa. Dan, tidak terbang menjauh dari mereka.
Kedua anak remaja itu menunggu hingga semenit, dua menit bahkan kira-kira sepuluh menit telah berlalu tetapi tidak ada yang berubah dari cara bayangan itu terbang. Kedua anak itu saling tatap. Satu sama lain seakan memperoleh kesimpulan yang sama atas pemandangan di pelupuk mata.
"Bajra, perhatikan. Dia hanya terbang melayang-layang di tempat yang sama," tangannya menunjuk ke arah bayangan itu.
"Ya, seperti elang. Hanya melayang-layang. Tidak hinggap di pepohonan."
Sekira satu menit kedua anak remaja itu mendongak. Penasaran, ketakutan, dan sedikit keraguan bercampur.
"Atau ... seperti layang-layang ...?" Raden Panca menduga setelah pikirannya bisa kembali bekerja.
"Layang-layang?"
"Ya, coba kau perhatikan. Sayapnya tidak mengepak layaknya kelelawar ...."
"Sayapnya ... kaku ...," Bajra pun menyimpulkan.
Bajra dan Raden Panca saling pandang. Entah kenapa, rasa takut mereka perlahan hilang.
"He ... he ... apakah kau memikirkan seperti apa yang kupikirkan?" Panca menyeringai tanda senang yang menggantikan ketakutan.
"... Bayangan itu hanya layang-layang ...."
"Ya, dia bukan kelong wewe tapi hanya layang-layang yang digerakan oleh seseorang."
"Tapi, siapa? Dari mana? Kenapa ada orang yang melakukan itu?" Bajra memberondong kawannya dengan banyak pertanyaan.
"Itu yang harus kita cari tahu."
"Kalau begitu, ayo kita cari!" Ketakutan Bajra berubah menjadi rasa penasaran yang semakin besar.
Tetapi, Panca memegang tangan Bajra. "Tunggu dulu, siapa tahu dia bersenjata. Tidak usah gegabah." Panca menahan sang sahabat untuk tidak berjalan menjauh. "Kita perhatikan saja dulu bayangan ... eu ... layang-layang itu turun dulu ...."
Hutan di sana memang gelap. Tetapi remang-remang cahaya rembulan di langit bisa membantu penglihatan untuk membedakan antara kanopi pepohonan dengan bayangan yang bergerak-gerak ke segala arah.
Mereka pun menunggu cukup lama hingga benda yang melayang-layang itu lenyap dari pandangan.
"Raden, dia mengarah ke arah sana." Bajra memperhatikan arah benda melayang itu pergi.
"Itu ke arah sungai ... hulu sungai ...."
"Dia tidak pergi ke hutan."
"Ke hulu sungai ... atau ke ... gua kelelawar ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Acción"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
