Braakk!
Pukulan Raden Aditama meleset, malah mendarat di dinding yang terbuat dari papan kayu. Papan itu terbelah.
"Heeppp!" Si Pria Tua mengelak. Kaki kanannya menerjang bagian perut Raden Aditama, meskipun masih bisa ditahan.
Lagi, tangan kanan Raden Aditama terarah pada wajah Si Pria Tua. Tapi ... kepalan tangan itu malah mendarat di guci yang dibawa Si Pria Tua.
Praak!
Guci itu pecah, berantakan dan terjatuh berserakan. Tapi tidak dengan isi di dalamnya. Ada sesuatu berbentuk sama dengan guci ... seperti emas.
Emas berbentuk guci terjatuh menggelinding di lantai.
"Hah ... benda apa itu? Kau dapat darimana?"
"Hei sudah kukatakan, bukan urusanmu."
Raden Aditama meraih baju Si Pria Tua. Dia mendorong orang itu hingga mendekati bingkai jendela. "Aku tahu benda apa itu? Asal kau tahu, aku dari Desa Pujasari ... sumber benda itu berawal ...."
"Eeee ... aku tak tahu ...."
Sebelah mata Aditama memperhatikan warga yang sedang lalu-lalang di jalan raya. Sebagian dari mereka melihat sang pemilik penginapan yang tengah berkelahi dengan pelanggannya. Menyadari itu, Aditama pun menarik tubuh Si Pria Tua agar tidak terlihat oleh penghuni dan pengunjung kawasan Pecinan.
Berbahaya jika orang-orang itu mengepungku.
Aditama tidak ingin ada keributan di sana. Si Pria Tua pun tidak berniat untuk berteriak minta tolong.
"Kau jangan bohong padaku!" Sekali lagi Aditama mempertegas warta yang ingin didengarnya. "Dari mana emas ini?" Raden Aditama memperkuat cengkeramannya.
"Eee ... dia tidak punya nama ... Si Jabrik ... begitu dia dipanggil."
"Hei ... di Batavia ini banyak orang jabrik ...."
"Saya benar-benar tidak tahu ...," Si Pria Tua bicara dengan nada bergetar. "Dia hanya menitipkan anak-anak kecil di penginapan ini untuk beberapa malam."
"Dan kau dibayar dengan emas sebesar itu?"
Si Pria Tua menganggukkan kepala. Rona wajahnya mengisyaratkan ketakutan. Karena itu ia berusaha mengajukan perdamaian.
"Rencana apa yang akan kalian lakukan? Sampai-sampai kau dibayar semahal itu?"
"Saya tidak tahu. Dia hanya menyuruh saya menjaga anak-anak itu."
Aditama membutuhkan keterangan tambahan, "Kemana anak-anak itu sekarang?"
Si Pria Tua menggelengkan kepala.
"Jangan bohong!"
Si Pria Tua semakin ketakutan. Matanya melirik emas berbentuk guci yang menggelinding di lantai. Sambil tersenyum.
Aditama bisa membaca maksud dari senyuman sang pemilik penginapan.
"Apa? Kau mau menyuapku?"
"Tuan, saya minta ampun. Kita bisa membicarakan ini baik-baik."
Aditama menggelengkan kepala. "Aku tidak tertarik dengan emas itu. Karena ... aku punya lebih banyak ...."
Si Pria Tua tersenyum, merasa malu.
Aditama berkacak pinggang setelah melepaskan cengkeraman. Dia mengatur nafas yang tersengal karena amarah yang tak terkendali. Tidak mungkin mengorek keterangan dari orang ini jika harus menggunakan kekerasan.
Tampaknya ketakutan Si Pria Tua mereda. Dia berjongkok untuk meraih emas berbentuk guci yang tergeletak di lantai. Matanya tertuju ke lantai. Namun, dalam satu garis pandang dia melihat seseorang yang tengah berdiri.
"Mereka dibawa ke pelabuhan," seorang gadis berbaju cheongsam berbicara tanpa diminta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Misteri Gua Kelelawar
Action"Ki Lurah, anak saya hilang!" teriak seorang lelaki di beranda rumah. "Bukannya tadi main dengan anak-anak yang lain?" "Tidak ada. Coba perhatikan." "Ya, Ayah. Pranata tidak ada ...," Raden Darma pun berlari ke arah rumahnya sembari menunjukan wajah...
