Tembang kematian telah didendangkan oleh sepasukan serdadu yang bermaksud menjemput Kapten Frederik. Letupan senjata terhenti ketika empat pria penghuni goa tergeletak tak bernyawa. Darah mengalir dari tubuh mereka ....
Suasana pun mencekam.
Mata para serdadu itu masih terpaku pada mayat-mayat yang bergelimpangan. Mereka harus memastikan jika para penghuni goa itu sudah tidak bernyawa.
Si Pemimpin pasukan berjalan ke arah mayat Kapten Frederik. Wajah mayat itu sungguh mengerikan. Matanya melotot menyiratkan kekagetan. Seakan tak percaya pada apa yang terjadi pada dirinya.
Luka yang sama dengan luka di leher Dokter Hewan. Si Pemimpin pasukan teringat sesuatu hal penting yang berkaitan dengan rentetan kejadian yang disaksikannya. Juga, sama dengan luka yang terjadi pada leher bangkai-bangkai ternak itu.
Ternyata, luka-luka itu berasal dari sumber yang sama. Dari sebuah senjata, milik pria berambut panjang ini, Si Jabrik.
Pikiran Si Pemimpin pasukan bisa menyimpulkan dari bukti-bukti yang dikumpulkannya. Dia memegang pisau bermata tiga itu yang telah berlumuran darah. Senjata itu dipegang erat oleh Si Jabrik, seakan sudah menjadi bagian dari tubuhnya.
Pertanyaan besar timbul dari dalam hatinya, untuk apa Kapten Frederik melakukan ini semua?
Dia mengarahkan pandangan pada sebuah tebing yang tampak jauh dari tempat mayat-mayat itu bergelimpangan. Permukaan tebing berbatu itu tampak tinggi jika dibandingkan dengan bentang alam sekitarnya. Tidak terlalu jelas terlihat bagaimana rupa tebing karena tertutup tumbuhan yang menjalar. Tapi, dia yakin ada sesuatu di sana.
"Kubur tiga orang ini!" Si Pemimpin memberi perintah pada anak buahnya.
"Bagaimana dengan Kapten Frederik?"
"Kita bawa ke markas."
"Baik, Letnan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
